Mabur.co- Istilah dasarian belakangan menjadi trending dalam penelusuran Google setelah sering muncul dalam berbagai informasi prakiraan cuaca yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Pakar Klimatologi dan Hidrometeorologi, Fakultas Geografi UGM, Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si, mengatakan, prediksi curah hujan berdasarkan dasarian bertujuan untuk menentukan awal musim hujan dan kemarau.
Interval Waktu
Metode yang menggunakan prakiraan curah hujan dalam interval waktu 10 harian (dasarian) untuk mengidentifikasi kapan suatu wilayah mulai memasuki musim hujan atau musim kemarau.
“Pendekatan ini banyak digunakan dalam klimatologi operasional karena mampu menggambarkan perubahan musim secara lebih rinci dibandingkan data bulanan,” katanya, Selasa (14/7/2026).
Emilya menjelaskan, konsep dasarian yakni, satu bulan dibagi menjadi tiga dasarian di antaranya Dasarian I: tanggal 1–10, Dasarian II tanggal 11–20, Dasarian III tanggal 21–akhir bulan.
“Dalam satu tahun terdapat 36 dasarian,” ucapnya.
Emilya mengatakan, konsep Dasarian juga bisa berfungsi untuk menentukan awal musim. Sekitar 60 persen wilayah Indonesia kini telah memasuki musim kemarau.
“Kondisi ini membuat potensi kekeringan di sejumlah daerah perlu diwaspadai, terutama wilayah yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami minim hujan,” katanya.
Prediksi Kekeringan
Emilya mengatakan, meski tidak ada wilayah yang masuk kategori “awas”, sejumlah daerah di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara diprediksi menghadapi risiko kekeringan pada level siaga.
“Wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan meteorologis kategori ‘siaga’ tersebar di beberapa kabupaten/kota di Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT),” katanya.
Emilya menuturkan, untuk wilayah dengan level waspada meliputi beberapa kabupaten/kota di Bangka Belitung, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Maluku, dan Papua Selatan.
“Saya mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara hemat dan bijak guna mengantisipasi berkurangnya pasokan air bersih selama musim kemarau. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah karena dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di daerah yang vegetasinya mulai mengering,” katanya.

