Mabur.co – Gunung Lanang di Dusun Bayeman, Kalurahan Sindutan, Temon, menjadi salah satu situs bersejarah tertua di Kabupaten Kulon Progo yang masih jarang diketahui.
Terletak di ujung barat wilayah DIY, situs ini hanya berjarak beberapa meter dari landasan pesawat di bandara Yogyakarta International Airport (YIA) Kulon Progo.
Situs atau petilasan yang juga dikenal sebagai Astana Jingga atau Badraloka Mandira ini kerap menjadi lokasi untuk melakukan ritual tirakat bagi masyarakat yang menganut kepercayaan Kejawen.
Sejumlah pelaku tirakat percaya tempat ini memiliki kekuatan gaib yang mampu memberikan kenaikan derajat, pangkat, dan kedudukan.

Setiap tahunnya, hingga saat ini, yakni tepat pada malam 1 Suro, sebuah ritual besar rutin digelar di tempat ini. Yakni ritual tradisi Ruwatan Agung Tumapaking Laku Suci.
Selain menggelar pertunjukan wayang dengan persembahan sesaji kepala kerbau, dalam tradisi ini juga dilakukan ritual ruwatan atau mandi kembang, dilanjutkan ritual larungan atau membuang sesaji ke laut selatan sebagai simbol penyucian diri.
Tersembunyi di tengah areal persawahan yang sepi, petilasan Gunung Lanang sendiri sebenarnya merupakan sebuah bukit kecil yang lebih menyerupai gundukan tanah pasir setinggi kurang dari 3 meter.
Pada puncaknya, didapati sebuah bangunan mirip monumen yang diberi nama Sasana Sukma. Puncak ini merupakan tempat dilakukannya berbagai ritual tirakat.
Sebelum masuk ke puncak tersebut, di bawahnya terdapat bangunan terbuka yang dikelilingi pepohonan rimbun dan terdiri dari empat trap. Tempat ini disebut Candi Wisuda Panitisan.

Sementara itu, di sebelah barat petilasan Gunung Lanang, terdapat sebuah mata air atau sendang dengan kompleks bangunan yang digunakan sebagai lokasi ritual ruwatan dan mandi kembang.
Tempat ini disebut Graha Kencana dan Tirta Kencana. Di sini terdapat sebuah sumur tua yang airnya dipercaya memiliki tuah tertentu sehingga cukup dikeramatkan.
Dalam kompleks Tirta Kencana juga ada hiasan semacam prasasti terbuat dari semen yang diberi nama Prasasti Ajisaka. Bentuknya mirip pohon dengan dahan dan ranting dengan tulisan aksara Jawa.
Sejarah Gunung Lanang
Menurut penuturan warga sekitar termasuk keterangan Lurah Sindutan, Sumarwanto, kompleks petilasan Gunung Lanang sudah dikenal sebagai lokasi sakral dan keramat sejak era sebelum kemerdekaan.
Pada masa itu tempat ini ramai digunakan ritual pada malam-malam tertentu seperti malam Selasa dan Jumat Kliwon. Sehingga banyak warga sekitar yang berjualan dan membuatnya menjadi semacam pasar.

Awal mula keberadaan Gunung Lanang sendiri dipercaya sudah ada sejak ratusan tahun silam. Konon tempat ini merupakan petilasan atau tempat bertapa seorang bangsawan dari zaman Mataram Hindu Kuno.
Lalu, pada masa kerajaan Mataram Islam, tempat ini juga digunakan sebagai lokasi tirakat atau ritual semedi seorang tokoh besar yakni Raja Mataram Islam yang bergelar Amangkurat.
Belum diketahui secara pasti apakah Amangkurat I atau Amangkurat II tokoh tersebut. Namun menurut cerita lisan, sosok raja Mataram Islam itu sampai ke tempat ini setelah melakukan pelarian dari kerajaannya akibat adanya pemberontakan besar.
BACA JUGA: Malam 1 Suro Warga Kulon Progo Jalani Tradisi Ruwatan Mandi Kembang
Merujuk fakta sejarah, peristiwa tersebut kemungkinan besar adalah peristiwa Geger Trunojoyo atau pemberontakan yang dilakukan oleh Raden Trunojoyo asal Madura sekitar tahun 1675-1677 Masehi.
Akibat serangan itu Keraton Mataram yang berkedudukan di Pleret dibumihanguskan oleh pasukan Trunojoyo. Sehingga Raja Mataram saat itu yakni Amangkurat I melarikan diri ke arah barat bersama seorang putra mahkota yang kelak bergelar Amangkurat II.

Keduanya berjalan kaki menuju Cilacap dengan melalui rute jalur selatan Jawa. Amangkurat I sendiri diketahui wafat dalam upaya pelarian tersebut yakni pada 10 Februari 1677 Masehi di Banyumas dan dimakamkan di Tegal Arum.
Konon di dalam pelarian itulah Amangkurat II sempat bersembunyi dan menetap di Gunung Lanang. Diceritakan bahwa Amangkurat kerap melakukan tirakat, Sementara istrinya tinggal di sebelah barat Gunung Lanang, yang kini menjadi kompleks Tirta Kencana.
Setelah melakukan tirakat di Gunung Lanang, Amangkurat II dengan bantuan Belanda akhirnya berhasil merebut kembali kerajaan milik ayahnya dari tangan pemberontak dan menjadi raja.
Sejak saat itulah Gunung Lanang dipercaya memiliki kekuatan gaib sehingga kerap digunakan ritual untuk memohon derajat pangkat dan kedudukan. Bahkan menurut cerita Gunung Lanang ini juga menjadi tempat tirakat banyak tokoh besar termasuk Sri Sultan HB IX hingga Presiden Soeharto.
“Dulu kompleks ini hanya sendang biasa. Tapi kemudian dibangun oleh sejumlah donatur yang dulu pernah ritual di sini dan telah berhasil serta mendapat kedudukan di Jakarta, sehingga bangunannya menjadi seperti sekarang,” katanya. ***

