Program Lumbung Mataraman Bulak Peni Berhasil Panen Kembang Kol di Dataran Rendah

3 Min Read
Two men stand in a cabbage field, inspecting large green cabbage heads.
Komoditas kembang kol yang berhasil dibudidayakan di Lumbung Mataraman Bulak Peni, Giripeni, Kulon Progo. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Program Lumbung Mataraman Bulak Peni di Kalurahan Giripeni, Kapanewon Wates, Kabupaten Kulon Progo, berhasil membudidayakan komoditas kembang kol di wilayah dataran rendah.

Tanaman yang umumnya tumbuh optimal di daerah dengan suhu lebih dingin seperti Temanggung dan Wonosobo itu mampu menghasilkan panen cukup baik meski ditanam di kawasan Wates.

Panen Mencapai 7 Kuintal

Kembang kol ditanam di lahan seluas sekitar 1.200 meter persegi dengan jumlah tanaman mencapai sekitar 1.200 batang. Dari lahan tersebut, hasil panen diperkirakan mencapai 6 hingga 7 kuintal.

Menariknya, budidaya kembang kol tersebut baru pertama kali dilakukan di Lumbung Mataraman Bulak Peni. Hasilnya pun dinilai cukup menjanjikan. Beberapa kembang kol bahkan memiliki bobot hingga satu kilogram per tanaman.

Ketua Lumbung Mataraman Bulak Peni, Untung Suharjo, mengatakan keberhasilan tersebut salah satunya dipengaruhi kondisi cuaca selama musim kemarau.

“Hasilnya cukup bagus. Satu tanaman bisa menghasilkan kembang kol seberat 0,7 hingga 1 kilogram. Ini tergolong  tinggi,” ujar Untung.

Menurutnya, suhu yang relatif dingin selama Juli-Agustus membuat kondisi lingkungan di Bulak Peni cukup mendukung pertumbuhan kembang kol.

Panen sendiri dilakukan setiap sore hari. Hasilnya kemudian langsung dijual kepada pembeli yang terdiri dari pedagang maupun petani di sekitar wilayah tersebut.

Pembeli Antusias

Antusiasme pembeli membuat pemasaran hasil panen berjalan relatif lancar. Kondisi ini sekaligus menunjukkan peluang pengembangan komoditas hortikultura di lahan dataran rendah Kulon Progo.

Selain menghasilkan komoditas pertanian, keberadaan Lumbung Mataraman Bulak Peni juga mulai dirasakan manfaatnya oleh petani setelah berjalan sekitar satu tahun.

Salah satu program yang diberikan adalah penyediaan sarana produksi pertanian atau saprotam, terutama bibit tanaman, yang dapat diperoleh petani tanpa harus mengeluarkan modal awal.

Sejumlah komoditas yang dikembangkan antara lain melon, kembang kol, bawang merah, dan cabai.

Petani mendapatkan bibit dari Lumbung Mataraman untuk kemudian ditanam dan dirawat hingga panen. Hasil panen selanjutnya dijual kepada masyarakat maupun pemasok bahan pangan.

Sebagian hasil penjualan kemudian dikembalikan ke Lumbung Mataraman sebagai modal untuk menjalankan kegiatan berikutnya. Sementara petani memperoleh bagian dari hasil penjualan sesuai sistem bagi hasil yang diterapkan.

Lurah Giripeni, Iswanto Adi Saputro, mengatakan skema tersebut diharapkan dapat membantu petani mendapatkan akses modal dan sarana produksi dengan lebih mudah.

“Sudah banyak sekali petani di Giripeni yang memanfaatkan bibit dari Lumbung Mataraman ini. Mereka senang karena sangat diuntungkan,”  kata Iswanto.

Dengan pola tersebut, petani tidak perlu sepenuhnya mengandalkan modal pribadi untuk memulai kegiatan budidaya. Ke depan, pengelola berencana memperluas kebun bibit agar mampu memenuhi kebutuhan petani di Giripeni.

Lumbung Mataraman Bulak Peni juga disiapkan untuk mengembangkan lahan bawang merah seluas sekitar satu hektare dan lahan padi seluas lima hektare.

Pengembangan tersebut diharapkan membuat Lumbung Mataraman tidak hanya menjadi tempat produksi pertanian, tetapi juga memperkuat akses petani terhadap bibit, modal produksi, hingga pemasaran hasil panen.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar