Mabur.co- Setiap 28 Juli, dunia memperingati Hari Konservasi Alam Sedunia (World Nature Conservation Day).
Peringatan ini lahir dari kesadaran bahwa kesejahteraan manusia bergantung pada alam yang sehat: hutan, laut, sungai, tanah, hingga jutaan spesies yang hidup di dalamnya.
Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, hilangnya habitat, dan menurunnya keanekaragaman hayati, Hari Konservasi Alam Sedunia menjadi pengingat bahwa menjaga kelestarian bumi bukan hanya tugas pemerintah atau ilmuwan, melainkan tanggung jawab bersama.
Aliansi Mahasiswa Nusantara, Altingia Arie, menuturkan, hari ini diperingati Hari Konservasi Alam Sedunia.
“Di tengah berkurangnya hutan, rusaknya ekosistem, hilangnya habitat satwa, pencemaran, dan perubahan iklim, kita tidak boleh kehilangan harapan. Alam Indonesia masih bisa dijaga jika kepedulian diwujudkan menjadi tindakan, bukan sekadar wacana,” ujarnya, Selasa (28/7/2026).
Jaga Hutan Tugas Bersama
Altingia Arie, menuturkan, Aliansi Mahasiswa Nusantara percaya bahwa menjaga alam bukan hanya tugas pemerintah atau pegiat lingkungan, melainkan tanggung jawab seluruh anak bangsa.
Yang diwariskan kepada generasi mendatang bukan hanya pembangunan, tetapi juga hutan yang tetap hijau, sungai dan laut yang bersih, tanah yang subur, udara yang sehat, serta keanekaragaman hayati yang tetap lestari.
“Kami berdoa semoga Tuhan senantiasa menjaga bumi Indonesia, menguatkan setiap insan yang berjuang merawatnya, dan menggerakkan hati kita semua untuk hidup lebih selaras dengan alam. Karena ketika alam lestari, kehidupan akan terus memberi harapan,” ucapnya.
Altingia Arie pun mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan Hari Konservasi Alam Sedunia sebagai momentum untuk memperkuat kepedulian terhadap lingkungan.
Kondisi lingkungan saat ini membutuhkan perhatian serius. Khususnya rusaknya ekosistem, hilangnya habitat satwa, pencemaran, hingga dampak perubahan iklim menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. ***
