Mabur.co – Jika selama ini kita mengenal perayaan tahun baru masehi (1 Januari) dengan melakukan pesta kembang api, terompet, bakar-bakaran makanan tertentu, menyiapkan resolusi tahun baru, dan seterusnya, maka perayaan tahun baru Islam (Hijriyah) sekaligus tahun baru Jawa, memiliki perayaan atau tradisi yang lebih sakral, dan sarat dengan nilai-nilai luhur dan moral.
Adapun tradisi tersebut adalah “Mubeng Beteng”, yakni sebuah ritual budaya yang digelar setiap malam pergantian tahun Islam dan Jawa, sebagai penanda dimulainya tanggal 1 Muharam pada keesokan harinya.
Dilansir dari laman Dinas Pariwisata DIY, Senin (15/6/2026), Mubeng Beteng adalah kegiatan berjalan kaki sepanjang empat kilometer di sekitar kawasan Keraton Yogyakarta pada malam hari tanggal 29 atau 30 Besar.
Tradisi ini dilakukan dengan melewati rute tertentu, di mana para peserta biasanya melakukan ritual tapa bisu (berjalan tanpa berbicara dan tanpa alas kaki).
Tradisi ini menjadi simbol perenungan, introspeksi, dan penyucian diri, yang dilakukan dalam suasana hening melalui prosesi tapa bisu atau berjalan tanpa berbicara. Adapun para peserta juga melakukan ritual ini tanpa mengenakan alas kaki sama sekali, sebagai bentuk prihatin sekaligus penghormatan terhadap nilai spiritual yang telah diwariskan turun-temurun.
Perayaan Mubeng Beteng di Malam 1 Suro 1448
Sementara untuk perayaan tradisi Mubeng Beteng pada malam 1 Suro tahun 1448 atau 2026 ini, akan dilaksanakan pada Selasa malam besok, 16 Juni 2026. Artinya, 1 Suro 1448 akan berlangsung pada keesokan harinya, yakni Rabu, 17 Juni 2026.
Untuk perayaan tahun ini sendiri, akan ada sesuatu yang berbeda dari gelaran Mubeng Beteng di kawasan Keraton.
Dilansir dari akun Instagram @humasjogja, perhelatan Mubeng Beteng pada Selasa besok akan diawali dengan pertunjukan wayang kulit di Kagungan Dalem Bangsal Kamandungan Kidul mulai jam tujuh hingga sebelas malam.
Setelah itu, rangkaian acara dilanjutkan dengan pembacaan mocopat pada jam sembilan malam di Kagungan Dalem Bangsal Ponconiti, lalu pada jam sebelas malam akan dilangsungkan seremonial dan persiapan pemberangkatan seluruh rombongan.
Rombongan peserta Mubeng Beteng akan mengitari kawasan Keraton Yogyakarta, dengan titik awal dan akhir di Kagungan Dalem Kamandungan Lor (Keben).
Seluruh rangkaian acara ini terbuka untuk umum dan dapat disaksikan secara gratis tanpa perlu melakukan reservasi atau semacamnya.
Dengan mengikuti atau menyaksikan ritual ini, diharapkan seluruh masyarakat dapat melakukan introspeksi diri, menyucikan hati dari perbuatan buruk, sekaligus memohon keselamatan, kedamaian, dan keberkahan untuk menghadapi tahun (Islam dan Hijriah) yang baru. (*)

