Jogja International Kite Festival, Hadirkan 17 Negara

4 Min Read
Dragon head sculpture with sharp teeth and orange eye, indoors among colorful hanging banners and lantern-like decorations.
Layang-layang berbentuk naga. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Mabur.co- Jogja International Kite Festival (JIKF) adalah festival layang-layang internasional yang diadakan di Yogyakarta,

Acara ini menarik peserta dari berbagai negara untuk memamerkan berbagai jenis layang-layang, mulai dari yang tradisional hingga layang-layang modern dengan desain yang kreatif dan unik.

Festival ini biasanya diadakan setiap tahun dan menjadi ajang pertemuan para pecinta layang-layang, baik lokal maupun internasional.

Memasuki penyelenggaraan ke-11, Jogja International Kite Festival (JIKF) kembali digelar dengan konsep yang lebih beragam yang akan berlangsung di Pantai Parangkusumo, Bantul, pada 11–12 Juli 2026.

Tahun ini, JIKF menghadirkan peserta dari 17 negara, puluhan klub layang-layang nasional, serta sejumlah program baru yang belum pernah diselenggarakan pada edisi sebelumnya.

Ketua Jogja International Kite Festival, Anang Sarjiyanto, mengatakan penyelenggaraan tahun ini mengusung tema Melayang Bersama Keluarga Membentuk Generasi Emas.

“Festival diharapkan menjadi ruang berkumpul bagi keluarga sekaligus mempererat hubungan antara orang tua dan anak melalui berbagai aktivitas bersama. Kondisi saat ini, menunjukkan interaksi dalam keluarga mulai berkurang akibat kesibukan masing-masing,” ujarnya, Rabu (1/7/2026).

Man in a white shirt seated on a beige couch speaks into a handheld microphone, with a vibrant mural of green leaves behind him.
Ketua Jogja International Kite Festival, Anang Sarjiyanto. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Anang mengatakan, festival layang-layang tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana membangun kembali kebersamaan keluarga melalui kegiatan kreatif.

Momentum Libur Sekolah

“Momentum libur sekolah kami manfaatkan agar keluarga memiliki ruang untuk berkegiatan bersama. Kami ingin hubungan orang tua dan anak semakin dekat melalui aktivitas yang positif, sekaligus membentuk karakter generasi emas,” ucapnya.

Anang mengatakan, selain atraksi internasional, sebanyak 45 klub layang-layang dari berbagai daerah di Indonesia akan mengikuti kompetisi nasional memperebutkan Piala Raja.

Peserta berasal dari Bali, Kalimantan, Lampung, Blitar, dan sejumlah daerah lainnya. Selain kompetisi dan atraksi udara, JIKF 2026 juga menghadirkan sejumlah program edukatif. Salah satunya adalah seminar dan praktik fotografi udara menggunakan layang-layang atau kite aerial photography.

Teknik ini memanfaatkan kamera yang dipasang pada layang-layang untuk menghasilkan foto dari ketinggian tanpa menggunakan drone maupun helikopter.

Kegiatan tersebut akan berlangsung pada 7–9 Juli 2026 dan menyasar mahasiswa, pelajar, komunitas fotografi, serta masyarakat umum yang ingin mempelajari teknik fotografi udara dengan biaya relatif lebih terjangkau dan ramah lingkungan.

“Kami ingin memperkenalkan teknik fotografi udara menggunakan layang-layang. Selama ini masyarakat lebih mengenal drone atau helikopter, padahal layang-layang juga dapat menghasilkan foto udara yang unik dan menarik,” katanya.

Anang mengatakan, JIKF 2026 juga menghadirkan agenda baru berupa Festival Layang-Layang Tingkat Daerah di Kabupaten Kulon Progo.

“Festival ini menjadi yang pertama kali diselenggarakan di wilayah tersebut,” katanya.

Penentuan Lokasi Tidak Mudah

Anang menjelaskan proses penentuan lokasi tidak berlangsung mudah karena sebagian besar wilayah masuk dalam kawasan keselamatan operasional penerbangan sehingga tidak memungkinkan digunakan untuk menerbangkan layang-layang.

Setelah melalui koordinasi dengan berbagai pihak, panitia memilih kawasan persawahan di sekitar Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) dekat bandara Yogyakarta sebagai lokasi penyelenggaraan.

Lokasi tersebut dinilai aman karena berada di luar jalur lalu lintas utama dan tidak mengganggu aktivitas penerbangan.

“Festival daerah ini juga menjadi sarana edukasi bagi komunitas layang-layang lokal mengenai prosedur keselamatan saat menerbangkan layang-layang,” katanya.

Sementara itu, peserta asal Lituania, Saula, mengaku terkesan dengan Indonesia yang untuk pertama kalinya ia kunjungi.

Menurutnya, Indonesia memiliki panorama yang indah sekaligus menawarkan tantangan baru bagi para pemain layang-layang internasional.

Woman with short dark hair wearing a blue top and a heart-shaped pendant, seated indoors with a mural in the background.
Peserta asal Lituania, Saula. (Foto: Setiaky.A.Kusuma)

Ia mengaku penasaran dengan karakter angin di Indonesia yang berbeda dibandingkan dengan negaranya sehingga membutuhkan teknik khusus saat menerbangkan layang-layang.

“Indonesia sangat istimewa dan sangat indah. Saya tertantang karena karakter anginnya berbeda sehingga saya harus memikirkan cara terbaik untuk menerbangkan layang-layang di sini,” ujarnya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar