Jelang Tahun Ajaran Baru, Sekolah Rakyat di Kulon Progo Masih Andalkan Tangki Air

3 Min Read
Front view of a large brown-roofed building with an Indonesian flag, people on the shaded veranda, and a stone wall with large letters in front.
Sekolah Rakyat di Kabupaten Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co — Kurang dari sepekan menjelang dimulainya tahun ajaran baru, kebutuhan air bersih di Sekolah Rakyat (SR) di Kalurahan Gulurejo, Kapanewon Lendah, Kulon Progo, belum sepenuhnya terpenuhi. 

Hal itu terjadi karena jaringan instalasi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang akan menjadi sumber pasokan air permanen belum selesai dibangun.

Akibatnya guna melaksanakan program Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi para siswa, untuk sementara pasokan air masih mengandalkan distribusi menggunakan mobil tangki dari PDAM.

Kondisi tersebut terungkap saat Tim Transisi Pemerintah Kabupaten Kulon Progo meninjau kesiapan Sekolah Rakyat, Selasa (28/7/2026).

Sekretaris Daerah Kulon Progo, Triyono, mengatakan secara umum bangunan sekolah sudah siap digunakan untuk menyambut peserta didik baru.

Jaringan SPAM Belum Rampung

Namun, untuk jaringan SPAM masih belum rampung sehingga kebutuhan air harus dipenuhi dari pihak luar.

“Untuk sementara kebutuhan air akan dipenuhi dengan pengisian tandon menggunakan mobil tangki dari PDAM. Penyambungan jaringan SPAM diperkirakan baru selesai sekitar Oktober,” kata Triyono.

Meski demikian, ia memastikan kondisi tersebut tidak akan mengganggu pelaksanaan MPLS yang dijadwalkan dimulai pada 31 Juli 2026.

Selain persoalan air bersih, tim juga menemukan pekerjaan ringan berupa pembersihan sisa material di sekitar bangunan. 

Group of professionals in hard hats walking outdoors on a sunny day beside a building
Tim Transisi Pemerintah Kabupaten Kulon Progo saat meninjau Sekolah Rakyat. (Foto: JH Kusmargana)

Triyono meminta pihak pelaksana segera merapikan area sekolah agar lingkungan aman ketika ratusan siswa mulai menempati kawasan tersebut.

Kesiapan Tenaga Pendidik Hampir Tuntas

Dari sisi tenaga pendidik, kesiapan dinilai hampir tuntas. Dari kebutuhan 37 guru, sebanyak 35 orang telah tersedia melalui kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kulon Progo, Kantor Kementerian Agama, Balai Dikmen, dan Sekolah Rakyat lainnya.

Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis (PPS) DIY, Haryo Satriyawan, mengatakan progres pembangunan fisik Sekolah Rakyat telah mencapai sekitar 97 persen.

Menurutnya, fasilitas utama yang akan digunakan selama MPLS sudah siap, termasuk ruang kelas, asrama putra dan putri, dapur, kantin, gedung serba guna, hingga lapangan upacara.

“Sekolah ini akan menampung sekitar 314 siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA. Gedung yang tersedia memiliki kapasitas sekitar 540 siswa,” ujarnya.

Kepala Sekolah Rakyat Gulurejo, Agus Ristanto, menjelaskan MPLS tahun ini akan berbeda dengan sekolah reguler karena peserta didik juga akan diperkenalkan dengan kehidupan berasrama.

Selain mengenal lingkungan sekolah, para siswa akan mengikuti pembinaan kedisiplinan yang melibatkan personel pengasuh dari Akademi Angkatan Udara (AAU).

Sekolah Rakyat Gulurejo merupakan salah satu program pendidikan berasrama yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu dan anak putus sekolah. 

Pemerintah berharap sekolah ini dapat memperluas akses pendidikan sekaligus menjadi salah satu upaya memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar