Mabur.co – Suasana sakral mewarnai tradisi jamasan gamelan Gong Kyai Yudho Wara Manggala, pusaka budaya yang menjadi bagian dari identitas Kalurahan Tuksono, Kapanewon Sentolo, Kulon Progo.
Sejumlah warga serta para sesepuh desa nampak khidmat melakukan ritual jamasan atau membersihkan perangkat gamelan pusaka dengan air suci yang dicampur aneka jenis bunga setaman.
Bertempat di Balai Budaya Kalurahan Tuksono, Kapanewon Sentolo, prosesi jamasan dilakukan oleh pemimpin desa bersama sesepuh adat dengan membersihkan setiap bagian gamelan. Seperti gong, saron, demung hingga bonang.
Tradisi ini rutin digelar setiap tahun yakni pada bulan Suro sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur sekaligus upaya menjaga kondisi fisik gamelan agar tetap terawat.
Bukan Sekadar Membersihkan Benda Pusaka
Namun, bagi masyarakat Tuksono, jamasan bukan sekadar membersihkan benda pusaka. Prosesi tersebut juga dimaknai sebagai pengingat agar manusia senantiasa membersihkan hati, menjaga perilaku, dan menghormati nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.
Pejabat pemerintahan Kalurahan Tuksono, Rubikin, yang juga tokoh masyarakat setempat mengatakan, tradisi jamasan memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar perawatan benda bersejarah.
“Jamasan tidak hanya bermakna membersihkan pusaka, tetapi juga menjadi simbol membersihkan diri dan hati. Tradisi seperti ini harus terus diuri-uri agar dapat diwariskan kepada anak-cucu kita,” ujarnya, Jumat (10/7/2026).
Perlu Terus Dijaga dan Dilestarikan
Menurut Rubikin, Gong Kyai Yudho Wara Manggala bukan hanya seperangkat alat musik tradisional. Gamelan tersebut merupakan karya budaya yang lahir melalui proses panjang dengan tingkat keterampilan tinggi, sehingga keberadaannya perlu terus dijaga dan dilestarikan.
“Gamelan ini merupakan salah satu karya budaya warisan leluhur yang memiliki nilai tinggi, sehingga sudah seharusnya dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Tradisi jamasan juga menjadi bagian dari komitmen Kalurahan Tuksono sebagai Kalurahan Mandiri Budaya dalam menjaga kelestarian adat dan tradisi.
Selain dihadiri perangkat kalurahan dan tokoh masyarakat, prosesi tersebut turut disaksikan para pelajar, termasuk kelompok pengrawit dari SMP Negeri 4 Sentolo.
Pelibatan generasi muda diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian terhadap warisan budaya sejak dini. Dengan demikian, tradisi jamasan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi terus hidup sebagai bagian dari identitas masyarakat Tuksono. ***

