Mabur.co – Jika Anda perhatikan orang-orang Malaysia dengan seksama saat mereka berbicara, ada kesan yang kuat seolah-olah mereka sedang berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Padahal sebenarnya, mereka sedang berbicara dengan bahasa ibu mereka sendiri, yakni bahasa Melayu.
Dilansir dari laman Balai Bahasa provinsi Sulawesi Tengah, Rabu (8/7/2026), Bahasa Indonesia dan Melayu memang dikenal sejak lama memiliki kemiripan satu sama lain, yang telah lama berfungsi sebagai lingua franca (bahasa penghubung) di seluruh Nusantara sejak abad ke-7, karena penyebarannya yang luas dan strukturnya yang mudah beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Bahasa Indonesia sendiri sebenarnya juga berasal dari bahasa Melayu, mengingat letak geografis kedua negara (Indonesia dan Malaysia) di wilayah Nusantara yang sangat strategis, sehingga penyebaran bahasa Melayu menjadi sangat dominan dan mengakar kuat.
Alih-alih ikut menggunakan bahasa Melayu, Indonesia memilih untuk membentuk bahasa nasionalnya sendiri (bahasa Indonesia), akibat munculnya kebutuhan mendesak agar Indonesia bisa membentuk alat pemersatu bangsanya sendiri, di tengah keberagaman ratusan suku yang tersebar dari pulau Sumatera hingga Papua.
Keputusan ini pun dicapai melalui beberapa pertimbangan dan kesepakatan sejarah yang cukup krusial, salah satunya adalah deklarasi Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Secara umum, bahasa Indonesia mengambil kosakata dari bahasa Melayu Riau. Namun penamaannya tetap menggunakan branding “bahasa Indonesia”, agar membentuk semangat persatuan dan kesatuan yang dapat diterima oleh seluruh etnis masyarakat dari seluruh nusantara.
Tidak hanya itu, bahasa Melayu Riau yang dipilih karena strukturnya yang sederhana, serta bersifat demokratis, tanpa mengenal tingkatan kelas sosial. Dengan kata lain, tidak ada semacam ungkapan tertentu yang hanya boleh diucapkan kepada yang lebih tua, atau semacamnya. Sehingga bahasa ini bisa digunakan oleh semua orang untuk diucapkan kepada siapa saja dan kapan saja.
Berikut adalah penjelasan lebih rinci mengapa kedua bahasa ini memiliki akar alat komunikasi yang sama.
1. Akar Sejarah Bersama
Bahasa Melayu sudah dikenal sebagai bahasa komunikasi antarsuku di Nusantara dan juga pedagang dari luar sejak zaman Kerajaan Sriwijaya. Bahasa ini terus berkembang sedemikian rupa hingga akhirnya dimodifikasi menjadi bahasa Indonesia, melalui deklarasi Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
2. Bahasa Persatuan
Peristiwa deklarasi Sumpah Pemuda tahun 1928 menjadi momentum lahirnya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional sampai hari ini.
Selain menjadi bahasa nasional resmi, bahasa ini juga menjadi alat komunikasi yang dapat mempersatukan para pejuang kemerdekaan dari berbagai suku dan daerah, saat hendak merebut kemerdekaan dari bangsa Belanda dan Jepang. Mereka sepakat mengangkat bahasa Melayu (yang kemudian disebut bahasa Indonesia) sebagai bahasa nasional untuk menyatukan kekuatan demi melawan kekuatan penjajah, dan seterusnya,
Di masa kini, bahasa Indonesia juga kerap digunakan sebagai alat komunikasi yang dapat menghubungkan dua orang dari dua wilayah yang berbeda.
Misalnya ketika ada orang Semarang yang biasa menggunakan bahasa Jawa, bertemu dengan orang Bandung yang biasa menggunakan bahasa Sunda, maka keduanya bisa berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, untuk tetap saling terhubung satu sama lain tanpa perlu menghadapi kendala bahasa, dan seterusnya.
3. Rumpun Bahasa yang Sama
Bahasa Indonesia dan Melayu juga berasal dari rumpun bahasa Austronesia, yang memiliki struktur dasar dan kosakata yang sangat mirip.
Struktur dasar inilah yang kemudian dikembangkan sedemikian rupa oleh masyarakat di masing-masing negara, untuk digunakan dalam komunikasi masyarakat sehari-hari.
***
Meskipun memiliki akar dan rumpun yang sama, bahasa Indonesia dan bahasa Melayu telah mengalami perkembangan yang cukup terpisah. Keduanya memiliki perbedaan dalam hal kosakata serapan, pelafalan, dan ejaan, akibat pengaruh sejarah kolonial yang berbeda (bahasa Indonesia banyak menyerap dari bahasa Belanda, sedangkan bahasa Melayu banyak menyerap dari bahasa Inggris).
Alhasil, tidak semua kata dalam bahasa Indonesia diucapkan dengan pelafalan yang senada seperti bahasa Melayu, begitu pun sebaliknya. Karena kedua bahasa telah tumbuh dan berkembang sesuai dengan dinamikanya masing-masing. Termasuk dengan pengaruh teknologi informasi yang semakin pesat seperti saat ini.
Meski demikian, ketika dua orang dari dua negara ini saling bertemu dan berkomunikasi satu sama lain dnegan bahasa nasionalnya masing-masing, hampir tidak ada masalah yang ditemukan di antara keduanya. Yang ada justru saling respek terhadap kosakata dan budayanya masing-masing, dan sebagainya. (*)

