Ini Alasan Pantai Glagah Dipilih Jadi Lokasi Labuhan Kadipaten Pakualaman

3 Min Read
Crowd gathers on a dark-sand beach for a traditional ceremony as a tall decorated bamboo structure is carried forward.
Suasana tradisi Labuhan Kadipaten Pakualaman di kawasan Pantai Glagah Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Tradisi Hajad Dalem Labuhan Kadipaten Pakualaman yang rutin digelar setiap bulan Suro selalu digelar di kawasan Pantai Glagah, Temon, Kulon Progo, Yogyakarta. 

Pemilihan Pantai Glagah sebagai lokasi ritual Labuhan itu ternyata tidak dilakukan secara sembarangan. Ada alasan khusus kenapa Raja Kadipaten Pakualaman akhirnya memilih lokasi ini sebagai tempat pelaksanaan ritual tahunan.

Menurut KRMT Sestro Diprojo serta Raden Riyo Budyo Kartiyoso, yang merupakan Abdi Dalem Kadipaten Pakualaman, hal itu tak lepas karena sejarah Pantai Glahah itu sendiri sebagai bagian dari wilayah kekuasaan Kadipaten Pakualaman.

Ia menyebut bahwa Kadipaten Pakualaman selama ini memiliki wilayah kekuasaan di 4 Kecamatan di Kabupaten Kulonprogo, yakni Galur, Panjatan, Wates, dan Temon.

Di wilayah Temon sendiri Kadipaten Pakualaman tercatat memiliki sejumlah bangunan bersejarah yakni Makam Astana Girigondo yang merupakan makam Raja-Raja Pakualaman. Makam ini didirikan sekitar tahun 1900 oleh KGPAA Pakualam V yakni di wilayah desa/kalurahan Kaligintung. 

Selain itu di wilayah Temon, Kadipaten Pakualaman juga memiliki tempat bersejarah yakni Pesanggrahan Glagah yang terletak di desa Glagah sekitar 1 kilometer dari Pantai Glahah. Pesanggrahan Glagah, ini juga didirikan oleh KGPAA Paku Alam V.

Small white pavilion with a red tiled roof in a tropical setting, surrounded by palm trees and rows of white-covered tables for an outdoor event.
Pesanggrahan Glagah yang terletak di desa Glagah Temon Kulonprogo (foto : JH Kusmargana)

“Dahulu, pesanggrahan tersebut digunakan sebagai tempat beristirahat atau mesanggrah bagi keluarga Kadipaten Pakualaman saat melakukan perjalanan ke wilayah pesisir selatan,” ujar Kartiyoso. 

Tidak hanya sebagai tempat singgah, Pesanggrahan Glagah selama ini juga kerap dijadikan sebagai tempat untuk tetirah, menyepi, sekaligus melakukan olah batin. 

Dalam tradisi Jawa, tetirah dipercaya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Tuhan serta mencari ketenangan batin, bahkan diyakini sebagai tempat memperoleh wisik atau petunjuk spiritual.

“Pesanggrahan Glagah ini kan dibangun di depan Sungai Serang. Karena memang juga digunakan untuk tetirah, atau melakukan olah batin,” katanya.

Karena nilai sejarah dan spiritual itulah, kawasan Glagah kemudian dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan Hajad Dalem Labuhan Kadipaten Pakualaman hingga sekarang. 

Dalam setiap pelaksanaannya prosesi ritual akan selalu diawali dari Pesanggrahan Glagah. Yakni dengan menggelar kirab pasukan Bregodo serta arak-arakan gunungan berisi hasil bumi dan ubo rampe. Dimulai dari Pesanggrahan Glagah menuju pendopo di kawasan Pantai Glagah yang Berjarak 1 kilometer. 

Tradisi Labuhan sendiri digelar sebagai simbol penyucian diri sekaligus doa agar masyarakat dan pemimpin senantiasa diberikan keselamatan, ketenteraman, serta dijauhkan dari berbagai marabahaya.

BACA JUGA : Kadipaten Pakualaman Gelar Tradisi Labuhan di Pantai Glagah, Warga Antusias Berebut Gunungan

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment