Sarasehan Tosan Aji dan Jamasan Trah HB II, Hidupkan Filosofi Pusaka bagi Generasi Muda

6 Min Read
Market scene with banana leaf platters of food, eggs, bananas, and vegetables as people in traditional clothing browse under a wooden pavilion.
Suasana sarasehan tosan aji dan jamasan trah Hamengku Buwono II. Foto: Istimewa

Bantul – Suara kidung Jawa mengalun pelan di halaman Omah Pleret, Pangkuran, Keputren Pleret, Bantul, Sabtu (11/7/2026).

Asap dupa yang mengepul tipis bercampur dengan semilir angin menghadirkan suasana hening sekaligus agung. Ratusan peserta berdiri khidmat menyambut datangnya arak-arakan pusaka dalam Sarasehan Tosan Aji dan Jamasan Trah Hamengku Buwono (HB) II.

Kegiatan yang diketuai R. Sudaryaka tersebut mempertemukan para pemerhati budaya, keturunan Hamengku Buwono II, kolektor pusaka, pegiat sejarah, hingga generasi muda dalam satu ruang kebersamaan.

Tokoh nasional Muchdi Purwopranjono tampak hadir dan disambut tuan rumah KPH Nurdiantoro Darmaningrat. Suasana akrab penuh kekeluargaan berpadu dengan nuansa sakral yang terasa sepanjang acara.

Arak-arakan menjadi pembuka yang memikat perhatian. Satu bregada prajurit memasuki arena sambil membawa air dari tujuh sumber mata air, pataka, dan berbagai pusaka yang diiringi para pembawanya.

Lantunan kidung pamuji, kepulan asap wewangian dari tungku, serta langkah-langkah yang tertata rapi menghadirkan pengalaman batin yang sulit dilupakan.

Prosesi yang dipimpin Siswo Pangarso bersama tim Lembaga Kebudayaan Jawa Sekar Pangawikan Yogyakarta itu seolah mengajak setiap orang menapak kembali jejak panjang peradaban Jawa.

Sarasehan kemudian mengangkat tema “Nguri-uri Pusaka Adiluhung: Menanamkan Nilai Filosofis Pusaka kepada Generasi Muda.”

Forum menghadirkan R. Agus Parmadi (Ki Cokro) dari Sanggar Budaya Condrowinoto, R. Bambang Putranto dari Rumah Pusaka Banyumas, serta R. Carwudi Ing Ngalogo dari Fajar Utama. Diskusi berlangsung hidup, diselingi konsultasi tosan aji yang diikuti peserta dengan antusias hingga sore hari.

Pusaka sebagai Warisan Nilai Sejarah

Pembicaraan tidak berhenti pada keris sebagai benda bersejarah. Para narasumber mengajak peserta memahami pusaka sebagai warisan nilai, etika, dan kebijaksanaan.

Mereka menjelaskan makna jamasan, perlengkapan yang digunakan, tata cara pelaksanaannya, hingga tujuan spiritual dan budaya yang menyertainya.

Jamasan dipahami sebagai ikhtiar merawat pusaka sekaligus menjaga hubungan batin dengan para leluhur melalui keteladanan, bukan sekadar ritual membersihkan benda.

Generasi muda juga memperoleh pengetahuan praktis mengenai tata cara membuka warangka keris dengan benar.

Tradisi Lahir dari Pengalaman Pendahulu

Bilah keris dianjurkan menghadap ke atas untuk menghindari paparan serbuk atau unsur arsenik yang lazim terdapat pada sebagian keris tradisional. Penjelasan sederhana itu memperlihatkan bahwa tradisi juga mengandung pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang para pendahulu.

Forum juga mengingatkan kembali bahwa keris menempati posisi istimewa dalam kebudayaan Jawa. Keris bukan sekadar senjata, melainkan simbol jati diri, kehormatan, tanggung jawab, dan kematangan hidup.

Elderly man in a purple headscarf prepares Balinese offerings with flowers and bananas under a wooden pavilion.
Prosesi jamasan keris. Foto: Istimewa

Masyarakat Jawa mengenal ajaran tentang lima bekal kehidupan yang ideal, yakni wisma sebagai tempat bernaung, garwa sebagai pendamping hidup, turangga sebagai sarana mobilitas, kukila sebagai lambang keindahan dan ketenteraman, serta curiga atau keris sebagai perlambang kehormatan sekaligus penjaga nilai. Kehadiran keris melengkapi perjalanan hidup seseorang sebagai manusia yang berbudaya.

Keris memperoleh kedudukan mulia karena lahir dari ketekunan seorang empu yang mengolah logam pilihan melalui proses panjang, penuh kesabaran, ketelitian, dan laku batin.

Nilai sebuah pusaka tidak hanya diukur dari usia atau keindahan bentuknya, tetapi juga dari filosofi yang melekat pada setiap lekuk bilah, pamor, dan warangkanya.

Semangat melestarikan pusaka itu tidak dapat dipisahkan dari sosok Sri Sultan Hamengku Buwono II. Sejarah mencatat raja Yogyakarta tersebut sebagai pemimpin yang teguh mempertahankan tradisi sekaligus memperkuat pertahanan kerajaan.

Karya Sastra Penting

Jejak pengabdiannya tampak melalui pembentukan korps keprajuritan yang lebih modern, pembangunan benteng pertahanan, hingga lahirnya karya-karya sastra penting seperti Babad Nitik Ngayogya, Babad Mangkubumi, Serat Baron Sekender, dan Serat Suryaraja.

Karya-karya tersebut bukan sekadar catatan sejarah, melainkan warisan intelektual yang terus menghidupkan ingatan kolektif masyarakat Jawa.

Kecintaan Hamengku Buwono II terhadap kebudayaan juga tercermin dalam pengembangan seni pedalangan.

Berbagai wayang kulit bertema kepahlawanan lahir pada masanya, termasuk lakon Jayapusaka yang menampilkan tokoh Bima sebagai sosok jujur, tegas, dan pemberani. Keris yang menyertai tokoh Bima hadir sebagai lambang keberanian yang selalu berpijak pada kebenaran.

Usulan Hamengku Buwono II sebagai Pahlawan Nasional

Semangat menjaga warisan budaya itu kini memperoleh relevansi baru seiring proses pengusulan Hamengku Buwono II sebagai Pahlawan Nasional.

Usulan tersebut diinisiasi Pemerintah Kabupaten Wonosobo dengan dukungan para akademisi, keturunan Hamengku Buwono II, dan berbagai elemen masyarakat.

Seksi Dokumentasi kegiatan, Hary Sutrasno, menyampaikan bahwa sarasehan budaya dan jamasan pusaka akan terus dikembangkan sebagai ruang belajar lintas generasi.

“Tradisi tidak boleh berhenti menjadi kenangan. Tradisi harus terus dihidupkan agar nilai-nilai luhur tetap menemukan tempat di hati generasi penerus,” ujarnya, Sabtu (11/7/2026).

Ramah tamah dan foto bersama menutup seluruh rangkaian kegiatan. Senyum para peserta menyiratkan satu pesan sederhana.

Pusaka sesungguhnya bukan hanya keris yang tersimpan di warangka. Pusaka terbesar adalah kesediaan sebuah generasi merawat ingatan, menghormati leluhur, dan meneruskan nilai-nilai kebajikan kepada anak cucu. Selama kesadaran itu tetap hidup, cahaya peradaban Jawa akan terus menyala melintasi zaman. ***

Share This Article
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar