Kumpulkan 90 Poin, Veda Ega Pratama Tutup Paruh Musim Moto3 2026 di Posisi 6 Klasemen

5 Min Read
Motorcycle racer leaning into a turn on a race track with Liqui Moly banners in the background.
Veda Ega Pratama beraksi di lintasan lurus sirkuit Sachsenring Jerman di ajang Moto3 World Championship. (Foto: MotoGP)

Mabur.co – Pembalap Moto3 World Championship asal Gunungkidul, DIY, Veda Ega Pratama, sukses merebut posisi ke-8 dalam balapan seri ke-11 Moto3 Jerman yang berlangsung di sirkuit Sachsenring, Minggu (12/7/2026).

Hasil ini membawa pembalap Honda Team Asia tersebut naik ke urutan 6 klasemen sementara Moto3 World Championship, dengan torehan total 90 poin.

Veda pun sukses menggeser posisi yang sebelumnya ditempati oleh pembalap dari negara tetangga Malaysia, Hakim Danish, yang hanya finish di posisi ke-12 pada balapan yang sama.

Dari total 11 seri yang sudah berlangsung sejauh ini, Veda berhasil meraih poin dalam delapan kali balapan. Sementara sisanya (tiga kali balapan), ia gagal meraup poin akibat terjatuh dan gagal finish (seri Amerika dan Belanda), serta satu seri lainnya finish dengan nihil poin (seri Hungaria).

Seri Jerman kemarin sekaligus menjadi penutup paruh pertama Moto3 musim 2026. Veda dan seluruh rombongan pembalap Moto3 akan kembali berlaga pada paruh kedua musim, yang akan dimulai di sirkuit Silverstone, Inggris, pada awal bulan Agustus mendatang.

Pembalap Tersukses Indonesia di Ajang Grand Prix

Collage of motorcycle racers in racing suits posing in paddocks, smiling at the camera.
Deretan pembalap Indonesia yang pernah berlaga di ajang Grand Prix (Moto3/Moto2), Veda (paling kiri) unggul jauh dari enam seniornya, terlebih dengan status sebagai pendatang baru. (Foto: Istimewa)

Sebelum hadirnya Veda Ega Pratama, Indonesia dikenal tidak (atau kurang) memiliki jagoan yang bisa diandalkan di ajang Grand Prix.

Banyak dari mereka yang hanya sanggup menghuni posisi belakang (belasan atau dua puluhan) selama pentas di kejuaraan dunia.

Satu nama yang sebenarnya memiliki prospek cukup menjanjikan adalah pembalap asal Magetan, Jawa Timur, Mario Aji, yang sempat tampil apik di ajang Junior GP (satu level terakhir menjelang Grand Prix), dan pernah meraih pole position serta beberapa kali posisi Top 10.

Namun setelah masuk ke Grand Prix (Moto3) pada 2022, performanya bisa dibilang juga masih angin-anginan, dan lebih banyak menghuni barisan belakang, kecuali jika terjadi hujan (wet), atau mix condition (campuran antara kering dan basah). Di situlah Mario bisa mencatatkan hasil yang lebih baik.

Meskipun ia merupakan salah satu pembalap terbaik yang pernah dimiliki Indonesia di ajang Grand Prix, namun prestasinya tidak bisa dikatakan istimewa.

Sementara setelah hadirnya Veda pada awal musim 2026 ini, penampilannya langsung berhasil melampaui para seniornya terdahulu, dan terus menorehkan rekor demi rekor yang tidak pernah sekalipun dicapai oleh para pendahulunya.

Di balapan debutnya saja, ia berhasil meraih P5 (posisi kelima) di Thailand, dan bahkan langsung meraih podium ketiga di balapan kedua yang berlangsung di Brazil.

Setelah itu, ia masih konsisten bertarung di barisan depan, serta sesekali memimpin lomba maupun salah satu sesi yang berlangsung di sepanjang akhir pekan balap.

Total 90 poin yang dikumpulkannya dalam 11 seri pun, menjadi torehan terbaik yang berhasil dikumpulkan oleh pembalap Indonesia mana pun sampai saat ini.

Karena sebelumnya, prestasi terbaik pembalap Indonesia lainnya hanya sanggup ditorehkan oleh seniornya saat ini di ajang Moto2, Mario Aji, yang mengumpulkan total 8 poin di ajang Moto2 musim 2025 lalu.

Kemajuan Pembalap Indonesia

Secara tidak langsung, hal ini sudah menunjukkan kemajuan signifikan yang ditorehkan oleh pembalap Indonesia yang pernah berkompetisi di ajang Grand Prix.

Mulai dari Doni Tata Pradita (2008 dan 2013), Rafid Topan Sucipto (2013), Gerry Salim (2019), Dimas Ekky Pratama (2019), Andi Farid Izdihar (2020-21), Mario Aji (2022-sekarang), serta Veda Ega Pratama (2026-sekarang), progres yang ditunjukkan selalu mengarah ke tren positif atau menanjak dari waktu ke waktu.

Semakin ke sini, para jagoan balap tanah air mulai membuktikan diri bisa bersaing dengan nama-nama besar dari Eropa, seperti Spanyol dan juga Italia, untuk memperebutkan supremasi tertinggi balap motor internasional.

Tentu saja publik berharap agar progres itu tidak hanya berhenti di Veda saja, namun bisa ikut diteruskan oleh adik-adiknya kelak di masa mendatang. Sehingga Indonesia tidak akan pernah kehabisan talenta-talenta muda berbakat, yang siap berkompetisi di ajang balap kelas dunia, serta menorehkan prestasi gemilang sejak usia muda. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar