Mengapa Masa Orientasi Siswa Selalu Bernuansa Perpeloncoan?

4 Min Read
Group of students in white shirts and helmets holding colorful handmade signs at an outdoor event or parade, looking in different directions.
Ilustrasi. Pakaian yang digunakan dalam kegiatan MOS, sarat dengan unsur perpeloncoan. (Foto: ANTARA)

Mabur.co – Ketika memasuki lingkungan sekolah yang baru, setiap siswa umumnya diwajibkan untuk mengikuti yang namanya masa orientasi, atau disebut juga MOS (Masa Orientasi Siswa), sebagai bagian dari orientasi atau pengenalan terhadap lingkungan sekolah, beserta seluruh civitas yang terlibat di dalam sekolah barunya tersebut.

Namun dalam praktiknya, kegiatan “orientasi” yang dimaksud seringkali berbau perpeloncoan, membodoh-bodohi para siswa baru, hingga membuat mereka tampak tak berdaya di hadapan para senior, dan seterusnya.

Banyak yang menganggap bahwa tradisi perpeloncoan semacam itu dilakukan untuk melatih mental, kedisiplinan, serta membangun hubungan baik terhadap para senior, yang telah lebih dahulu mengalami pendidikan di sekolah tersebut.

Namun tak sedikit pula yang menganggap bahwa MOS adalah ajang senioritas dari para kakak kelas, untuk mengerjai para pendatang baru di sekolah tersebut, sekaligus menjadi ajang balas dendam, atas apa yang pernah mereka alami pada 1-2 tahun sebelumnya.

Bahkan tak jarang beberapa praktik MOS juga ikut menelan korban jiwa, akibat maraknya praktik kekerasan, kelelahan fisik, dan juga perundungan.

Anehnya, para guru tidak banyak yang melarang atau bahkan menghentikan praktik-praktik perpeloncoan semacam itu.

Seolah mereka merasa bahwa tradisi perpeloncoan adalah wajar, dan memang dibutuhkan oleh para siswa baru, demi menciptakan generasi yang tegas, disiplin, penuh rasa tanggung jawab, dan sebagainya.

Rebranding MOS menjadi MPLS

Sebagai respons atas maraknya praktik perpeloncoan dan senioritas tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai melakukan rebranding atau desain ulang dari sistem pengenalan atau orientasi semacam ini, untuk mencegah hal serupa kembali terjadi setiap tahunnya.

Dilansir dari laman Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Senin (13/7/2026), istilah MOS resmi diganti menjadi MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah), tertuang dalam Permendikbud Nomor 18 tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah.

Dalam konsep MPLS, seluruh aktivitas orientasi hanya dilakukan di jam sekolah, dilaksanakan oleh guru (bukan lagi kakak kelas atau pengurus OSIS), serta tidak lagi melibatkan atribut-atribut yang menyimpang seperti membawa karung beras (sebagai pengganti tas), name tag, topi caping, dan praktik-praktik kekerasan lainnya.

Selain itu, MPLS sepenuhnya difokuskan pada pembinaan karakter, pengenalan sarana-prasarana sekolah, tata tertib, dan cara belajar efektif selama mengenyam pendidikan di sekolah barunya tersebut.

Rebranding Orientasi Tak Otomatis Menghapus Praktik Perpeloncoan

Meski penamaan MOS telah diubah menjadi MPLS sejak 2016, namun praktik perpeloncoan tidak sepenuhnya hilang dari aktivitas orientasi di berbagai sekolah.

Budaya senioritas yang masih sangat kuat, pemahaman disiplin yang kurang tepat, serta minimnya pengawasan dari pihak sekolah, membuat beberapa sekolah masih menerapkan unsur perpeloncoan di dalam kegiatan MPLS.

Beberapa sekolah juga masih kerap menggunakan istilah “melatih mental” sebagai celah untuk membenarkan praktik-praktik perpeloncoan seperti era MOS sebelumnya, dengan waktu pelaksanaan yang digeser ke jam di luar kegiatan MPLS, alias sepulang sekolah.

***

Entah bernama MOS atau MPLS, yang jelas masa orientasi tidak perlu sepenuhnya menjadi ajang superioritas bagi siapapun, baik pihak sekolah (guru) maupun kakak kelas. Karena seiring berjalannya waktu, para siswa baru pasti akan mengalami semua hal di sekolah dengan sendirinya, tanpa perlu dijelaskan sedemikian rupa oleh siapapun.

Apalagi jika kemudian praktik pengenalan itu malah berubah jadi ajang senioritas, perpeloncoan, hingga kekerasan yang berujung kehilangan korban jiwa.

Semua itu malah menjadi kontraproduktif dari tujuan utama pendidikan, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar