Mabur.co– Olimpiade Layang-layang Nasional (OLLANESIA) 2026 digelar di Pantai Parangkusumo, Bantul. Kompetisi ini diikuti pelajar mulai dari jenjang TK, SD, hingga SMP dengan 4 kategori perlombaan.
Ketua Angkasa Satu, RDA Yuristianto, mengatakan, OLLANESIA 2026 tidak hanya menjadi ruang unjuk kreativitas dan sportivitas para peserta, tetapi juga ajang pelajar untuk berprestasi dan melestarikan layangan dalam semarak rangkaian JIKF 2026.
Festival kali ini berusaha merangkul pelajar dari semua jenjang pendidikan terutama melalui olimpiade layang-layang pelajar yang istimewa ini.
“Adanya olimpiade semacam ini semoga bisa memperkenalkan layang-layang kepada generasi muda dan kami bekerja sama dengan Pusat Prestasi Nasional menyiapkan piagam penghargaan bagi pemenang dengan harapan bisa menunjang prestasi mereka,” ujarnya saat ditemui, Sabtu (11/7/2026).
Olimpiade Layang-layang Pelajar Pertama
Sementara itu, Ketua Panitia OLLANESIA 2026, Rizal Rusyadi, mengatakan bahwa penyelenggaraan OLLANESIA sebagai olimpiade layangan pelajar pertama di Indonesia telah disiapkan dengan matang sampai berjalan dengan lancar pada hari pelaksanaan.
Menurutnya, olimpiade ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk membangun ekosistem dalam melestarikan layang-layang secara nasional sekaligus memperkenalkan potensi budaya Indonesia kepada pelajar hingga masyarakat luas.
“Harapannya dengan menyasar ke anak-anak lewat ranah pendidikan, kita bisa memantik mereka untuk mengenal kembali dan melestarikan layangan tradisional di daerah masing-masing,” tuturnya.
Salah satu dewan juri dari kategori lomba merakit layang-layang tingkat SMP OLLANESIA 2026, Koni, selaku dosen program studi Desain Produk Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, menyampaikan apresiasi atas kreativitas peserta dalam segi desain layangan.
“Dalam desain, sebetulnya para peserta tidak berbeda tipis karena memang bentuknya layang-layang dua dimensi. Tetapi, yang membedakan antar-peserta itu konstruksinya. Dan untuk layang-layang yang dihasilkan oleh peserta lomba tingkat SMP ini sudah cukup kreatif dari segi visual,” ungkapnya.
Karya Seni yang Kompleks
Koni mengatakan pula, layang-layang tidak hanya bernilai sebagai permainan tradisional semata, tetapi juga bisa menjadi sebuah karya seni yang kompleks.
Layang-layang yang dipahami sebagai hiburan ternyata di balik itu bisa melibatkan berbagai bidang ilmu mulai dari desain visual, aerodinamika, pemilihan bahan yang digunakan, hingga konstruksi kerangka.
“Melalui penyelenggaraan OLLANESIA 2026, pihak penyelenggara berharap kompetisi ini terus berkembang sebagai wadah pembinaan prestasi, pelestarian budaya layang-layang, sekaligus sarana mencetak generasi muda yang kreatif, inovatif, dan mampu mengharumkan nama Indonesia di berbagai ajang nasional maupun internasional,” katanya.

