Mengapa Hidup di Jakarta Terasa Begitu Sulit?

4 Min Read
Diverse group of pedestrians wearing masks crossing a city crosswalk together.
Ilustrasi padatnya pekerja beraktivitas di ruas jalanan kota Jakarta (Foto: jakartamu.com)

Mabur.co – Tanggal 22 Juni ini, provinsi DKI Jakarta memperingati ulang tahunnya yang ke-499, alias tinggal satu tahun lagi menuju usia lima abad.

Di usia yang hampir mencapai lima abad ini, Jakarta masih dianggap sebagai kota yang paling sulit ditaklukkan oleh banyak orang, meskipun tidak sedikit juga yang mampu bertahan di kota ini, dan meraup kesuksesan seperti yang diinginkan.

Sebagai kota pusat pemerintahan, bisnis, perekonomian, hiburan, sekaligus kota metropolitan paling modern di Indonesia, Jakarta sudah pasti menawarkan segalanya (baik dan buruk) yang bisa didapatkan oleh semua orang Indonesia pada umumnya, khususnya terkait kesejahteraan.

Namun sayangnya, tidak semua orang sanggup bertahan dan menghadapi kerasnya persaingan di Jakarta, mengingat semuanya sama-sama mencari peruntungan di tempat ini, padahal kota ini sudah terlampau padat untuk ukuran sebuah wilayah ibu kota.

Padahal, pasar tenaga kerja atau lahan yang tersedia untuk bisa meraup cuan tidaklah sebanyak jumlah penduduk yang tersedia, yang dikabarkan telah mencapai 11 juta jiwa pada akhir 2025 lalu.

Kepadatan Penduduk Berpotensi Ciptakan Masalah Baru

Busy city street with heavy traffic: rows of cars in the left lanes and a dense line of motorcycles along the right, beside trees.
Ilustrasi kemacetan di Jakarta pada jam-jam sibuk (rush hour) (Foto: ANTARA FOTO)

Dengan statusnya sebagai kota metropolitan berpenduduk 11 juta jiwa, tentu saja Jakarta sangat berpeluang menciptakan masalah demi masalah baru setiap harinya. Karena pada dasarnya, sebuah wilayah dengan 11 juta jiwa sudah dianggap tidak sehat untuk ditinggali, apalagi jika ditambah dengan persaingan yang begitu kompetitif seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Setiap penduduk tentu saja membutuhkan berbagai kebutuhan dasar setiap harinya, seperti makan-minum, istirahat, tempat tinggal (hunian) yang layak, pekerjaan, kualitas udara yang baik, dan seterusnya.

Namun ketika jumlah penduduk terus bertambah, tidak semua orang mampu memenuhi berbagai kebutuhan dasar tersebut. Karena lagi-lagi, kepadatan penduduk pastinya akan menciptakan persaingan yang semakin tinggi dan kompleks, dan seringkali tidak mampu diikuti oleh beberapa orang tertentu.

Apalagi Jakarta juga bukanlah wilayah yang super luas, karena hanya memiliki luas wilayah sebesar 662 km². Sehingga penduduk yang terus bertambah jelas tidak akan mampu menampung seluruh kebutuhan dasar mereka, sekalipun memang itu merupakan hak asasi setiap individu.

Dengan luas wilayah yang terbatas, akhirnya pemerintah seringkali mengakalinya dengan membangun jalanan baru di atas tanah (flyover atau jembatan layang) maupun di bawah tanah (underpass), dan semacamnya.

Namun tetap saja, dengan jumlah penduduk yang terus menerus bertambah, pembangunan jalan semacam itu tetap tidak akan cukup untuk menampung seluruh kebutuhan dasar manusia, dan bagaimana agar mereka bisa hidup layak dengan tingkat persaingan dan risiko kejahatan yang sangat tinggi.

Belum lagi soal kemacetan yang selalu menjadi masalah klasik di Jakarta. yang tentu saja merupakan kontribusi dari padatnya penduduk, karena ingin mengubah nasib di ibukota.

Jakarta juga kerap mempertontonkan kesenjangan sosial yang begitu nyata, karena kota ini bisa mempertemukan kalangan yang paling elit dengan yang paling miskin sekalipun. Padahal keduanya sama-sama mengadu nasib di daerah yang sama.

***

Dengan usianya yang hampir mencapai 500 tahun, Jakarta sudah semestinya berbenah, dan mampu menjadi tonggak ibukota yang sebenarnya, tanpa harus mengorbankan nasib warga negaranya sendiri, yang hanya ingin menjalani hidup yang lebih baik dari sebelumnya.

Mungkin saja, ketika proyek IKN (Ibu Kota Nusantara) di Kalimantan Timur sudah benar-benar terealisasi, setidaknya beban Jakarta bisa lebih berkurang ketimbang saat ini, yang dianggap sudah terlalu berat menopang belasan juta umat manusia, yang rela bersaing setiap harinya demi tujuan hidup yang relatif sama. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment