Saat saya menginjak sekolah di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), guru bahasa Indonesia yang lincah dan gesit bicara karya sastra itu, kebetulan memang suka bercerita. Setiap kali pertemuan di kelas terjadi, selalu saja ia sisakan waktu untuk memaparkan cerita berbasis karya sastra.
Ia paling suka mengutip kisah dalam cerita pendek maupun novel. Suatu hari, dalam sesi pelajaran bahasa Indonesia yang ia ampu, ia ceritakan salah satu karya sastra yang ditulis Sutan Takdir Alisjahbana, berjudul Anak Perawan di Sarang Penyamun.
Kisah singkatnya, ada tokoh Sayu, seorang gadis lugu, yang diculik dan dibawa ke sarang penyamun setelah orang tuanya dirampok dan dibunuh. Namun Sayu justru akhirnya jatuh cinta dengan kepala komunitas penyamun itu. Karena ia setiap harinya diperlakukan dengan baik.
Sosok Sayu ini akhirnya juga justru menyadarkan kelompok penjahat itu sehingga mau kembali ke jalan yang baik dan benar lalu membubarkan diri.
Kisah yang ditulis STA dan dimuat sebagai cerita bersambung di majalah Penindjauan pada 1932 itu ternyata masih relevan dengan era zaman kini.
Ketika kemudian karya tersebut muncul sebagai buku di Balai Pustaka delapan tahun setelah dimuat di Penindjauan, justru semakin mengukuhkan bahwa cerita itu menjadi penting dan memang mewakili jiwa zaman.
Pesan Moral
Kisah cerita tersebut memang seperti kisah platonis saja. Kisah yang memang hanya mengada-ada. Kisah cinderella, pemanis hidup yang pahit.
Namun pesan moral yang dibawa dalam kisah tersebut tetaplah bisa dipetik sebagai salah satu penyelesaian masalah sosial kemasyarakatan kita sehari-hari.
Yang harus digarisbawahi adalah bahwa kejahatan akan kalah dengan cinta. Cinta yang tulus. Oleh sebab itu, benar jika salah satu metode dalam memberantas kejahatan salah satunya dengan pendekatan cinta. Dirangkul untuk kemudian ditunjukkan pada jalan yang benar.
Namun, dalam kenyataannya tentu saja tidaklah mudah menciptakan idealisasi itu. Perjuangan STA dalam mengawal karyanya sendiri juga tidaklah semulus yang dibayangkan. Aral melintang adu gagasan juga bisa ia jumpai.
Bersamaan dengan era ketika karya Anak Perawan di Sarang Penyamun itu muncul STA juga sudah terlibat dalam ragam polemik. Misalnya polemik kebudayaan dengan perspektif Timur dan Barat.
Waktu itu perdebatannya terjadi dengan kubu tokoh seperti Sanusi Pane dan Dr. Sutomo. Salah satu pemikiran STA yang disoroti adalah agar pendidikan nasional jangan hanya bertumpu pada filsafat timur dan menolak kejayaan masa lalu.
STA berpendapat bangsa Indonesia harus tetap mengikuti perkembangan zaman, beradaptasi dengan pemikiran Barat supaya bisa semakin eksis di masa depan.
Pemikiran STA ini tentu saja benar. Kita tidak perlu antipati dengan perubahan zaman. Sudah sewajarnya jika kita menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
Pemikiran STA ini pun memang tetap terus relevan hingga hari ini dan kelak di masa depan. Tentu saja menjadi layak jika gelar pahlawan nasional memang akan segera tersematkan pada dirinya. ***

