Mabur.co – Arisan umumnya merupakan kegiatan kumpul antar emak-emak (ibu rumah tangga) yang bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi, menabung secara bergilir, sekaligus ajang bersosialisasi antar-sesama anggota, dan seterusnya.
Namun dengan perkembangan emak-emak dari generasi ke generasi, terlebih di era sekarang, selalu ada saja “hal-hal licik” yang dilakukan oleh oknum emak-emak tertentu, untuk dapat mengambil keuntungan tersendiri dari program arisan yang diadakan di lingkungannya.
Akibatnya, terjadilah praktik korupsi “kecil-kecilan” yang dilakukan oleh oknum emak-emak tersebut, yang biasanya memiliki power atau kewenangan yang lebih tinggi dari emak-emak lainnya.
Lambat laun, ketika praktik korupsi yang bersifat kecil itu dibiarkan begitu saja, bahkan tidak disadari sedikit pun oleh anggota-anggota lainnya, maka yang terjadi di kemudian hari adalah penyelewengan secara menyeluruh.
Anehnya justru dilazimkan begitu saja oleh semua orang, seolah menganggap bahwa hal-hal semacam itu sudah biasa terjadi di lingkungan mereka, dan seterusnya.
Adapun beberapa contoh praktik korupsi yang terjadi dalam kegiatan arisan meliputi penyelewengan dana kas, manipulasi giliran, hingga penggunaan uang sosial secara tidak sah.
Hal itu biasanya terjadi akibat minimnya transparansi, kepercayaan yang terlalu berlebihan terhadap orang lain (sehingga tidak diawasi secara ketat), serta lemahnya sanksi sosial yang diberikan kepada pelaku, sehingga membuat ia masih bisa melakukan berbagai penyelewengan dengan leluasa.
Singkat kata, ketika ada kekuasaan atau power dari orang-orang tertentu (biasa disebut “ketua geng”) yang tampak tidak bisa diganggu gugat, maka di situlah peluang terjadinya korupsi dalam kegiatan arisan akan menjadi lebih besar. Karena kekuasaannya akan mulai digunakan untuk hal-hal yang tidak semestinya, termasuk untuk memperkaya diri sendiri, dan sebagainya.
Cara Mencegah dan Mengatasi
Untuk dapat mengatasi sekaligus mencegah terjadinya praktik korupsi dalam kegiatan arisan di kalangan emak-emak, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah semuanya harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu.
Karena diri sendirilah yang memicu awal mula penyelewengan demi penyelewengan yang terjadi dalam arisan, yang kemudian berimbas hingga ke seluruh anggota lain di dalam kelompok arisan tersebut.
Dilansir dari laman BKKBN, Minggu (26/7/2026), berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan, untuk dapat mengatasi serta mencegah praktik penyelewengan atau korupsi, yang berpotensi muncul dalam setiap kegiatan arisan.
1. Pentingnya Transparansi Keuangan
Praktik korupsi dalam arisan umumnya terjadi ketika minim atau bahkan tidak ada transparansi keuangan secara terbuka di kalangan anggota. Untuk itu, sangat penting untuk selalu mencatat setiap aliran uang yang masuk ke dalam buku kas, dan selalu dibacakan dalam setiap pertemuan.
Selain itu, sosok yang mengelola uang (bendahara) juga haruslah orang yang terpercaya, dan tidak memiliki catatan buruk terkait pengelolaan uang di masa lalu, dan seterusnya. Bisa juga dengan memasukkan uang tersebut ke rekening bersama, agar tidak disalahgunakan oleh bendahara yang bersangkutan.
Pengundian dan penyerahan uang juga harus dilakukan secara transparan dan terbuka di hadapan seluruh anggota. Sehingga tidak ada selisih atau sisa yang tertinggal sedikit pun, yang kemudian menjadi celah untuk dikorupsi, dan sebagainya.
2. Budayakan Kesederhanaan
Penting juga untuk membudayakan kesederhanaan dalam melaksanakan kegiatan arisan. Hentikan kebiasaan memamerkan barang-barang mewah atau harta secara berlebihan saat berkumpul.
Lalu batasi jumlah iuran (disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anggota), sehingga tidak ada semacam kesenjangan yang terjadi, antara mereka yang berduit, dan mereka yang kurang berduit, dan sebagainya.
Dan selayaknya esensi utama arisan, yakni untuk ajang berkumpul dan bersilaturahmi, maka dianjurkan untuk tidak membuat kegaduhan atau hal-hal yang dapat memperkeruh suasana, seperti pamer-pamer, atau diam-diam melakukan pencucian uang, dan seterusnya.
3. Melatih Integritas
Secara tidak langsung, kegiatan arisan adalah praktik yang sangat efektif untuk melatih integritas setiap anggota di dalamnya.
Karena dari sana akan terlihat, mana yang benar-benar jujur, hanya sekadar main-main (hanya ingin pamer dan lain-lain), niatnya ingin mencuri atau mengambil keuntungan tersendiri, atau plonga-plongo tidak mengerti apa-apa (hanya ikut-ikutan), dan sebagainya.
Jika beberapa orang tidak memiliki visi yang sama, akan sulit untuk mencapai integritas secara menyeluruh, karena masing-masing orang datang dengan motif dan tujuannya masing-masing.
***
Hadirnya praktik korupsi dalam kegiatan arisan adalah salah satu pertanda, bahwa memang korupsi itu tidak hanya terjadi di kalangan pejabat saja, tapi juga sudah menjalar hingga ke tingkatan terbawah, yakni di lingkungan masyarakat sehari-hari.
Meskipun jumlahnya mungkin tergolong kecil, namun jika terus-menerus dibiarkan begitu saja, maka lambat laun akan menjadi suatu kebiasaan yang diteruskan di tempat-tempat lainnya. Termasuk jika misalnya dipercaya untuk mengemban amanah yang lebih besar di tingkatan yang lebih tinggi.
Maka dari itu, praktik kecil-kecilan semacam ini haruslah mampu dideteksi sejak dini, agar tidak tercipta koruptor-koruptor baru berskala kecil, yang nantinya akan tumbuh menjadi koruptor kelas kakap baru, seperti halnya para penguasa yang ada di wilayah pusat. (*)
