Mabur.co – Sepeda onthel adalah salah satu warisan zaman kolonialisme (Belanda) yang masih terus bertahan hingga saat ini.
Dilansir dari laman RRI, Sabtu (4/7/2026), sepeda onthel (disebut sebagai roadster bicycle) adalah sepeda standar dengan ukuran ban 28 inci yang populer di era Hindia Belanda hingga akhir 1970-an.
Di Indonesia sendiri, sepeda ini cukup erat kaitannya dengan merek-merek legendaris seperti Gazelle, Fongers, dan Simplex, serta spare part ikonik seperti Union yang berasal dari Jerman.
Sepeda ini pada dasarnya bukan berasal dari Indonesia, melainkan dibawa dari Eropa pada masa kolonialisme Belanda dan para saudagar asing pada akhir abad ke-19.
Bahkan pada masa itu, sepeda onthel menjadi sebuah kendaraan elit yang hanya bisa ditunggangi oleh para bangsawan, pejabat Belanda, dan orang Eropa.
Memasuki tahun 1930-an hingga 1950-an, sepeda ini mulai banyak digunakan oleh masyarakat pribumi, khususnya kaum priyayi dan pelajar.
Sepeda ini kemudian berkembang menjadi alat transportasi utama bagi masyarakat, serta menjadi cikal bakal tumbuhnya mobilitas modern di kawasan perkotaan.
Sejak awal, desain dari sepeda onthel memang sudah begitu khas dan melegenda, di mana sepeda ini mempunyai rangka yang kokoh, sehingga sering dijuluki sebagai pit kebo atau sepeda kerbau.
Memiliki posisi duduk yang selalu tegak, bagian rantai yang selalu tertutup penuh, bagian rem yang selalu menggunakan sistem tromol atu rem tusuk, serta sistem perpindahan gigi yang tetap.
Tetap Berusaha Dilestarikan
Meskipun bukan berasal dari dalam negeri, namun banyak pihak yang ikut serta melestarikan jenis sepeda yang satu ini.
Mengingat sepeda ini adalah simbol perjuangan bangsa Indonesia dalam menghadapi para penjajah di zaman kolonial, serta menjadi salah satu alat transportasi yang digunakan untuk mempertahankan kemerdekaan.
Salah satu cara pelestarian yang paling sering dilakukan adalah dengan membentuk komunitas atau perkumpulan para pencinta sepeda onthel, dengan melaksanakan berbagai kegiatan gowes bareng, perawatan rutin, dan seterusnya.
Hal itu dilakukan demi menjaga nilai sejarah dan budaya dari kendaraan onthel, agar tetap lestari dan mampu menarik minat para generasi muda, untuk tetap meneruskan penggunaan sepeda onthel dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, sepeda onthel umumnya juga masih diperjualbelikan di sejumlah pasar barang bekas atau toko sepeda antik, yang tersebar di beberapa daerah tertentu.
Selain penjualan, pasar atau toko tersebut juga masih menyediakan onderdil atau spare part, serta asesoris pendukung lainnya, untuk memenuhi kebutuhan perawatan, servis berkala, sekaligus mempercantik penampilan.
Meskipun keberadaannya kian tergusur oleh sepeda modern maupun sepeda motor, namun sepeda onthel tetap memiliki tempat tersendiri di hati para pencinta sepeda klasik.
Karena mereka masih menghargai sejarah peradaban, serta proses perjuangan para pendiri bangsa, yang tak kenal lelah memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. (*)

