“Marriage is Scary” Bukan Isapan Jempol Belaka

5 Min Read
Man and woman arguing on a gray sofa in a modern living room with a kitchen in the background, mid-conversation.
Ilustrasi. Pasangan suami-istri sedang bertengkar, salah satu indikator bahwa "marriage is scary" (Foto: Getty Images)

Mabur.co – Dalam beberapa tahun terakhir, banyak warganet yang ramai-ramai membicarakan realita pernikahan di media sosial.

Entah itu realita sifat pasangannya, sifat mertua, kompleksitas kehidupan yang harus dijalani setelah menikah, dan masih banyak lagi isu lain yang turut dibahas.

Akhirnya muncullah tren “marriage is scary” (menikah itu menakutkan), yang kemudian menyebar cepat di media sosial, dan masih terus bertahan sampai saat ini.

Meskipun pengalaman menjalani pernikahan adalah sesuatu yang begitu personal, namun ada kalanya, pengalaman satu orang bisa dijadikan pelajaran penting bagi banyak orang, agar tidak melakukan atau mengalami hal yang sama di kemudian hari.

Dalam beberapa kasus, orang-orang sering mengaitkan fenomena “marriage is scary” dengan bagaimana dua orang dan keluarga dari dua latar belakang yang berbeda, disatukan melalui ikatan sakral pernikahan, untuk menjalani kehidupan bersama sekali seumur hidup.

Namun kenyataannya, di tengah perjalanan pernikahan, banyak jalan terjal yang harus dihadapi satu sama lain, dengan tingkat kesulitan dan kompleksitas yang berbeda-beda.

Bahkan tak jarang, “marriage is scary” juga langsung dikaitkan dengan sumber masalahnya, yakni kesalahan dalam memilih pasangan. Sehingga ketika hal itu terjadi, setiap masalah baru pasti akan muncul setiap harinya tanpa henti.

Menikah Bukanlah Pencapaian, Tapi “Pekerjaan” Seumur Hidup

Dilansir dari laman Kelas Cinta, Sabtu (4/7/2026), satu hal yang mungkin belum banyak disadari oleh sebagian orang adalah kenyataan bahwa menikah itu sebenarnya adalah “pekerjaan baru” dalam kehidupan (yang tidak digaji).

Banyak orang kerap mengasosiasikan pernikahan sebagai sebuah pencapaian pribadi dalam kehidupan, yang diringi dengan ucapan “Selamat menempuh hidup baru” dan seterusnya.

Padahal, “menempuh hidup baru” adalah sebuah pekerjaan yang teramat berat, dan harus dilakukan selamanya, alias seumur hidup (jika tidak bercerai).

Apalagi dengan perayaan pesta besar-besaran di hari pernikahan, membuat beban untuk “menempuh hidup baru” tersebut terasa semakin besar bagi kedua mempelai.

Karena dengan begitu, kinerja mereka sebagai pasangan suami-istri akan senantiasa dinilai oleh orang lain, terutama dari pihak keluarga masing-masing, dan sebagainya.

Di saat “hidup baru” tersebut sedang ditempuh bersama-sama, badai dari berbagai arah mulai datang silih berganti, mulai dari urusan tempat tinggal, mertua/orang tua, keuangan (pekerjaan), komunikasi, kepercayaan, dan masih banyak lagi.

Ketika satu masalah berhasil diselesaikan, masalah lainnya pun kembali muncul.

Bahkan tak jarang, masalah lama belum juga usai, tapi muncul lagi masalah baru berikutnya, dan seterusnya sampai keduanya bercerai atau dipisahkan oleh maut.

Setiap masalah demi masalah yang terjadi dalam rumah tangga adalah cerminan nyata dari pekerjaan seumur hidup yang dijalani dalam hubungan pernikahan.

Ketika salah satu atau keduanya tidak mampu menyelesaikan setiap masalah yang ada, maka bisa dipastikan bahwa mereka akan menganggap bahwa “marriage is (really) scary” seperti penjelasan sebelumnya, kemudian memilih untuk berpisah satu sama lain, dan sebagainya.

***

Ukuran scary setiap orang memang bervariasi. Karena ketika orang A mengatakan menikah itu menakutkan, atau “marriage is scary” itu tadi, orang B bisa mengatakan bahwa menikah baginya tidak se-“scary” itu, dan masih banyak lagi argumen subjektif lainnya.

Namun ketika istilah tersebut sudah menjadi sebuah tren tersendiri di media sosial, dan bertahan cukup lama hingga saat ini, itu artinya “scary” yang dimaksud bisa jadi memang dimaknai secara seragam oleh mayoritas warganet di media sosial, termasuk bagi yang belum menikah sekalipun.

Hal ini semestinya menjadi alarm tersendiri bagi semua pihak, untuk tidak meremehkan tren yang satu ini.

Karena ketika suatu fenomena sudah tersebar luas di kalangan masyarakat, kemudian berubah menjadi tren yang terus bertahan lama di linimasa digital, artinya memang ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja, yang dialami oleh banyak anak muda di luar sana.

Sehingga mereka memilih untuk bersuara di media sosial, dan berusaha menyebarluaskan alarm itu kepada orang lain, agar bisa lebih waspada dalam bertindak (mengambil keputusan untuk menikah), sekaligus juga “menakut-nakuti” dalam perspektif lainnya. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar