Rusak Dimakan Usia, Optimalisasi Arsip Digital Stasiun Kalimenur

4 Min Read
Cartoon man in overalls and cap smiling, holding a sign that reads 'Stasiun Lama' on a weathered wall with exposed bricks.
Stasiun Kalimenur, jejak peninggalan kolonial di Kalurahan Sukoreno, Sentolo, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Kondisi Stasiun Kalimenur yang semakin menua dan mulai mengalami kerusakan mendorong sejumlah peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan langkah penyelamatan melalui digitalisasi bangunan. 

Hal itu dilakukan karena stasiun nonaktif di Kalurahan Sukoreno, Sentolo, Kulon Progo itu merupakan satu-satunya bangunan peninggalan Belanda bergaya arsitektur khas Staatsspoorwegen  yang masih tersisa di jalur kereta api Yogyakarta-Kulon Progo.

Penelitian tersebut dilakukan karena keberadaan bangunan cagar budaya tidak lepas dari ancaman kerusakan akibat faktor usia, lingkungan, maupun aktivitas manusia. 

Apalagi, sebagian Stasiun Kalimenur kini menunjukkan tanda-tanda kerusakan, mulai dari atap, pelapukan lantai dan langit-langit, hingga vandalisme yang ditemukan di sejumlah bagian bangunan.

Riset Pustaka

Riset pustaka yang dilakukan mabur.co, Rabu (24/6/2026), menunjukkan bahwa menurut penelitian berjudul “Rekonstruksi Fotogrametri Bangunan Cagar Budaya Stasiun Kalimenur Menggunakan Pendekatan Low-Cost Multi-Instrument” yang ditulis Muhammad Rifky Reza, Renaldy Aditya Putra Ramadhan, Salsabila Atalieani Andiana, dan Septiya Nur Hasmar dari Departemen Teknik Geodesi Fakultas Teknik UGM, digitalisasi menjadi salah satu cara penting untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya.

Para peneliti mengacu pada pandangan UNESCO yang mendorong pelestarian warisan budaya dalam bentuk digital guna memastikan aksesibilitas publik, mencegah hilangnya informasi sejarah, serta menjaga keberlangsungan data untuk jangka panjang.

Selain itu digitalisasi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, penelitian, pengembangan pariwisata, hingga pengelolaan cagar budaya di masa depan.

Berangkat dari kebutuhan itu, tim peneliti memilih membuat model tiga dimensi (3D) Stasiun Kalimenur. Namun berbeda dengan metode pemindaian menggunakan teknologi LiDAR yang membutuhkan biaya besar, penelitian ini mencoba mencari alternatif yang lebih murah dan mudah diterapkan.

Rural railway platform with a small white station shed beside the tracks and trees under a clear blue sky.
Stasiun Kalimenur yang berada di Kalurahan Sukoreno, Sentolo, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Mereka mengembangkan metode low-cost multi-instrument, yakni menggabungkan penggunaan drone, kamera mirrorless, dan kamera 360 derajat untuk mendokumentasikan seluruh bagian bangunan.

Drone digunakan untuk memotret bagian atap dan area yang sulit dijangkau dari tanah. Kamera mirrorless dipakai menangkap detail eksterior dengan resolusi tinggi, sedangkan kamera 360 derajat dimanfaatkan untuk merekam kondisi interior bangunan secara menyeluruh.

Seluruh data foto kemudian diolah menggunakan metode Structure-from-Motion Multi-View Stereo (SfM-MVS) hingga menghasilkan model tiga dimensi Stasiun Kalimenur yang detail.

Penelitian ini sekaligus membuktikan bahwa dokumentasi bangunan bersejarah tidak selalu harus menggunakan peralatan survei mahal. Dengan memanfaatkan teknologi fotografi yang lebih terjangkau, proses pemodelan dapat dilakukan lebih cepat dan efisien tanpa mengurangi kualitas visual bangunan.

Hasilnya, metode tersebut mampu menghasilkan model 3D dengan detail geometri dan tekstur yang cukup baik untuk kebutuhan dokumentasi dan pelestarian.

Pentingnya Dokumentasi Digital

Dokumentasi digital ini sendiri menjadi cukup penting mengingat Stasiun Kalimenur merupakan bangunan bersejarah yang menyimpan jejak perkembangan transportasi kereta api sejak masa kolonial Belanda. 

Dibangun pada 1887 bersamaan dengan pembangunan jalur Yogyakarta-Kroya, bangunan ini juga menjadi representasi perpaduan arsitektur Eropa dan Jawa yang kini sudah sangat jarang ditemukan.

Melalui rekonstruksi digital ini, bentuk asli Stasiun Kalimenur dapat tetap tersimpan meski kondisi fisiknya terus mengalami penurunan.

Dengan begitu ketika bangunan tua itu perlahan dimakan usia, jejak sejarah yang dikandungnya tetap dapat diwariskan kepada generasi mendatang melalui teknologi digital.

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment