Mabur.co – Pergi ke pusat perbelanjaan (pasar tradisional, supermarket, mall, dan lain-lain), biasanya merupakan kebutuhan dasar sebuah keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tak jarang, para orang tua juga turut mengajak anaknya yang masih kecil, untuk ikut ke pusat perbelanjaan tersebut, dan membantu orang tua dalam membawakan barang-barang belanjaan, dan sebagainya.
Namun, melibatkan anak kecil ke pusat perbelanjaan juga bukannya tanpa risiko sama sekali.
Karakter anak-anak yang selalu ingin memiliki semua hal yang dilihatnya, serta belum memahami konsep uang, menjadi tantangan besar yang harus disikapi dengan bijak oleh para orang tua.
Tempat-tempat seperti supermarket dan mall memang seringkali memperlihatkan barang-barang yang sangat menarik daei segi visual, termasuk bagi anak kecil. Dengan sifat naluriah anak-anak seperti yang telah disebutkan sebelumnya, maka kemungkinan untuk menginginkan barang tersebut akan menjadi lebih besar, dan orang tua pun harus siap menghadapi kemungkinan tersebut.
Tentu saja orang tua tidak akan mampu memenuhi semua keinginan anak, untuk membelikan semua hal yang dilihatnya di pusat perbelanjaan. Karena aspek finansial bisa jadi taruhannya.
Dilansir dari laman School of Parenting, Kamis (25/6/2026), berikut adalah beberapa tantangan yang kerap dihadapi oleh para orang tua, ketika mengajak sang anak ke pusat perbelanjaan, dan bagaimana cara mengatasi atau setidaknya meminimalisir setiap tantangan tersebut.
1. Tantangan Secara Emosional (Tantrum)
Ketika anak memiliki keinginan membeli sesuatu yang tidak dapat dipenuhi oleh orang tuanya, biasanya anak akan langsung bereaksi dengan menangis, berteriak, atau berguling di lantai.
Semua itu tentunya akan membuat Anda sebagai orang tua menjadi tidak nyaman, dan berpotensi membuat kegaduhan di pusat perbelanjaan tersebut.
2. Munculnya Tekanan Sosial
Masih berkaitan dengan poin pertama, sifat tantrum yang dialami anak membuat orang tua mulai mengalami tekanan sosial, karena mereka harus mampu menangani sifat tantrum anaknya, yang membuat suasana di tempat tersebut menjadi berisik, sekaligus mengganggu kenyamanan orang-orang di sekitarnya.
Rasa malu dan merasa dihakimi pun menjadi sebuah keniscayaan, yang harus dialami oleh para orang tua yang mengajak anaknya ke pusat perbelanjaan.
3. Mengajarkan Impulsivitas Sejak Dini
Secara tidak langsung, mengajak anak ke pusat perbelanjaan juga mengajarkan mereka untuk bertindak impulsif, karena paparan visual yang menarik di pusat perbelanjaan dapat menarik perhatian mereka seketika, untuk meminta orang tuanya membelikan barang tersebut tanpa berpikir panjang, baik tentang harganya, kegunaannya, dan lain sebagainya.
Anak kecil yang diajak ke pusat perbelanjaan juga rentan mengalami kelelahan secara fisik, karena mereka harus berkeliling dari satu rak ke rak berikutnya (apalagi mengitari bagian yang tidak menarik), sehingga membuat mereka rewel dan bosan melakukan perjalanan ke pusat perbelanjaan tersebut.
Akhirnya anak pun kembali merengek, dan kembali mengajak orang tua untuk pulang, atau meminta dibelikan sesuatu yang lebih mereka sukai.
***
Untuk mengatasi berbagai tantangan di atas, ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh para orang tua, yang dikategorikan dalam dua bagian, yakni Pencegahan (sebelum pergi ke pusat perbelanjaan) maupun Eksekusi (saat sudah berada di lokasi pusat perbelanjaan).
Pencegahan Sebelum ke Pusat Perbelanjaan
Sebelum masuk atau pergi ke pusat perbelanjaan, buatlah kesepakatan tertulis atau seara lisan kepada sang anak. Contohnya Anda meminta anak agar perjalanan kali ini hanya untuk membeli sepatu sekolah, bukan unutk membeli mainan, jajan, atau yang lainnya.
Anak juga bisa dilibatkan dalam tugas memegang daftar belanjaan atau mencari barang yang dikehendaki orang tuanya, agar fokus mereka teralihkan dari godaan jajan atau mainan.
Pastikan sang anak telah memperoleh asupan nutrisi yang bergizi dan cukup sebelum berangkat ke pusat perbelanjaan, sehingga mampu meminimalisir kemungkinan lapar atau capek, yang bisa berakibat pada rengekan, tangisan, atau tantrum, seperti yang telah dijelaskan di atas.
Strategi Saat di Pusat Perbelanjaan (Eksekusi)
Jika anak menginginkan sesuatu yang tidak Anda kehendaki, seperti jajan atau mainan, ungkapkan bahwa barang-barang tersebut hanya bisa diperoleh ketika sudah mencapai nilai tertentu di sekolah, berbuat baik kepada orang tua, atau saat merayakan momen ulang tahun.
Hal ini setidaknya akan mampu memvalidasi keinginan mereka, tanpa harus membeli saat itu juga.
Anak seringkali menginginkan sesuatu di pusat perbelanjaan tanpa mengetahui anggaran yang dimiliki oleh orang tuanya. Untuk itu, cobalah berikan uang tunai dalam jumlah kecil (misal Rp20.000). Dan lihatlah bagaimana cara dia membeli sesuatu dengan jumlah uang tersebut.
Hal ini akan mengajarkan mereka tentang konsep hemat, efisien, dan selektif dalam memilih barang yang ingin dibeli, dan seterusnya.
Sebisa mungkin jangan sampai anak dibiarkan pergi (terpisah) tanpa sepengetahuan Anda. Hal ini penting untuk menghindarinya melewati lorong atau rak mainan maupun jajan, yang berpotensi membuat sifat impulsifnya akan kembali muncul.
Sebagai orang tua, Anda juga harus berani mengucapkan kata “tidak” pada setiap keinginan anak, sehingga anak akan belajar bahwa tidak semua hal yang dia inginkan bisa terpenuhi begitu saja.
***
Mengajak anak ke pusat perbelanjaan memang bagus untuk melatih keterampilan sosial, mengenalkan konsep nilai uang, mengasah kemampuan kognitif, serta mempererat ikatan (bonding) antara orang tua dan anak.
Namun aktivitas tersebut bisa menjadi bumerang tersendiri, jika keinginan anak yang tiada habisnya langsung dituruti begitu saja, tanpa adanya filter sedikitpun dari para orang tua.
Sekalipun jika Anda adalah orang tua yang berduit atau bahkan berstatus “Sultan” (mempunyai uang yang tidak habis-habis), itu bukan berarti bahwa seluruh keinginan anak bisa diiyakan seluruhnya.
Harus ada pembelajaran penting yang ditanamkan kepada mereka, bahwa punya uang bukan berarti semua barang bisa dimiliki begitu saja, termasuk juga soal peruntukan dan fungsi dari barang tersebut, yang hampir pasti tidak terlalu dibutuhkan ketika sudah sampai di rumah.
Karena anak umumnya masih belum bisa membedakan mana yang “dibutuhkan” dan mana yang “diinginkan”, serta mudah tergiur oleh promo atau tawaran-tawaran menarik yang tersedia di berbagai pusat perbelanjaan tersebut.
Di sinilah pentingnya orang tua juga memiliki kesadaran dan pengetahuan, agar semua kemungkinan di atas tidak perlu dialami secara langsung, dan kegiatan berbelanja tetap bisa dilakukan dengan aman dan nyaman. (*)

