Mabur.co- Jamasan keris adalah tradisi mencuci atau membersihkan benda pusaka yang bertujuan untuk menjaga logam dari karat dan merawat nilai spiritualnya.
Ritual warisan budaya leluhur ini umumnya disucikan menggunakan air kembang, jeruk nipis untuk melunturkan karat, dan air warangan (larutan arsenik) untuk memunculkan kembali pamor keris.

Ki Endro dari Sanggar Keris Mataram, mengatakan, perawatan keris sebagai salah satu pusaka tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Dalam ritual jamasan pusaka, sebilah keris harus disucikan dalam prosesi sakral.
“Uba rampe menjadi salah satu rangkaian ritual jamasan pusaka yang tidak boleh dilewatkan. Uba rampe yang dimaksud adalah memberikan jajan pasar, wewangian seperti dupa dan minyak, air kelapa, serta berbagai bunga-bungaan seperti kantil, mawar, dan melati,” ucapnya, saat ditemui di Sanggar Keris Mataram, Dusun Donotirto, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Bantul, Rabu (8/7/2026).
Ki Endro mengatakan lagi, keris memiliki banyak nilai filosofi kehidupan.
“Setiap komponen keris, mulai dari pesi (pegangan keris), gonjo, tikel alis, pijetan, hingga greneng mengandung kisah yang menceritakan perjalanan mendalam kehidupan manusia. Tak heran, jamasan pusaka menjadi ritual budaya yang sangat dihormati dan dianggap sakral,” katanya.

Ki Endro mengatakan, benda-benda peninggalan yang dibersihkan dalam ritual jamasan pusaka antara lain keris, tombak, kereta kencana, gamelan dan berbagai peralatan upacara.
“Masyarakat Jawa meyakini bahwa jamasan pusaka menjadi cara untuk menghargai secara penuh peninggalan nenek moyang,” katanya.

