Mabur.co – Yogyakarta menyimpan banyak bangunan bersejarah peninggalan masa pemerintahan kolonial Belanda.
Salah satunya adalah Stasiun Kalimenur yang terletak di Dusun Wora-Wari, Kalurahan Sukoreno, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo.
Meski sudah tak difungsikan, stasiun ini nampak masih kokoh berdiri. Tepatnya di antara Stasiun Sentolo dan Stasiun Wates, atau sekitar 20 kilometer dari Stasiun Tugu Yogyakarta.
Berjarak 400 meter dari Jalan Raya Nasional Jogja-Purworejo, stasiun ini tepat berada di sisi selatan rel ganda yang masih aktif dan rutin dilalui kereta jarak jauh maupun kereta Bandara YIA.
Baca Juga: Stasiun Kalimenur Sisa Kemegahan Arsitektur Kolonial Belanda, Kini Memprihatinkan
Di sampingnya terdapat sebuah jalan kampung yang menghubungkan Dusun Ngaglik di sisi utara rel dan Dusun Wora-Wari di sisi selatan rel. Kedua jalan ini dihubungkan sebuah underpass kecil di sisi barat eks stasiun.
Saat mabur.co berkunjung ke lokasi, Rabu (24/6/2026), bangunan bekas Stasiun Kalimenur ini nampak sepi. Sesekali kendaraan warga melintas di jalan kampung yang tidak rata.

Jika dilihat sepintas, eks Stasiun Kalimenur hanya nampak seperti bangunan tua yang sudah lama tak berfungsi dan ditinggalkan. Satu-satunya ‘benda baru’ yang dipasang di lokasi ini hanyalah sejumlah penanda di depannya.
Penanda dengan Aksara Jawa
Penanda itu adalah plakat atau papan informasi bertuliskan Stasiun Kalimenur dengan aksara Jawa. Selain itu juga semacam prasasti yang menunjukkan bahwa stasiun eks Kalimenur ini merupakan bangunan cagar budaya.
Berdasarkan keterangan Dinas Kebudayaan DIY yang ada di lokasi, Stasiun Kalimenur dibangun pada tahun 1887 oleh Perusahaan Negara Pemerintah Kolonial Belanda, Staatsspoorwegen (SS).
Proses pembangunan stasiun ini dilakukan bersamaan dengan pembangunan jalur kereta api dari Yogyakarta menuju Kroya.
Stasiun Kalimenur disebut-sebut merupakan satu-satunya stasiun kuno bergaya arsitektur khas Eropa yang masih tersisa di jalur kereta api lintas Yogyakarta-Kulon Progo hingga saat ini.
Pada masa revolusi tahun 1948, Stasiun Kalimenur diketahui pernah dibom oleh Belanda. Meski begitu bangunannya nampak masih utuh dan menampakkan bentuk aslinya.

Bangunannya dibuat dengan gaya khas perpaduan arsitektur Eropa Belanda dan tradisional Jawa. Pada era kemerdekaan sekitar tahun 1954, Djawatan Kereta Api (DKA) membangun kembali stasiun ini sehingga dapat beroperasi lagi.
Secara operasional stasiun ini mulai dihentikan pada 1974 karena dianggap tak layak menjadi pemberhentian kereta berkecepatan tinggi. Hal itu tak lepas karena lokasinya berada di dekat rel dengan tikungan tajam.
Bahkan pada tahun 2023 lalu pernah terjadi kecelakaan hebat yang melibatkan 2 kereta jarak jauh tepat di sekitar eks stasiun ini.
Julukan Stasiun Tahu
Salah satu yang menarik dari Stasiun Kalimenur ini adalah julukannya yakni sebagai Stasiun Tahu.
Menurut warga sekitar, julukan itu diberikan karena pada masa lalu, stasiun ini kerap digunakan para perajin tahu di sekitar Sentolo untuk mengangkut dagangan mereka ke arah Kota Yogyakarta.
Dengan semua keunikan dan nilai sejarah yang dimiliki, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo akhirnya menetapkan Stasiun Kalimenur sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui SK Bupati Nomor 586/A/2018 tanggal 19 Desember 2018.
Meski tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, Stasiun Kalimenur hingga saat ini tetap menjadi bangunan ikonik di kawasan Sentolo Kulon Progo.
Saat sore hari, tak sedikit warga berkunjung ke tempat ini baik itu untuk bersantai, mengambil foto, atau sekadar menikmati suasana sambil melihat kereta yang melintas. ***

