Mengenal Video Sponsorship, Trik Menyisipkan Iklan di Video YouTube Tanpa Bisa Dilewati

6 Min Read
Three men in red soccer jerseys drink beer mugs during a break on a green field with sponsor banners nearby.
Iklan produk Extra Joss, yang berada dalam tayangan video YouTube yang disiarkan oleh kanal YouTube Timnas Indonesia (Foto: kanal YouTube Timnas Indonesia Official)

Mabur.co – Ketika Anda menyaksikan sebuah video panjang (format landscape) di YouTube, biasanya akan ada sisipan iklan yang muncul sebelum video tersebut diputarkan. Atau untuk beberapa video berdurasi panjang (lebih dari setengah jam), biasanya juga tersedia sisipan iklan di tengah-tengah video, serta sisipan iklan berikutnya setelah video tersebut berakhir.

Konsepnya hampir mirip seperti Commercial Break pada acara stasiun televisi, yang selalu muncul pada setiap acara televisi berdurasi setengah jam atau lebih, yang menjadi sarana pemasukan bagi acara yang bersangkutan (yang sedang ditayangkan).

Namun, dalam iklan-iklan sisipan dari YouTube tersebut, hampir pasti sebagian besar orang akan melakukan tindakan memencet tombol hitam bertuliskan “Skip” di sebelah kanan bawah. Karena tentu saja, iklan-iklan semacam itu sangatlah mengganggu kenikmatan tayangan atau video yang sedang ditonton, dan seterusnya.

Bahkan banyak orang juga rela berlangganan YouTube premium, agar terbebas dari belenggu ads atau iklan setiap kali menyaksikan video favorit mereka di aplikasi YouTube, dan seterusnya.

Alhasil, beberapa konten kreator pun mulai menyiasati permasalahan tersebut, dengan menerapkan apa yang disebut dengan video sponsorship.

Video sponsorship secara singkat adalah memasukkan klip atau materi iklan secara langsung di dalam video yang ditayangkan di YouTube. Penempatannya bisa dilakukan di awal, di tengah-tengah, atau bahkan di akhir video tersebut. Sama persis seperti konsep ads yang diterapkan oleh YouTube (yang bisa di-skip).

Iklan yang disajikan pun tidak selalu harus berupa video terpisah, tapi bisa dikemas dengan cara yang lebih kreatif. Misalnya dengan menyorot dari dekat (zoom-in) produk yang diiklankan tersebut, digunakan oleh sang kreator dalam videonya, memberikan narasi-narasi (promosi) yang berkaitan dengan keunggulan produk yang sedang digunakan, dan sebagainya.

Dengan cara ini, setiap iklan bisa benar-benar menyatu di dalam video (kreator) yang diajak kerjasama, sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk men-skip iklan tersebut (fitur di YouTube). Kecuali dengan melakukan fast forward video ke section atau bagian yang tidak tercantum iklan di dalamnya.

Dilansir dari laman CNBC Indonesia, Sabtu (25/7/2026), inilah beberapa keuntungan menerapkan video sponsorship secara langsung di video YouTube.

1. Tidak Bisa Dilewati (Skip) Otomatis

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, penonton tidak bisa menekan tombol skip 5 detik atau semacamnya seperti pada iklan resmi YouTube, meskipun mereka tetap bisa mempercepat (fast-forward) video yang sedang menayangkan iklan tersebut.

Hanya saja, iklan yang menyatu dengan video YouTube yang bersangkutan biasanya terlihat lebih natural, dibawakan langsung oleh sang kreator, atau setidaknya relevan dengan konten video yang disajikan, dan seterusnya.

2. Lebih Dipercaya Penonton

Dengan penyampaian iklan (atau dibintangi) secara langsung oleh sang kreator di kanal tersebut, maka tercipta kesan natural alias alami yang tercipta dalam iklan tersebut. Sehingga timbul kepercayaan yang lebih tinggi terhadap produk yang dibawakan.

Peningkatan kepercayaan terhadap sebuah brand tentunya sangatlah penting, untuk dapat meningkatkan angka penjualan, memelihara konsumen, dan seterusnya.

Berbeda dengan video sisipan atau bawaan dari pihak YouTube, yang biasanya muncul terlalu mendadak, dan seringkali juga tidak sinkron dengan isi video yang ditayangkan, dan sebagainya.

3. Pendapatan Utuh kepada Kreator

Jika iklan yang disisipkan di video YouTube (yang bisa di-skip) harus menerapkan sistem pembagian monetisasi dengan pihak platform (YouTube), maka sistem video sponsorship memungkinkan seluruh pendapatan atau monetisasi akan diterima langsung oleh sang kreator atau pemilik kanal YouTube tersebut, tanpa adanya potongan untuk pihak platform, dan semacamnya.

***

Sementara inilah beberapa kerugian atau risiko yang terjadi dalam konsep video sponsorship tersebut.

1. Kemungkinan Penonton Merasa Jenuh

Jika jumlah promosi video sponsorship yang muncul terlalu banyak, terlalu panjang (durasinya) atau bahkan selalu muncul dalam rentang waktu yang terlalu singkat (misalnya setiap 5 menit sekali), maka penonton akan tetap merasa terganggu, dan bisa saja akan men-skip videonya secara keseluruhan.

Alias tidak menarik lagi untuk ditonton, karena selalu berisi promosi demi promosi dalam konten yang disajikan.

Kreator juga wajib menandai videonya sebagai video/konten bersponsor, jika memang mengandung konten iklan di dalamnya.

Hal itu akan menciptakan transparansi kepada para penonton, sehingga mereka pun telah menyadari, bahwa konten yang mereka saksikan akan mengandung iklan di dalamnya.

Sehingga mereka tidak perlu merasa khawatir apalagi kaget, jika nantinya video tersebut harus terjeda sejenak akibat hadirnya iklan, dan sebagainya.

***

Baik melalui konsep ads (yang bisa di-skip) maupun video sponsorship, pada dasarnya yang namanya iklan pastilah mengganggu siapa saja yang sedang menikmati konten yang tersaji di YouTube.

Karena semua orang pasti memutuskan untuk meng-klik sebuah konten video, guna menyaksikan atau mendengarkan pesan (atau hiburan) yang terkandung di dalam video tersebut, bukannya menonton iklan yang tiba-tiba saja muncul secara tak terduga.

Entah itu berupa potongan iklan dari platform YouTube (yang bisa di-skip), maupun iklan yang diperankan atau diperagakan langsung oleh sang kreator di dalam videonya.

Kecuali memang video tersebut memang murni merupakan iklan, dan bertujuan untuk mempromosikan suatu produk kepada para penonton. Sehingga penonton yang mengklik video tersebut harusnya sudah langsung menyadari, bahwa mereka sedang “dihasut” oleh sang kreator untuk segera membeli produk yang dipromosikan tersebut. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar