Inilah Transformasi Donor Darah di Era Modern

3 Min Read
Donors rest on medical beds at a community blood donation camp as a nurse in a red hijab assists a patient nearby.
Kegiatan donor darah yang dilakukan PMI. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Tanggal 14 Juni kemarin diperingati sebagai hari donor darah sedunia. Peringatan ini dicetuskan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya ketersediaan darah yang aman, sekaligus mengapresiasi para pendonor sukarela yang telah berjasa menyelamatkan nyawa banyak orang.

Di masa kini, kegiatan donor darah telah bertransformasi sedemikian rupa, sesuai dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih.

Jika dahulu pendonoran darah hanya dilakukan dengan prosedur manual dan sederhana, kini semuanya bisa dilakukan secara terintegrasi dan bisa diukur dengan sangat presisi.

Dikutip dari laman pmi.or.id, Senin (15/6/2026), kegiatan donor darah selama ini gencar dilakukan di berbagai daerah. PMI pun menjadi lebih dekat dengan masyarakat.

Sejauh ini, teknologi juga cukup membantu aktivitas PMI. Donor darah bahkan sudah bisa diterapkan melalui teknologi screening berbasis asam nukleat (NAT), pemisahan komponen darah (afaresis), dan manajemen secara digital.

Seluruh proses tersebut dapat menjamin keamanan donor darah dengan lebih maksimal, efisiensi tinggi, dan ketersediaan yang tepat waktu bagi pasien yang membutuhkan.

Selain itu, kehadiran teknologi canggih dalam proses pendonoran darah akan mempersingkat masa jendela (window period) masuknya berbagai virus seperti HIV dan Hepatitis, sehingga risiko penularan penyakit melalui transfusi juga dapat ditekan hingga ke titik terendah.

Pendonor juga dapat menyumbangkan komponen darah tertentu sesuai keinginan, agar tidak semua komponen darah terbuang begitu saja, yang justru bisa mengakibatkan terhambatnya fungsi di dalam tubuhnya sendiri.

Sistem Informasi Digital

Palang Merah Indonesia (PMI), sebagai organisasi kemanusiaan yang mengurus kegiatan donor darah di Indonesia, saat ini juga telah menggunakan sistem digitalisasi terpadu, dalam menangani dan mengelola setiap kegiatan donor darah di seluruh Indonesia.

Sistem digitalisasi tersebut meliputi pendaftaran secara online, penjadwalan donor, hingga pelacakan rantai pasok darah (blood cold chain) secara real-time, untuk meminimalisir pembuangan darah yang telah kadaluwarsa, dan seterusnya.

Hadirnya akulturasi digital dalam sistem pendonoran darah saat ini telah banyak membantu masyarakat dalam mengakses layanan transfusi, memangkas antrean pendaftaran, serta memastikan transparansi stok darah yang telah didonorkan akan tersalurkan kepada yang benar-benar berhak.

Bagi PMI sendiri, sistem digitalisasi dalam donor darah juga membantu mereka dalam mengoptimalkan pengelolaan stok darah, mempermudah pendataan dan pemetaan lokasi pendonor, serta mempercepat proses pengolahan darah di setiap laboratorium

Berbagai inovasi teknologi telah mampu mengubah pengalaman donor darah yang dilakukan masyarakat menjadi jauh lebih cepat, modern, dan terintegrasi dalam sistem yang bisa diakses kapan saja. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment