Mabur.co – DI awal tahun 2000-an, masyarakat dunia dihebohkan dengan kemunculan media sosial, seperti Friendster, Facebook, Twitter, dan seterusnya.
Media sosial dikenal mampu mendekatkan orang-orang yang tidak saling bertemu, atau sudah lama terpisah, bahkan juga bisa mempertemukan mereka dalam satu momen tertentu, yang selama ini sulit dilakukan, dan sebagainya.
Dengan kata lain, media sosial adalah wadah yang ampuh untuk menghubungkan banyak orang sekaligus, melalui fitur-fitur yang menarik dan terus berkembang setiap harinya, agar membuat orang-orang semakin betah dan nyaman untuk menggunakan platform medsos tersebut, sekaligus terhubung dengan lebih banyak orang di berbagai belahan dunia.
Tren ini pun mulai ditangkap oleh sebagian orang, terutama yang berprofesi sebagai developer atau programmer, untuk diolah menjadi peluang bisnis baru.
Mereka pun tak segan-segan membuat platform media sosial baru (atau bisa juga disebut “tandingan”), untuk dapat menciptakan ruang berkomunikasi alternatif bagi masyarakat, dengan berbagai keunggulan tertentu yang tidak dimiliki oleh platform medsos sebelumnya, dan seterusnya.
Namun tren pembuatan platform medsos baru rupanya semakin tidak diminati oleh pasar, termasuk di kalangan anak muda.
Mereka menganggap bahwa bergonta-ganti atau memperbanyak platform adalah sesuatu yang cukup melelahkan, dan bisa berakibat buruk terhadap kesehatan mental, dan sebagainya.
Selain itu, medsos juga telah mengalami pergeseran fungsi yang cukup ekstrem. Jika dahulu medsos banyak digunakan untuk terhubung dengan teman-teman atau kerabat yang tidak saling bertemu, maka untuk saat ini, medsos lebih banyak digunakan untuk ajang pamer (misalnya sudah nikah, sudah lulus kuliah, sudah bekerja, liburan ke tempat tertentu, dan lain-lain), mencari pundi-pundi tambahan (atau bahkan jadi pekerjaan utama), serta acuan bagi publik untuk berita-berita terbaru yang sedang hangat dibicarakan (viral), dan seterusnya.
Fungsi-fungsi tersebut juga sebagian besar telah ditiru secara “latah” oleh platform-platform pesaing. Seperti fitur story yang dulunya dipopulerkan oleh Instagram, kini juga diikuti oleh WhatsApp, TikTok, hingga Facebook (Meta).
Platform Baru Sulit Bersaing
Dilansir dari laman Digination, Senin (27/7/2026), setelah era pandemi covid-19 pada 2020 lalu, beberapa media sosial mulai muncul ke permukaan, dengan menawarkan berbagai keunggulan secara spesifik, yang tidak dimiliki oleh medsos raksasa seperti Instagram, WhatsApp, Facebook, dan sebagainya.
Adapun medsos baru tersebut diantaranya Threads, Lemon8, BeReal, BlueSky, NoPlace, dan masih banyak lagi.
Nama-nama medsos di atas bisa dibilang masih cukup asing, ketimbang medsos raksasa yang sudah establish seperti WhatsApp beserta “antek-anteknya” yang telah berjaya sejak satu dekade silam.
Saat era 2000-an awal atau 2010-an, mungkin menerima media sosial baru masih cukup mudah dilakukan oleh banyak orang. Mereka rela untuk kembali “berkenalan” dengan platform yang 100% baru, belum pernah didengar/diketahui sebelumnya, serta memiliki fitur-fitur tertentu yang mungkin tidak pernah ditemui di platform-platform lainnya.
Namun setelah era pandemi covid (2020 ke atas), penerimaan terhadap medsos baru menjadi sedikit berkurang, menyusul perkembangan medsos saat itu yang juga semakin masif, ketika semua orang terpaksa melakukan segala sesuatu di rumah saja, akibat larangan untuk keluar rumah dan sebagainya.
Pada saat itu, hampir semua orang menggunakan media sosial dalam aktivitas sehari-hari, termasuk dengan mengadakan aktivitas online, kopdar online, webinar, online course, online job, Zoom meeting, dan seterusnya.
Kemudian setiap platform pun seperti berlomba-lomba untuk menghadirkan fitur yang mirip seperti video call, agar tetap bisa terhubung dengan teman-teman dari kejauhan, di saat semuanya serba terbatas kala itu.
Meskipun era pandemi sudah mulai mereda, namun kebiasaan masyarakat di ranah digital tidak ikut mereda begitu saja. Beberapa pihak bahkan mulai meluncurkan program-program baru khusus online, yang ternyata memiliki jangkauan yang lebih luas, namun bisa dikerjakan dari rumah/kamar, dan sebagainya.
Dalam situasi yang sudah terbilang “nyaman” seperti itu, sulit bagi masyarakat untuk harus kembali berkenalan dengan platform baru lainnya, yang terkesan hanya ikut-ikutan, cari panggung, memanfaatkan momentum, atau bahkan tidak memiliki keunggulan spesifik yang dibutuhkan banyak orang. Seperti misalnya Zoom, yang langsung menjadi fenomena baru di saat pandemi, hingga berhasil meraih jutaan pengguna dalam waktu singkat.
Enggan Berkenalan dengan Platform Media Sosial Baru
Dilansir dari laman Info Publik, Senin (27/7/2026), inilah beberapa alasan mengapa orang cenderung enggan berkenalan dengan platform medsos baru, khususnya setelah era pandemi covid-19.
1. Kelelahan Digital (Digital Fatigue)
Media sosial di masa kini bisa dibilang sudah terlalu melenceng. Dari yang awalnya menghubungkan teman-teman lama atau mempertemukan teman-teman baru, kini lebih banyak digunakan sebagai ajang mencari cuan, memamerkan suatu pencapaian tertentu, ladang bisnis, informasi, dan sebagainya.
Aibatnya, banyak orang sudah merasa lelah dengan media sosial yang ada saat ini, belum lagi dengan tekanan untuk tetap aktif di dunia nyata. Hal itu membuat mereka cenderung enggan untuk terus-menerus update dengan aplikasi baru, apalagi jika harus aktif di semua platform sekaligus.
2. Memulai Pertemanan atau Jaringan Sosial dari Nol
Ketika memulai aplikasi baru, artinya Anda harus kembali membangun ulang semuanya dari awal, mulai dari daftar pertemanan, followers, tren terbaru, dan semacamnya, yang tentu saja terasa merepotkan. Apalagi jika platform medsos tersebut belum memiliki basis pengguna yang jelas, atau mungkin teman-teman kita yang belum ikutan join ke dalam platform baru tersebut.
3. Memicu Kecemasan dan Kesehatan Mental
Semakin banyak medsos yang harus dikelola, semakin banyak pula tren dan algoritma baru yang harus dipelajari. Hal itu tentu saja akan lebih mudah memicu terjadinya stres, kecemasan, serta kebiasaan untuk membandingkan diri, dan seterusnya.
4. Munculnya Tren Posting Zero
Tidak hanya malas untuk membangun jaringan ulang di platform baru, beberapa orang (termasuk dari generasi muda) juga sudah mulai meninggalkan kebiasaan memposting kegiatan pribadi, di medsos ternama seperti Instagram dan WhatsApp, yang dikenal dengan sebutan “zero posting“.
Mereka lebih memilih untuk menjadi “pengguna pasif”, yaitu hanya menikmati konten-konten yang disajikan oleh orang lain, tanpa harus melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.
***
Ketika platform demi platform media sosial terus bermunculan dari waktu ke waktu, mereka seolah melupakan satu hal penting, bahwa yang paling dibutuhkan oleh manusia saat ini bukanlah pertemanan (apalagi secara jarak jauh), melainkan adalah platform yang memberi kesempatan bagi mereka untuk memperoleh pundi-pundi lebih banyak.
Karena memang media sosial saat ini lebih banyak difungsikan sebagai sarana mencari uang, ketimbang mencari pertemanan yang sifatnya semu, dan hanya didasarkan pada komunikasi virtual atau semacamnya.
Ketika sebuah platform media sosial yang baru bisa menawarkan kesempatan untuk mendapatkan cuan dengan angka yang lumayan besar, maka hampir dipastikan, platform tersebut akan cepat digandrungi oleh banyak orang, dan langsung menjadi daya tarik baru bagi masyarakat.
Seperti yang dialami oleh YouTube saat ini, sehingga muncullah istilah-istilah seperti YouTuber, content creator, dan sebagainya.
Jika YouTube perlahan mulai ditinggalkan, maka sang “platform pengganti” harus mampu menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki oleh YouTube, dan seterusnya. (*)
