Pesanggrahan Glagah, Lokasi Mistis untuk Tetirah Raja Kadipaten Pakualaman

4 Min Read
Small white pavilion with a red tiled roof in a tropical setting, surrounded by palm trees and rows of white-covered tables for an outdoor event.
Pesanggrahan Glagah yang terletak di Desa Glagah, Temon, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Setiap tanggal 10 bulan Suro dalam penanggalan Jawa, Kadipaten Pakualaman rutin menggelar prosesi Hajad Dalem Labuhan Di kawasan Pantai Glagah, Kulon Progo. 

Tradisi yang sudah berlangsung selama ratusan tahun ini biasanya akan selalu diramaikan oleh ribuan warga masyarakat yang turut hadir untuk mengikuti setiap prosesi. 

Namun, tak banyak yang tahu bahwa awal mula tradisi Labuhan tersebut dari keberadaan Pesanggrahan Glagah, sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan Kadipaten Pakualaman di wilayah Kulon Progo.

Lokasi Tetirah

Sebelum digunakan sebagai tempat singgah prosesi Labuhan, pesanggrahan yang berada di Padukuhan Kretek, Kalurahan Glagah, Kapanewon Temon ini dulunya merupakan tempat peristirahatan sekaligus lokasi tetirah penguasa Kadipaten Pakualaman. 

Kini bangunan ini menjadi salah satu cagar budaya penting di Kulon Progo yang secara resmi ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya melalui SK Bupati Kulon Progo Nomor 421/A/2019 tanggal 12 Desember 2019.

Ceremonial procession with men in traditional clothing carrying a tall straw sculpture on poles, near a white gate and green banners.
Sejumlah abdi dalem keluar dari Pesanggrahan Glagah untuk memulai Kirab sambil membawa Gunungan dalam Tradisi Labuhan Kadipaten Pakualaman (foto: JH Kusmargana)

Dikutip dari situs resmi Kemendikbud, Jumat (26/6/2026), Pesanggrahan Glagah dibangun oleh KGPAA Paku Alam V pada masa pemerintahannya sekitar tahun 1878–1900.

Awalnya, bangunan ini berbentuk joglo dan difungsikan sebagai tempat beristirahat ketika Paku Alam V melakukan peninjauan pembukaan kawasan rawa di wilayah Glagah menjadi lahan pertanian untuk masyarakat.

Tak hanya itu, Paku Alam V juga memprakarsai pembangunan saluran air yang bermuara ke Laut Selatan untuk mengeringkan rawa sehingga kawasan tersebut menjadi lebih subur dan dapat dimanfaatkan sebagai areal persawahan. 

Jejak pembangunan inilah yang menjadikan Pesanggrahan Glagah memiliki nilai sejarah, bukan hanya bagi Kadipaten Pakualaman, tetapi juga bagi perkembangan wilayah pesisir Kulon Progo.

Group of drummers in ceremonial black-and-gold uniforms marching with flags during a sunny street parade, spectators watching from the sidewalk.
Sejumlah pasukan Bregodo Plangkir keluar dari Pesanggrahan Glagah untuk memulai Kirab dalam Tradisi Labuhan Kadipaten Pakualaman (foto: JH Kusmargana)

Memasuki masa pemerintahan Paku Alam VI dan Paku Alam VII, fungsi pesanggrahan terus berkembang dengan penambahan sejumlah bangunan pendukung. Adapun bangunan yang berdiri hingga kini merupakan hasil renovasi pada 1957.

Dikutip dari situs resmi Dinas Kebudayaan DIY, kompleks pesanggrahan ini sendiri berdiri di atas lahan sekitar satu hektare. Bangunan utama pesanggrahan ini dibangun dengan gaya arsitektur Indis beratap limasan pacul gowang, dilengkapi gandhok, dapur, kamar mandi, hingga sumur tua. 

Di halaman depan juga terdapat sebuah prasasti batu andesit bertuliskan aksara Jawa, meski sebagian tulisannya kini sudah tidak lagi terbaca.

Selain menjadi bangunan bersejarah, Pesanggrahan Glagah juga menjadi bagian penting pelaksanaan Hajad Dalem Labuhan. Dimana seluruh rangkaian upacara akan selalu diawali dengan doa bersama di kompleks pesanggrahan sebelum kirab menuju Pantai Glagah dimulai.

Menurut Abdi Dalem Panitikismo Kadipaten Pakualaman, KRMT Sestro Diprojo, Pesanggrahan Glagah didirikan oleh KGPAA Paku Alam V sebagai tempat beristirahat sekaligus lokasi tetirah atau melakukan olah batin. 

Group of red-clad parade participants marching with long red spears along a street, palm trees in the background.
Sejumlah pasukan Bregodo Lombok Abang keluar dari Pesanggrahan Glagah untuk memulai Kirab dalam Tradisi Labuhan Kadipaten Pakualaman (foto: JH Kusmargana)

Dalam tradisi Jawa, tetirah dipercaya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Tuhan serta mencari ketenangan batin, bahkan diyakini sebagai tempat memperoleh wisik atau petunjuk spiritual.

“Pesanggrahan Glagah ini kan dibangun di depan Sungai Serang. Karena memang juga digunakan untuk tetirah, atau melakukan olah batin,” katanya.

Karena nilai sejarah dan spiritual itulah, kawasan Glagah kemudian dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan Hajad Dalem Labuhan Kadipaten Pakualaman hingga sekarang. 

Hingga saat ini, Pesanggrahan Glagah sendiri masih difungsikan sebagai lokasi peristirahatan keluarga besar raja Kadipaten Pakualaman. Tempat ini juga dijaga oleh Abdi Dalem yang bertugas mengurus Pesanggrahan tersebut. 

Sayangnya Pesanggrahan Glagah ini tidak dibuka untuk umum, sehingga tidak bisa dikunjungi masyarakat. Biasanya Pesanggrahan hanya dibuka setahun sekali saat tradisi Labuhan Pakualaman setiap tanggal 10 Suro digelar. 

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment