Mabur.co- Kain ulos adalah kain tenun tangan khas dari Suku Batak. Kain ini kerap dijadikan oleh-oleh khas dari Sumatra Utara.
Bukan sekadar kain, sehelai ulos mengandung makna yang mendalam. Ada filosofi dalam setiap ulos khas Batak. Mungkin masyarakat dari luar Suku Batak mengenal kain yang berasal dari kawasan Toba
Hanya ada satu jenis ulos. Namun, sebenarnya ulos terdiri dari berbagai jenis. Ulos secara resmi ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebagai salah satu warisan budaya takbenda Indonesia pada 17 Oktober 2014.
Mengutip laman resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sabtu (20/6/2026), dari bahasa asalnya, ulos berarti kain. Hingga kini, ulos secara turun temurun masih dikembangkan oleh masyarakat Batak di Sumatra Utara.
Awalnya, ulos hanya dikenakan dalam bentuk selendang atau sarung dan sering digunakan pula pada perhelatan resmi atau upacara adat. Namun, ulos kini banyak dijumpai dalam berbagai hal lainnya, seperti menjadi suvenir, sarung bantal, tas, pakaian, taplak meja, atau dompet.
Umumnya, ulos didominasi dengan warna merah, hitam, dan putih yang dihiasi oleh ragam tenunan dari benang emas atau perak.
Sayangnya, sebagian besar ulos telah punah karena sudah tidak diproduksi lagi. Sebut saja Ulos Raja, Ulos Ragi Botik, Ulos Gobar, Ulos Saput, dan Ulos Sibolang.
Ulos menjadi bagian properti yang selalu muncul dalam berbagai acara orang Batak. Misalnya saat upacara pernikahan, kelahiran, dan duka cita.
Simbol Sumber Kehangatan
Selain matahari dan api, ulos juga termasuk ke dalam tiga sumber kehangatan yang diyakini para leluhur Batak sebagai pemberi kehidupan bagi manusia.
Ulos juga memiliki nilai tinggi di tengah masyarakat Batak. Bahkan sampai dibuat aturan adat mengenai penggunaan ulos, yaitu: ulos hanya diberikan kepada kerabat yang di bawah kita. Misalnya orang tua kepada anak.
Ulos yang diberikan harus sesuai dengan kerabat yang akan menerima ulos tersebut. Contohnya, Ulos Ragihotang diberikan kepada hela (menantu laki-laki). ***

