Sosok Inovatif Susi Astanti Paparkan Cerita Pengelolaan Jogja Youth Farming

3 Min Read
Rows of black plastic bags used as plant pots with green seedlings along a garden edge.
Salah satu produk pertanian di kawasan Jogja Youth Farming (Foto: Azka Qintory)

Mabur.co – Jogja Youth Farming merupakan sebuah kawasan wisata pertanian di Argomulyo, Sedayu, Bantul, yang diresmikan langsung oleh Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas pada 1 November 2019 lalu.

Dalam perjalanannya, Jogja Youth Farming telah menjadi salah satu tempat wsiata favorit untuk melakukan pelatihan bertani, bercocok tanam, holtikultura, maupun kegiatan sejenis lainnya.

Selain itu, Karang Taruna “Taruna Yodha” Argomulyo, yang merupakan pengelola pertama kawasan ini, sempat meraih penghargaan juara 2 Karang Taruna Berprestasi tingkat nasional pada tahun 2017.  

Baca Juga: Pegiat Bioflok Susi Astanti Ceritakan Pengalaman Jogja Youth Farming Dilirik KDMP

Namun setelah pandemi Covid-19 melanda pada 2020, pengelolaan kawasan Jogja Youth Farming menjadi sedikit terbengkalai. Karang Taruna setempat pun tidak lagi aktif menyelenggarakan kegiatan di tempat ini, serta kurangnya komunikasi antaranggota selama fase pandemi tersebut.

Jogja Youth Farming dulu merupakan kegiatan taruna muda (Karang Taruna) kalurahan Argomulyo, yang pernah juara 2 (Karang Taruna berprestasi) nasional.

Itu menjadi kebanggaan sampai saat ini. Di sini dulu banyak tanaman, penghijauan, holtikultura, di belakang sampai ujung ada tanaman terong, cabai, dan lain-lain. Semuanya memetik sendiri.

Sinergi dengan Pertamina

“Lalu kita juga dapat bantuan dari Pertamina, termasuk pendampingannya. Kemudian di sini dulu juga ada rumah makan, yang menjual produk-produk hasil pertanian yang dipanen langsung dari tempat ini,” ungkap Susi Astanti, pengelola Jogja Youth Farming, saat ditemui di Joglo Bulak Pacar, kawasan wisata Jogja Youth Farming, Argomulyo, Sedayu, Bantul, Jumat (12/6/2026).

Setelah itu, Susi mengaku bahwa Jogja Youth Farming sempat vakum berkegiatan selama empat tahun lamanya, terutama sejak era pandemi Covid tersebut.

Meskipun pengelolaannya sudah diambil alih oleh Pemerintah Kalurahan Argomulyo sejak akhir 2024, namun Susi masih merasa bahwa Jogja Youth Farming belum benar-benar kembali seperti layaknya kawasan wisata pertanian seperti saat awal diresmikan.

Bahkan menurut Susi, perjuangan saat ini (untuk mengelola Jogja Youth Farming) menjadi jauh lebih sulit, karena harus memulai lagi semuanya dari nol seperti sebelumnya.

“Kita kan sekarang ini kayak merintis dari nol lagi. Nah mulai dari ibu-ibu PKK di sini, setiap ada kegiatan kita bikin di sini. Kita juga rencananya mau bercocok tanam lagi di belakang. Jadi kita pengin mengangkat Bulak Pacar (nama dusun di sekitar kawasan Jogja Youth Farming) ini lagi sebagai pusat kuliner, wisata, dan seterusnya,” tambah Susi.

Susi pun terang-terangan ingin kembali mengembalikan Jogja Youth Farming seperti dulu lagi, tepatnya saat pertama kali diresmikan pada 2019 hingga 2020 lalu.

Di mana Jogja Youth Farming pernah menjadi salah satu sarana edukasi, kuliner, pusat pertanian, serta berkolaborasi dengan banyak pihak, termasuk berkontribusi memelihara ketahanan pangan di wilayah setempat, dan seterusnya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment