Mabur.co– Lahir dari keluarga sederhana di Tangerang, Dr. Agung Sulistyo, S.E., M.M., CHE, tumbuh dengan orang tua yang bekerja sebagai buruh.
Setelah lulus Sekolah Menengah Teknik (STM) jurusan Teknik Gambar Bangunan pada 2002, ia sempat mencoba mengikuti seleksi TNI dan Polri sesuai harapan ayahnya.
Namun jalan hidup membawa ke arah yang berbeda. Tidak banyak yang menyangka, doktor baru dari Program Doktor Manajemen UMY ini dulu harus membagi waktu antara berjaga malam di pos keamanan dan menuntaskan tugas-tugas kuliah.
Agung mengatakan, datang ke Yogyakarta sekitar tahun 2005. Lalu mengenal dunia pendidikan lebih dekat. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada 2008, ia memperoleh pekerjaan pertama sebagai tenaga keamanan atau satpam.
Dari Satpam Menjadi Dosen
“Sebagai satpam, saya tidak pernah membayangkan bisa sampai di titik ini,” ungkapnya saat diwawancarai via telepon, Sabtu (13/6/2026).
Agung menuturkan, setelah tujuh tahun lulus STM, pada tahun 2009, mendaftar kuliah kelas karyawan di salah satu sekolah tinggi ilmu ekonomi di Yogyakarta.
Keputusan itu diambil di tengah keterbatasan ekonomi dan tuntutan pekerjaan yang harus tetap dijalankan. Saat banyak orang memilih menyerah pada keadaan, ia justru menjadikan pendidikan sebagai jalan perjuangan.
Setiap bulan ia menyisihkan sebagian gaji untuk membayar biaya kuliah secara mencicil.
“Tantangan terbesar waktu itu adalah membagi waktu antara pekerjaan, kuliah, dan mengerjakan tugas. Kalau sedang jaga malam, setelah kuliah saya langsung ke tempat kerja. Lalu mengerjakan tugas di pos satpam sampai pagi,” kenangnya.
Agung menjelaskan, selesai kuliah tahun 2013. Tetapi langkahnya tidak berhenti. Karena merasa masih memiliki kesempatan untuk belajar.
Ia melanjutkan pendidikan magister dan lulus pada 2015.
“Istri saya yang membuka cakrawala berpikir saya. Dari dorongan istri, saya mulai mempertimbangkan profesi yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikiran, yakni menjadi dosen. Saya tidak pernah membayangkan menjadi pengajar. Tapi istri saya terus mendorong dan membuka cara pandang baru tentang masa depan,” tuturnya.
Agung menjelaskan lagi, sebagai dosen, ia merasa perlu terus meningkatkan kapasitas keilmuan. Pilihannya kemudian jatuh pada Program Doktor Manajemen UMY.
Meski telah menjadi dosen, perjuangan menempuh pendidikan doktor tetap bukan perkara mudah. Ia harus membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan studi. Namun pengalaman hidup yang keras sejak muda membuatnya terbiasa menghadapi tantangan.
“Orang tua saya mendidik dengan disiplin yang tinggi. Mungkin itu yang membentuk mental saya untuk tidak mudah menyerah,” katanya.
Agung menuturkan, kepada generasi muda, ia berpesan agar tidak takut bermimpi besar meski berasal dari latar belakang sederhana.
Baginya, mimpi adalah bahan bakar yang membuat seseorang terus bergerak maju.
“Saya selalu bilang kepada mahasiswa, jangan takut bermimpi tinggi. Kalau pun jatuh, kita tidak akan jatuh terlalu jauh dari apa yang kita impikan,” katanya. ***

