Stasiun Kalimenur Sisa Kemegahan Arsitektur Kolonial Belanda, Kini Memprihatinkan  

4 Min Read
Small white concrete building with a red-tiled roof and an open central passage; a tree partly obscures the right side against a clear blue sky.
Stasiun Kalimenur, stasiun kuno peninggalan kolonial Belanda di Kalurahan Sukoreno, Sentolo, Kulon Progo, kini kondisinya memprihatinkan. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Terletak di Dusun Wora-Wari, Sukoreno, Sentolo, Kulon Progo, Stasiun Kalimenur menjadi saksi sejarah Pemerintah Kolonial Belanda pernah berjaya dengan membangun jaringan kereta api di Pulau Jawa.

Stasiun yang kini telah berhenti beroperasi ini bahkan menjadi satu-satunya bangunan bergaya Staatsspoorwegen (perusahaan perkeretaapian era kolonial) yang masih tersisa di sepanjang jalur kereta api Yogyakarta-Kulon Progo.

Dibangun pada 1887 bersamaan dengan pembangunan jalur kereta Yogyakarta-Kroya, Stasiun Kalimenur pernah hampir hancur setelah dibom pada masa Revolusi 1948. Setelah itu, Djawatan Kereta Api (DKA) membangunnya kembali pada 1954 hingga kembali beroperasi.

Namun seiring perkembangan zaman, Stasiun Kalimenur akhirnya ditutup pada 1974 karena dianggap tidak layak beroperasi. Meski sudah tidak berfungsi selama lebih dari lima dekade, bangunan ini masih menyimpan karakter arsitektur khas yang jarang ditemukan di tempat lain.

Small gray building by railway tracks with a mural reading 'KALIMENUR' and a person on a scooter on the road.
Stasiun Kalimenur, stasiun kuno peninggalan era Belanda. (Foto: JH Kusmargana)

Berdasarkan penelitian berjudul Rekonstruksi Fotogrametri Bangunan Cagar Budaya Stasiun Kalimenur Menggunakan Pendekatan Low-Cost Multi-Instrument karya Muhammad Rifky Reza, Renaldy Aditya Putra Ramadhan, Salsabila Atalieani Andiana, dan Septiya Nur Hasmar dari Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada yang diakses mabur.co, Rabu (24/6/2026), Stasiun Kalimenur memiliki gaya arsitektur Indis, perpaduan antara arsitektur Eropa Belanda dan tradisional Jawa.

Konstruksi Arsitektur

Berada pada ketinggian sekitar 35 meter di atas permukaan laut dan tepat berada di samping jalur aktif kereta api Surabaya Gubeng-Gambir pada kilometer 520, bangunan stasiun kuno ini memiliki bentuk persegi panjang berukuran sekitar 16,4 meter x 5,4 meter dengan tinggi dinding mencapai 7 meter. 

Atapnya berbentuk pelana dengan genteng tanah liat model flame seperti atap rumah kampung. Sementara bagian dalamnya dahulu dilengkapi langit-langit dengan plafon berupa anyaman dari bahan bambu. Sedangkan lantainya dibuat dari batu bata yang disusun rapi tanpa semen.

Ciri paling mencolok terlihat dari sembilan ventilasi berbentuk persegi panjang vertikal yang berjajar di sepanjang sisi bangunan. Pada bagian atas ujung bangunan juga terdapat aksen lingkaran timbul yang menjadi ciri khas rancangan stasiun kecil milik Staatsspoorwegen.

Di salah satu ruangan sisi timur bahkan masih ditemukan jendela kayu bekas loket penjualan tiket yang menjadi saksi aktivitas penumpang pada masa lalu. Jendela ini dibuat tinggi besar seperti jendela bangunan kolonial pada umumnya. 

Interior of a dilapidated hut with a thatched roof, exposed wooden beams, and crumbling plaster walls with holes.
Kondisi Stasiun Kalimenur di masa kini (Foto: JH Kusmargana)

Sayangnya, kondisi bangunan saat ini nampak cukup memprihatinkan. Sejumlah kerusakan serius terjadi pada bagian atap yang mulai lapuk hingga kerangka kayu yang terlihat mengelupas. 

Ruang di sisi barat bangunan bahkan telah hancur, sementara lantai dan langit-langit berbahan anyaman bambu mengalami pelapukan akibat usia. Bangunan kosong itu juga dipenuhi berbagai coretan vandalisme yang semakin mengancam keaslian struktur bersejarah tersebut.

Karena memiliki nilai arsitektur dan sejarah yang tinggi, upaya pelestarian bangunan cagar budaya diperlukan agar bentuk dan detail arsitekturnya tetap terjaga dengan baik dan tidak hilang dimakan usia.

Terlebih Pemerintah Kabupaten Kulon Progo telah menetapkan Stasiun Kalimenur sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui SK Bupati Nomor 586/A/2018 tanggal 19 Desember 2018.

Abandoned railway shelter with graffiti on a worn wall and a red circular mark; benches along the wall and tracks outside visible to the right/entrance side.
Stasiun Kalimenur di masa kini penuh tulisan vandalisme. (Foto: JH Kusmargana)
Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment