Tabuik Naiak Pangkek, Prosesi Sakral Penyatuan Menara Raksasa di Kota Pariaman

5 Min Read
Tradisi Tabuik Naiak Pangkek di Kota Pariaman. (Foto: indonesiakaya.com)

Mabur.co – Kota Pariaman, Sumatera Barat, memiliki tradisi unik setiap bulan Muharram. Tradisi ini bahkan telah menjadi identitas budaya sekaligus daya tarik wisata bagi Kota Pariaman.  

Tradisi itu adalah Tabuik Naiak Pangkek yang merupakan bagian dari ritual budaya dalam kegiatan Pesona Budaya Hoyak Tabuik Piaman.

Berlangsung sejak pagi, tradisi ini biasa digelar secara terpisah oleh dua kelompok yakni Tabuik Pasa di kawasan Lapangan Merdeka dan Tabuik Subarang di Simpang Kampung Cino. 

Masing-masing kelompok menyelesaikan penyatuan menara Tabuik yang sebelumnya dibuat dalam beberapa bagian terpisah.

Simbol Persatuan

Dikutip dari situs resmi kota Pariaman, Senin (29/6/2026), tradisi Naiak Pangkek bukan sekadar menyusun sebuah bangunan raksasa. Ritual ini menjadi simbol persatuan, gotong royong, sekaligus puncak kerja keras ratusan anak nagari yang telah mempersiapkan Tabuik selama berhari-hari.

Dalam bahasa Minang, Naiak Pangkek berarti menaikkan atau menyambungkan bagian-bagian Tabuik hingga menjadi satu kesatuan utuh.

Sejak Subuh, puluhan pembuat Tabuik bekerja bersama menyatukan bagian bawah, badan, hingga bagian puncak menara yang tingginya mencapai belasan meter.

Tahap ini menjadi pekerjaan paling berat karena setiap bagian harus dipasang dengan presisi. Sedikit saja kesalahan dapat mengganggu keseimbangan Tabuik yang nantinya akan diarak keliling kota.

Setelah badan Tabuik tersusun, para pembuat akan memasang berbagai ornamen penting, mulai dari kepala buraq, bendera, payung hias, hingga berbagai dekorasi berwarna-warni yang menjadi ciri khas Tabuik Pariaman.

Seluruh proses dilakukan di tengah tabuhan gandang tasa, musik tradisional Minangkabau yang mengiringi setiap tahapan ritual. Irama tabuhan yang semakin cepat membangkitkan semangat para pembuat sekaligus menyulut antusiasme ribuan penonton.

Salah satu bagian paling menarik perhatian adalah pemasangan kepala buraq, makhluk mitologis berwajah manusia, berbadan kuda dan bersayap.

Dalam tradisi Tabuik, buraq menjadi simbol kendaraan yang mengantarkan roh manusia menuju surga. Kehadiran buraq sekaligus menjadi penanda bahwa Tabuik telah sempurna dan siap diarak dalam prosesi Hoyak Tabuik.

Wakil Wali Kota Pariaman, Mulyadi, mengatakan, prosesi Naiak Pangkek menggambarkan semangat gotong royong masyarakat Pariaman yang diwariskan turun-temurun.

Colorful festival float resembling an ornate elephant rises among a crowd as workers climb scaffolds to adjust decorations.
Tradisi Tabuik Naiak Pangkek di kota Pariaman (foto: Indonesiakaya.com)

“Jadi filosofi dari tabuik ini sangat kami pelihara sekali di Pariaman bahwasanya kegotong royongan ini bisa meringankan segala hal yang berat. Bagaimana yang bekerja mengangkat beban berat tersebut dan pekerja lainnya serta masyarakat memberikan semangat dan support sehingga tabuik yang luar biasa beratnya itu bisa diangkat. Digabungkan menjadi satu bagian tabuik yang utuh,” terang Mulyadi.

Menurutnya, semangat kebersamaan itulah yang ingin terus dijaga Pemerintah Kota Pariaman melalui pelestarian tradisi Tabuik.

“Hal seperti inilah yang selalu kami pelihara, rasa semangat kegotong royongan dan rasa semangat kebersamaan yang selalu terpelihara di Kota Pariaman sampai hari ini. Inilah salah satu contohnya bagaimana pemerintah Kota Pariaman tetap menjaga budaya tabuik ini tetap terpelihara dengan baik, tetap eksis dan tetap ada sampai anak cucu kita nanti,” ulas Mulyadi.

Identitas Pariaman

Wali Kota Pariaman, Yota Balad, menegaskan bahwa Tabuik merupakan festival budaya yang telah menjadi identitas masyarakat Pariaman. Ia juga menyebut bahwa tradisi ini tidak memiliki keterkaitan dengan agama manapun.

“Perlu saya tegaskan bahwa, tabuik ini adalah festival budaya murni dan tidak ada unsur keagamaan di dalamnya. Tabuik budaya ini perlu kita jaga dan lestarikan karena bisa menunjukkan atau memberikan magnet wisata kepada Kota Pariaman,” terang Yota Balad.

Dalam setiap pelaksanaannya, tradisi Tabuik Naiak Pangkek selalu mendapat antusiasme dari masyarakat secara luas. Ribuan warga baik itu masyarakat lokal maupun perantau Minang yang sengaja pulang kampung untuk menyaksikan prosesi tersebut.

Usai seluruh bagian tersusun sempurna, dua Tabuik raksasa secara resmi siap memasuki prosesi Hoyak Tabuik, yakni arak-arakan keliling Kota Pariaman.

Ribuan orang kemudian mengangkat menara Tabuik secara bergantian sambil menggoyang-goyangkannya mengikuti irama gandang tasa. Suasana meriah tersebut menjadi puncak festival yang selalu dinanti masyarakat.

Menjelang matahari terbenam, kedua Tabuik kemudian dilarung ke laut di Pantai Gandoriah sebagai penutup seluruh rangkaian tradisi.

Share This Article
Avatar photo
Lahir di Jogja. Fans Man Utd.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar