Mabur.co – Menekuni profesi di bidang kebudayaan memang penuh dengan lika-liku tersendiri, yang terkadang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Terlebih dengan perkembangan teknologi informasi seperti saat ini, melakoni kegiatan kebudayaan seperti sastra, teater, jurnalistik, film, dan seterusnya, butuh usaha yang lebih dari sebelumnya, agar tetap bisa menarik kalangan muda untuk bergabung, dan bersama-sama melestarikan kebudayaan ke tahap yang lebih tinggi, sekaligus mengikuti perkembangan zaman itu sendiri.
Bagi seorang Tedi Kusyairi, seorang seniman, sastrawan, sekaligus budayawan asal Bantul, kegiatan pelestarian budaya sudah ia lakukan sejak usia sekolah, dengan mengikuti berbagai kegiatan kepenulisan di sanggar, penulisan sastra, teater, jurnalistik, dan lain-lain
Semua itu dilakukannya dengan senang hati, dan tanpa berharap akan memperoleh penghargaan tertentu pada suatu hari nanti, dan sebagainya.
Sampai akhirnya pada akhir 2023 lalu, Tedi Kusyairi berhak menerima penghargaan Anugerah Kebudayaan dari Dinas Kebudayaan Bantul, atas dedikasinya di bidang kebudayaan selama kurang lebih 20 tahun terakhir tanpa henti, yang secara tidak langsung juga ikut memperkenalkan kebudayaan Bantul secara luas, baik melalui forum offline dan juga online.
“Mereka (Dinas Kebudayaan Bantul) itu ingin memastikan bahwa salah satu kategorinya adalah sudah mengabdi (di bidang kebudayaan) minimal 20 tahun berturut-turut tanpa putus. Nah saya tanpa sadar sudah melakukan itu, bahkan sudah lebih dari 20 tahun sebenarnya. Dan rata-rata semua catatan dokumentatif itu bisa dilihat di Facebook, bahwa setiap tahun, setiap bulan, bahkan setiap minggu, selalu ada konten budaya yang di-upload ke YouTube, terutama saat pandemi (Covid-19) kemarin,” ungkap Tedi Kusyairi saat dihubungi via pesan singkat, Minggu (14/6/2026).
Menimbulkan Dampak Signifikan

Ada pun salah satu faktor yang dilihat oleh para kurator dari Dinas Kebudayaan saat itu adalah seperti apa dampak yang ditimbulkan dari kegiatan kebudayaan yang dilakukan secara konsisten selama 20 tahun tersebut.
Dalam kriteria tersebut, tentu saja apa yang sudah dilakukan Tedi selama ini telah terbukti mampu menggerakkan banyak generasi muda, untuk bergabung dalam komunitas kebudayaan seperti sastra, teater, film, jurnalistik, dan lain-lain, sehingga kemudian melahirkan lebih banyak penerus baru berikutnya, yang juga ikut berkegiatan seperti halnya yang Tedi lakukan sejak lama.
“Misalnya saya ada bikin kegiatan rutin Selasa Sastra, di situ justru banyak teman baru yang sebelumnya belum mengenal sastra sama sekali, tapi kemudian bergabung dan kemudian mau belajar sastra. Proses-proses semacam itulah yang kemudian dicatat oleh para kurator, bahwa (kegiatan kebudayaan) yang dilakukan tidak sekadar untuk kepuasan pribadi, melainkan ada feed back bagi masyarakat luas. Jadi ketika misalnya kita melaksanakan kegiatan Selasa Sastra itu di kafe, maka kafe itu jadi laris, seperti itu,” sambung Tedi.
Uniknya, seluruh hadiah dari Anugerah Kebudayaan yang diterima Tedi, juga tidak dihabiskan untuk dirinya sendiri ataupun keluarganya, melainkan diinvestasikan lagi untuk membeli peralatan sound system maupun kebutuhan syuting lainnya, demi mempermudah kegiatan pelestarian kebudayaan di masa mendatang, tanpa harus repot-repot menyewa dari luar dan seterusnya. (*)

