Budaya Sepeda dan Pergeseran Transportasi, Masyarakat Ingin Efisien

4 Min Read
Ketua Paguyuban Onthel Djogjakarta (Podjok), Muntowil, berfoto dengan sepeda kesayangannya Merek Simplek Amsterdam tahun 1945. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur,co- Beragam komunitas sepeda tumbuh dan aktif di Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain disatukan kegemaran bersepeda, komunitas-komunitas itu juga turut mendorong budaya bersepeda di masyarakat.

Jenis sepeda yang dipakai pun beraneka, dari onthel puluhan tahun hingga sepeda setinggi lebih dari 3 meter.

Muntowil menunjukkan deretan sepeda onthel yang terparkir rapi di rumahnya, Sabtu (4/7/2026) siang. Meski usianya sudah puluhan tahun, sepeda-sepeda tersebut masih tampak terawat. Adapun onthel merujuk sebagai sepeda kuno keluaran Eropa berukuran besar, karena disesuaikan postur orang Eropa.

Ketua Paguyuban Onthel Djogjakarta (Podjok), Muntowil mengatakan, Paguyuban Onthel Djogjakarta (Podjok) didirikan atas kegelisahan tentang Yogyakarta.

“Waktu itu kami bertiga Bagus Satrio, Ananta, dan saya sendiri sebagai sahabat bersepeda mengerucutkan kegelisahan. Awal tahun 2000, kami sering ketemu bertiga dengan berbagai background. Waktu itu masih sekolah, Ananta masih mahasiswa waktu itu, kuliah di ISI Yogyakarta dan juga seorang pelukis.

Ananta juga mengoleksi sepeda namanya Ananta Edan. Satunya lagi Bagus Satrio. Sebagai sahabat saya ia bekerja di pengiriman barang, jadi forwarder ekspor. Sama-sama juga, saya juga seperti itu,” ujar Muntowil.

Pergeseran Alat Transportasi

Berbagai pertemuan membuat adanya pertemuan kegelisahan antar-sahabat. Pergeseran waktu dan akhirnya pergeseran alat transportasi ternyata berimbas sangat dahsyat.

Apalagi, waktu itu semakin banyak dan mudah orang mendapatkan motor. Tinggal ke dealer kemudian membawa ID card bisa mendapatkan sebuah kendaraan. Baik motor maupun roda empat.

Namun jangan lupa, Yogyakarta pernah menjadi kota sepeda. Hampir setiap hari sepeda-sepeda bersliweran di jalanan kota.

Mulai dari anak sekolah, mahasiswa, hingga orang tua sama-sama gowes. Tapi kini situasinya sudah berbeda. Keberadaan sepeda di Kota Gudeg mulai tersisih oleh sepeda motor.

“Kalau dibilang Yogyakarta sebagai kota sepeda, iya itu benar. Tapi itu dulu tahun 1960 sampai 1990. Sepeda kala itu jadi alat transportasi yang sangat familiar,” kata Muntowil saat ditemui di rumahnya, di Bantar Wetan, Banguncipto, Sentolo, Kulon Progo.

Muntowil atau yang akrab disapa Towil mengatakan, dirinya prihatin melihat peran sepeda yang mulai tergusur sepeda motor dan mobil. Sehingga pelan tapi pasti peran sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari di Yogyakarta mulai terlupakan.

“Itu semua menjadi kegelisahan saya pribadi,” katanya.

Towil mengatakan lagi, kemajuan zaman membuat masyarakat ingin transportasi lebih efisien dan lebih instan.

Gejolak tersebut sudah terasa mulai dari tahun 2000. Hal ini membuat Towil berkeinginan untuk mengembalikan julukan Yogyakarta sebagai kota sepeda.

Towil mengatakan lagi, ada berbagai macam merek sepeda onthel, misalnya Gazelle, Raleigh, Simplex, Burgers, Humber, Fongers, dan sebagainya.

“Sepeda-sepeda itu produksi pabrikan dari sejumlah negara, misalnya Belanda, Jerman, Inggris, India, dan Jepang,” katanya.

Cluttered storage room filled with numerous bicycles parked close together, against wooden walls with vintage radios and clocks on shelves nearby.
Berbagai macam merek sepeda onthel, misalnya Gazelle, Raleigh, Simplex, Burgers, Humber, Fongers. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Towil menuturkan, kini melalui Komunitas Podjok ia bangun konsep menarik, yaitu konsep budaya. Artinya adalah supaya pariwisata, pendidikan, perjuangan, bahkan kuliner bisa disinergikan, Namun tetap disandingkan dengan pesona sepeda.

Selain itu, Komunitas Podjok juga tidak pernah akan memesrakan satu sepeda saja, tapi sepeda apa pun, ke arah yang juga orisinal.

“Kita juga punya cara masing-masing. Sesuai dengan kemampuan dan kesenangan serta ciri khas masing-masing. Ya ada dengan perjuangan, pokoknya yang fashionable yang jadul-jadul seperti itu. Komunitas Podjok kekuatannya di situ,” katanya. ***

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar