Ini Kebiasaan Rachmat Gobel yang Belum Tersingkap

14 Min Read
Rachmat Gobel (kiri) dan Nasihin Masha. Foto: Dok. Penulis

Sejak kepergian Rachmat Gobel pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul 03.20 WIB, saya benar-benar lunglai. Tak cukup energi untuk menulis status di medsos, apalagi menulis obituari seperti biasanya jika ada kerabat, teman, atau orang penting yang wafat.

Namun kali ini tak cukup daya. Saya bukan orang yang mudah menangis, namun kali ini di saat sendiri atau di saat terkenang-kenang, saya tak kuasa untuk sesenggukan.

Di hari Ahad, saya mulai mencoba menghimpun energi dan menguatkan diri. Dimulai dari tidak membuka medsos atau membaca grup yang banyak membicarakan tentang Rachmat Gobel. Namun ternyata butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Dan ternyata tetap tak sebagus yang saya inginkan.

Saya menjadi staf pribadi almarhum sejak 2021. Belum begitu lama. Namun dalam 5,5 tahun ini saya sangat intens berhubungan.

Menurut subjektivitas saya, ini orang terbaik yang pernah saya kenal: lempeng, dermawan, rendah hati, sederhana, pemaaf, positif, ramah, hangat, murah senyum, detil, rapi, pekerja keras, disiplin, berkomitmen, perasa, dan hati-hati.

Di medsos yang ramai mengenang almarhum, disebut dengan satu frasa: orang baik. Cukup banyak yang bertanya kepada saya, “Bagaimana beliau meninggal?” “Tak terdengar ada kabar beliau sakit.” “Sakit apa? Jantung? Apnea?” Dan seterusnya. Saya bukan dokter. Jadi saya tak bisa menjawabnya.

Saya hanya menyampaikan: “Allah lebih sayang kepada Pak Rachmat Gobel. Sehingga Allah memanggilnya pulang.”

Karena pada Kamis itu, Pak Rachmat beraktivitas seperti biasa. Ada kegiatan ini-itu. Pukul 10 malam pulang ke rumah. Pukul 12 malam masih mengirim pesan ke staf untuk koordinasi kegiatan. Setelah itu tidur. Namun kemudian Ibu Ade, istrinya, melihat ada ketakwajaran, sehingga dibawa ke rumah sakit.

Pihak rumah sakit melakukan upaya tindakan medis, namun beliau memang telah pergi. Beliau wafat dalam kondisi tidur yang tenang. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Allahummaghfir lahu warchamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu.

Pagi itu, pada pukul 03.25, saya ditelepon Pak Jimmy Tahir, adik ipar Pak Rachmat, dan saya langsung menuju ke rumah sakit. Beliau wafat di hari yang baik, hari Jumat.

Pada kesempatan ini, saya hanya akan bercerita tentang kebiasaan-kebiasaan beliau, yang saya ketahui. Tentang hal-hal yang mungkin dianggap hal-hal biasa, kecil, dan remeh temeh. Tapi bagi saya, ini adalah justru kekuatan beliau. Izinkan saya menuliskan atribusi “Pak” dan “beliau”, sebagai rasa hormat, dan perspektif “saya”.

Berangkat dari Hati

Saya mulai dari hal satu ini: saat bepergian jauh, Pak Rachmat Gobel selalu menenteng tas ransel kulit. Suatu kali, saya mencoba membantu menurunkan ransel tersebut dari bagasi kabin pesawat: berat sekali. Ya, di ransel itu ada Alquran ukuran jumbo, bukan ukuran standar. Biasanya juga membawa coklat yang sudah dikemas dalam endong, pouch, dari kain, yang ujungnya diikat. Ada beberapa endong. Dan tentu uang.

Dalam penerbangan ke Gorontalo atau keluar negeri, Pak Rachmat meluangkan waktunya untuk membaca Alquran. Demikian pula saat di kantor, di kala tidak ada kegiatan. Bahkan di Bulan Ramadan, ia memang membuat jadwal khusus untuk membaca Alquran.

Saya kadang iseng merekamnya, dan tanpa seizin beliau – memang tak pernah minta izin – menayangkannya di medsos.

Beliau memiliki target waktu untuk mengkhatamkan bacaan Alquran, apalagi jika di Bulan Ramadan. Beliau juga rajin berzikir di saat tak ada kegiatan. Setiap masuk halaman rumah dan keluar rumah selalu merapalkan doa.

Pak Rachmat juga sangat tertib melaksanakan salat lima waktu: di kantor, di mobil, di pesawat. Jika saya tak ikut salat jemaah, ia akan menegur, “Pak Nasihin tidak mau beramal pahala ke saya.” Salat jemaah dipercaya memiliki pahala berlipat dibandingkan dengan salat munfarid, sendirian.

Pak Rachmat adalah orang yang konservatif. Di era digital ini sebetulnya banyak Alquran digital yang bisa terpasang di handphone. Dengan demikian, tak perlu berat menenteng Alquran, apalagi ini Alquran ukuran jumbo.

Mengecup Alquran Bukan Handphone

Namun beliau orang yang mengikuti kata hati. Kata orang Sunda dengan Alquran digital menjadi kurang “resep”, atau kata orang Jawa kurang “marem”. Dengan Alquran biasa beliau bisa mendekap dan mengecupnya usai membaca Alquran. Tentu ganjil jika usai membaca Alquran kemudian mengecup handphone.

Kata hati, kenyamanan hati, bisikan hati, adalah kebiasaan Pak Rachmat dalam melakukan langkah. Selain pertimbangan praktis dan rasional, proses pengambilan keputusan Pak Rachmat juga mengikuti kata hati.

Beliau memiliki prinsip heart to heart relationship. Semua hubungan harus selalu dimulai dari pertautan hati, termasuk dalam politik dan bisnis. Baginya, sesuatu yang dimulai dari pocket to pocket menjadi tidak langgeng, karena yang ada hanya kepentingan. Pertautan hati pula yang ia jalin dengan karyawan, bawahan, dan siapapun, khususnya dengan masyarakat Gorontalo.

Karena itu, beliau selalu mengajarkan sesuatu agar dimulai dari mutual respect, lalu mutual trust, dan akhirnya mutual benefit. Suatu kali ia menyampaikan, orang ada saja salah dan kekurangannya, dan itu bisa diperbaiki. Namun jika berkhianat maka itu tak ada obatnya. Karena pengkhianatan dimulai dari cacatnya hati.  

Dalam konteks ini, izinkan saya bercerita tentang diri saya sendiri. Mohon maaf sebelumnya. Terus terang saya tidak mengerti saya diminta menjadi staf khususnya saat beliau terpilih menjadi anggota DPR RI.

Saat itu beliau belum dilantik, namun sudah pasti terpilih. Beliau menelepon agar saya bersedia menjadi stafnya. Saya bingung. Saya hanya kenal begitu saja sebagai pemimpin redaksi dengan seorang pengusaha dan seorang tokoh/menteri. Tak ada hubungan emosional apa pun.

Saat itu saya sedang bekerja sebagai pegawai di BPJS Kesehatan. Saya tak tahu harus menjawab apa. Setelah dilantik menjadi wakil ketua DPR RI, saya diminta datang. Beliau menunjukkan ruang kerja yang sedang dibangun. Belum selesai.

“Nanti Pak Nasihin menempati ruangan ini,” katanya menunjuk ruangan yang paling besar dari tiga ruangan itu. Kali lain menelepon lagi. Butuh waktu lebih dari satu tahun bagi saya untuk menyatakan iya. Saya bilang ke istri, “Mungkin ini sudah takdir kita.”

Akhirnya, setelah saya menjadi staf khususnya, beliau bercerita bahwa “kehormatan saya merasa dikembalikan lagi dengan tulisan Pak Nasihin”.

Waduh. Rupanya itu. Beliau memang selalu bilang kehormatan hanya bisa dibalas dengan kehormatan. Saya memang menulis tentang pencopotan beliau sebagai menteri perdagangan. Saya sepekan sekali menulis catatan tentang peristiwa yang saya anggap penting.

Dalam bahasa almarhum Pak Adi Sasono, “mengomentari” peristiwa pekan itu. Saya merangkum kebijakan-kebijakan Pak Rachmat sebagai menteri perdagangan. Semuanya bagus. Bahkan untuk kali pertama dalam sejarah, harga sembako cukup stabil selama Ramadan, Lebaran, dan Natal.

Namun kebijakannya soal menolak impor beras, menolak impor pakaian bekas, memerangi penyelundupan, melarang impor tekstil bermotif batik, dan membatasi peredaran miras telah membuat para bandit ekonomi marah.

Itulah yang membuat beliau dicopot. Saya menulis begitu saja. Tak ada maksud apapun, kecuali membuat komentar atas pencopotannya sebagai menteri. Setelah sekian berlalu, beliau menelepon. Beliau meminta agar tulisan itu diprint khusus dan dibingkai lalu ada tanda tangan saya.

Sesuai permintaan, Republika mencetak dan membingkainya. Staf di Republika mengirimkannya ke rumahnya. Beberapa bulan kemudian, beliau menelepon lagi. Katanya barang itu hilang. Maka beliau meminta lagi.

Staf di Republika pun mengirim lagi ke rumahnya. Setelah saya menjadi stafnya, dan mengetahui karakternya, saya paham maksud beliau, yang belum saya pahami saat itu. Mungkin beliau berharap saya sendiri yang mengantarkannya.

Senyum Mereka, Kebahagiaan Saya

Kepada Pak Rachmat diperlihatkan video anak-anak berlarian di Taman Limboto, Kabupaten Gorontalo, yang baru ia tata ulang. Bahkan ada ibu-ibu yang mengasuh anak-anak tersebut tidur nyenyak menunggu anaknya yang asyik bermain dengan teman-temannya.

“Saya bahagia sekali melihatnya,” katanya tiba-tiba kepada saya.

Pak Rachmat baru saja menata Taman Limboto menjadi lebih baik. Menara Pakaya yang dibangun pada 2001 dan diresmikan pada 2003 itu dipercantik. Lampu-lampunya diperindah. Lima lantai di menara tersebut juga akan dibangun menjadi kafe berkelas VIP.

Tamannya dipasang videotron berbentuk bola berdiameter tiga meter, ini satu-satunya di Indonesia. Di sekeliling videotron dipasang rumput sintetis kualitas premium.

Pak Rachmat selalu menyampaikan bahwa di dunia ini cuma ada tiga menara yang dihiasi lampu: Eiffel, Tokyo, dan Pakaya. Menara tersebut juga dipercantik dengan dipasang lempengan tembaga berukir yang dipesan khusus dari Yogyakarta. Sehingga menara ini tak hanya indah saat malam, juga tampak anggun berkelas di saat siang. Kini kawasan itu menjadi sangat ramai.

Pentadio, kawasan mata air panas, juga ditata. Di sini beliau letakkan patung kucing yang cantik dan lucu, ayunan lampu, dan berbagai ornamennya. Jangan tanya berapa biayanya. Sudah pasti miliaran. Videotron bola ia pesan khusus dari China. Demikian pula dengan ayunan lampu.

Menurut rencana, ia juga akan menghias Pantai Bolihutuo, Boalemo, dan bundaran di Kabupaten Pohuwato dengan aneka hiasan lampu beragam bentuk. Beliau sudah ke Cina untuk memesan semuanya. Sebelumnya ia sudah menata Danau Perintis, Pantai Tamendao, dan Torosiaje. Danau Perintis yang sepi di tepi hutan diletakkan kapal layar dari tembaga, lengkap dengan dermaganya.

Di pinggir danau dihias lampu berbentuk tanaman gandum/padi. Juga diletakkan ayunan lampu, patung-patung tokoh kartun, dan macam-macam. Danau ini menjadi ramai. Tumbuh kafe-kafe. Pantai Tamendao yang kumuh pun menjadi tempat kongkow yang bagus kala malam dan sore hari.

Di sini menjadi spot yang bagus untuk menyaksikan sunset. Kampung terapung suku laut Bajo di Torosiaje juga ia tata. Suku Bajo adalah suku laut di Asia Tenggara. Mereka membangun perkampungan di atas laut. Mereka mampu menyelam dan berjalan di dasar laut untuk berburu ikan dengan tombak untuk waktu belasan menit.

Genetikanya sudah beradaptasi, denyut jantungnya bisa melemah untuk mengurangi konsumsi oksigen, dan limfanya sudah membesar. Suku ini menjadi inspirasi sutradara James Cameron untuk membuat sekuel Avatar kedua yang berjudul The Way of Water.

Perkampungan Torosiaje sudah ditata menjadi lebih rapi dan ada hiasan lampu di tengah laut yang berbentuk hati. Harapannya, kampung Torosiaje akan menjadi destinasi wisata.

Selain membangun tempat wisata, Pak Rachmat juga membuat berbagai event festival. Pertama, Festival Ikan Tuna. Gorontalo menjadi penghasil ikan tuna sirip kuning. Namun potensi ini belum pernah digemakan sebagai modal untuk menggerakkan ekonomi secara lebih luas.

Selama ini cukup dengan menjual ikannya atau membuat kulinernya. Padahal ini juga bisa dimaksimalkan menjadi arena wisata. Melalui festival, maka ekonomi ikan tuna juga mencakup aspek wisata. Ia bahkan mendatangkan Raja Ikan Tuna dari Jepang: Kiyoshi Kimura.

Ia pemilik jaringan restoran sushi terbesar di Jepang, Sushi Zanmai. Ia kondang karena membeli seekor tuna sirip biru seharga Rp 54,5 miliar. Di Gorontalo, ia memulai dengan mengikuti lelang ikan tuna sirip kuning. Lalu, dengan pakaian tradisional Jepang, Kimura mendemonstrasikan kemahirannya mencincang ikan tuna dengan samurai hingga menjadi sushi.

Ia berdiri di atas panggung, di hadapannya, di atas meja tersaji ikan tuna. Para dayangnya berjajar berdiri di belakangnya, dengan pakaian chef warna putih. Kemudian sushi dibagikan ke para pengunjung.

Kedua, Festival Balon Udara. Ia mengundang komunitas penggemar balon udara dari Wonosobo untuk melakukan festival di Gorontalo. Keliling dari satu kabupaten ke kabupaten lain. Tentu saja penontonnya membludak.

Langit Gorontalo dihiasi aneka balon ukuran raksasa dengan aneka warna. Memang balonnya tidak bisa berkelana seperti di Cappadocia, Turki. Namun keindahan dan kesemarakannya tetap meriah. Ketiga, Festival UMKM.

Festival ini menampilkan para pengusaha UMKM untuk menampilkan aneka kreasinya. Keempat, Festival Musik Milenial. Ini murni acara panggung hiburan selama beberapa hari. Kelima, Festival Pantai Bolihutuo. Potensi pantai yang luas belum tergarap dengan baik. Karena itu ia menciptakan keramaian agar masyarakat bisa menghidupkan potensi wisata di Bolihutuo.

Tentu saja pembangunan lokasi wisata dan penyelenggaraan festival tersebut memiliki tujuan ekonomi, yaitu menggerakkan ekonomi rakyat melalui UMKM yang tumbuh, seperti kuliner, transportasi, dan oleh-oleh, juga menaikkan pendapatan asli daerah melalui tiket masuk maupun pajak. Namun ada satu hal yang menjadi motivasi utamanya yang jarang ia kemukakan.

Katanya, “Rakyat Gorontalo tak punya tempat hiburan. Mereka butuh hiburan.” Menurutnya, orang yang bahagia bisa menciptakan masyarakat yang sehat. Karena itu, jika pun secara ekonomi bisa gagal, namun senyum rakyat Gorontalo yang miskin dan tertinggal sudah mengembang.

“Senyum rakyat Gorontalo adalah kebahagiaan saya. Itu yang tak ternilai, Pak Nasihin,” katanya. *** (Bersambung)

Nasihin Masha, penulis buku Praksis Pancasila: Pengamalan Ideologi di Perusahaan Gobel.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis senior, mantan Pemimpin Redaksi Republika
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar