Mabur.co – Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, menyebut Sutan Takdir Alisjahbana (STA) sebagai salah satu tokoh yang berperan besar dalam modernisasi bahasa Indonesia hingga menjadi bahasa persatuan nasional seperti sekarang.
Menteri yang akrab disapa Gus Ipul itu mengatakan bahwa salah satu warisan terbesar Sutan Takdir Alisjahbana adalah perjuangannya mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa modern sehingga bisa digunakan oleh semua masyarakat di Indonesia.
Hal tersebut diungkapkan Menteri Sosial dalam Seminar Nasional bertema “Menelaah Jejak Kepahlawanan Sutan Takdir Alisjahbana (STA): Kontribusi bagi Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Kebudayaan Indonesia” yang diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional, Selasa (30/07/2026).
Seminar ini digelar sebagai bagian tahapan pengusulan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) sebagai Pahlawan Nasional Tahun 2026.
“Ada yang berjuang merebut kemerdekaan, ada pula yang mengisi kemerdekaan dengan bahasa pendidikan dan kebudayaan. Keduanya sama-sama penting, sebab setelah sebuah bangsa merdeka, masih ada pertanyaan besar. Bangsa seperti apa yang ingin kita bangun, dan bagaimana rakyat dari berbagai daerah dapat hidup sebagai satu bangsa,” katanya sebagaimana dilansir Antara, Rabu (01/07/2026).
Rekam Jejak Luar Biasa STA
Lebih lanjut, Gus Ipul mengatakan bahwa STA memiliki rekam jejak luar biasa meliputi penulisan tata bahasa Indonesia pertama pada era pendudukan Jepang, pelopor angkatan Pujangga Baru melalui karya sastra dan polemik kebudayaan, hingga upaya mendirikan Yayasan Memajukan Ilmu dan Kebudayaan (YMIK).
Sutan Takdir Alisjahbana menurutnya tidak hanya dikenal sebagai sastrawan, ahli bahasa, namun sekaligus juga seorang pemikir kebudayaan, pendidik, dan pendiri lembaga pendidikan.
“Ia ikut membangun cara bangsa Indonesia berpikir. Ia tidak hanya menggunakan bahasa Indonesia untuk menulis, tetapi ikut mempersiapkannya agar mampu menjadi bahasa persatuan, bahasa pendidikan, dan bahasa ilmu pengetahuan,” jelasnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional, Nana Yuliana, selaku Ketua Panitia Seminar menyampaikan, pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana masih sangat relevan untuk melihat kembali arah budaya Indonesia di tengah persaingan global menuju Indonesia Emas 2045, yang menekankan pembangunan manusia yang berkarakter.
“Dengan jasa dan pemikiran beliau yang begitu banyak, Universitas Nasional dengan dukungan Bapak/Ibu semuanya, akan mengajukan STA sebagai calon penerima gelar pahlawan pada tahun 2026 ini,” katanya.

