Pentingnya Peran Kadipaten Pakualaman dalam Membangun Peradaban Modern di DIY

4 Min Read
Kompleks Puro Pakualaman, markas kadipaten Pakualaman di kota Yogyakarta (Foto: Geopark Jogja)

Mabur.co – Tanggal 22 Juni merupakan hari jadi (Hadeging) Kadipaten Pakualaman yang ke-214. kadipaten Pakualaman terus berbenah sebagai pilar pembentuk peradaban dan penjaga keistimewaan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Lebih dari itu, kadipaten Pakualaman juga berfungsi sebagai penjaga tradisi, motor penggerak ekonomi kerakyatan, pusat edukasi nilai luhur, serta teladan suksesi kepemimpinan, yang selalu bersinergi harmonis bersama Kesultanan Yogyakarta.

Momentum hadeging ini bukan hanya sekadar perayaan atau ritual tahunan, melainkan juga merupakan kesempatan yang baik untuk memperkuat pemberdayaan masyarakat, menggerakkan ekonomi kerakyatan, serta wadah pelestarian kebudayaan adiluhung, agar terus relevan dengan perkembangan zaman.

Dilansir dari laman resmi Pemerintah provinsi DIY, Senin (22/6/2026), berikut adalah beberapa peran strategis kadipaten Pakualaman dalam membangun peradaban modern di DIY.

1. Pelestarian Adat dan Budaya

Sejak didirikan pada tahun 1813, Pakualaman telah konsisten menjadi bagian penting dari pelestarian tradisi Keraton secara turun temurun, baik itu upacara adat, dan kesenian pusaka, dan acara-acara pendukung lainnya.

Di tengah perubahan zaman yang begitu pesat seperti saat ini, kadipaten Pakualaman juga terus beradaptasi dengan mengikuti pola perilaku masyarakat di era modern, namun tetap disesuaikan dengan nilai-nilai tradisi yang berlaku di wilayah Pakualaman dan Kesultanan Yogyakarta.

2. Menggerakkan Ekonomi Kerakyatan secara Kreatif

Kadipaten Pakualaman juga terus bertransformasi secara konsisten dalam memberdayakan masyarakat di DIY dan sekitarnya, dengan turut mengintegrasikan aspek budaya dan ekonomi kerakyatan, seperti menyelenggarakan Pasar Sewandanan di momen Hadeging kadipaten Pakualaman seperti saat ini.

Kegiatan semacam ini menjadi ruang apresiasi khusus bagi pelaku UMKM, perajin batik, dan kesenian lokal yang ada di DIY dan sekitarnya.

3. Regenerasi Kepemimpinan dalam Pemerintahan

Sebagai daerah berlabel “istimewa”, DIY memiliki sejarah unik di bidang pemerintahan. Karena pemerintahan yang terjadi di DIY tidak menerapkan pemilu atau Pilkada layaknya daerah-daerah lainnya.

Hal itu pula yang terjadi di kadipaten Pakualaman. Di mana pemimpin di kadipaten Pakualaman (Adipati Paku Alam) juga bertahta seumur hidup, dan secara otomatis menjabat sebagai Wakil Gubernur DIY di bawah kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono sebagai Gubernur.

Pengisian jabatan ini pun dilakukan berdasarkan suksesi takhta kerajaan (jumenengan), yang diatur oleh garis keturunan atau paugeran di lingkungan internal Kadipaten.

Meski berlatar historis kerajaan dan garis keturunan, namun hal itu tidak membuat mereka larut dalam sistem kerajaan tersebut, dan tetap bersedia membaur bersama masyarakat DIY, serta membuat kebijakan demi kebijakan yang sesuai dengan kepentingan rakyat sekaligus keistimewaan Yogyakarta.

***

Dengan majemuknya masyarakat Yogyakarta pada saat ini, lantaran sudah dihuni oleh perpaduan penduduk asli maupun pendatang dari berbagai daerah (sehingga disebut sebagai “Indonesia mini”), maka peran kadipaten Pakualaman menjadi kian strategis, dalam menentukan bagaimana Yogyakarta mampu menjadi “rumah” yang baik bagi semua orang, baik itu penduduk asli maupun warga pendatang.

Ketika Yogyakarta masih menjadi tujuan bagi para pendatang baru setiap tahunnya (terutama untuk menempuh pendidikan), itu artinya kerja keras kadipaten Pakualaman selama ini telah membuahkan hasil yang sangat positif, dan mampu menjawab tantangan peradaban yang semakin kompleks. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment