Mabur.co – Kalau pernah dengar orang Yogya menyebut kata “Jokteng”, itu bukan istilah asing atau bahasa gaul baru.
Jokteng adalah singkatan dari Pojok Beteng, area di sudut-sudut tembok pertahanan Keraton Yogyakarta yang sudah jadi penanda kawasan sejak ratusan tahun lalu.
Dalam sejarah panjang Kesultanan Yogyakarta, Geger Sepoy (atau Geger Sepehi) menjadi salah satu babak penting yang menandai pertemuan antara intrik kekuasaan lokal dan intervensi kolonial.
Salah satu titik krusial dalam konflik ini terjadi di Pojok Beteng Tanjung Anom, sebuah bastion strategis yang menjadi sasaran serangan hebat pasukan Inggris.
Dilansir dari berbagai sumber, Jumat (11/9/2026), benteng ini terletak di sudut tenggara keraton, tak jauh dari Istana Sawo Jajar.
Kediaman resmi Gusti Hamangku Nagara, putra mahkota Kesultanan Yogyakarta yang juga dikenal sebagai Raden Mas Surojo.
Ia adalah ayah dari tokoh besar sejarah, Pangeran Diponegoro, dan merupakan anak dari Gusti Kanjeng Ratu Kedaton.
Hubungan antara Gusti Hamangku Nagara dan ayahandanya, Sultan Hamengku Buwono II, saat itu kurang harmonis.
Hal ini disebabkan oleh sejarah singkat ketika Daendels sempat menobatkannya sebagai raja, sebelum akhirnya dicopot kembali setelah Daendels ditarik pulang ke Eropa.
Dinamika kekuasaan ini turut memengaruhi respons dan strategi pertahanan dalam menghadapi ancaman eksternal.
Pertempuran Memburuk
Ketika kondisi pertempuran memburuk dan serangan Inggris makin intensif, Gusti Hamangku Nagara mengirimkan pamannya, Pangeran Haryo Panular —putra Sultan Hamengku Buwono I— untuk menghadap Sultan HB II dan memohon bantuan.
Gusti Hamangku Nagara memilih bertahan di kadipaten dengan opsi mengungsi ke Tamansari jika kondisi semakin genting.
Ia tidak sendiri. Tiga paman dari garis Sultan HB I, yaitu Pangeran Haryo Panular, Pangeran Haryo Abubakar, dan Pangeran Haryo Dipasanta, turut mendampingi dalam masa-masa krisis tersebut.
Hari pertama Geger Sepoy berakhir pada pukul 21.00 malam. Para pihak yang terlibat —baik dari pihak Kesultanan maupun Inggris— terlalu letih untuk menyadari bahwa babak penentuan dari konflik ini akan segera tiba hanya dalam hitungan jam berikutnya.
Penting untuk memahami konteks zaman tahun 1800-an, di mana konsep nasionalisme dan kesatuan negara Indonesia belum lahir.
Tiap kerajaan, termasuk Yogyakarta, adalah entitas berdaulat dengan kebijakan luar negeri sendiri-sendiri. Menyikapi sejarah dari sudut pandang masa kini tanpa mempertimbangkan realitas zamannya dapat menyesatkan dalam menilai tokoh-tokoh sejarah.
Arsitektur Tradisional Jawa
Sesuai arsitektur tradisional Jawa, benteng dibangun mengelilingi keraton sebagai sistem pertahanan, dan Jokteng adalah bagian penting dari benteng itu, khusus di titik-titik sudutnya.
Menariknya, benteng Keraton Yogya sebenarnya punya dua lapis, bukan cuma satu. Lapisan pertama disebut Cepuri, mengelilingi kedhaton atau inti kawasan keraton.
Lapisan kedua, jauh lebih luas dan kokoh, disebut Baluwarti, mencakup seluruh kawasan Jeron Beteng. Diserap dari bahasa Portugis, baluarte, yang juga berarti benteng.
Awalnya, tembok pertahanan ini terbuat dari gelondongan kayu, sebelum diperkuat dengan lorong selebar 2,4 meter tempat prajurit berjaga.
Di sisi luar benteng, ada parit dalam berair jernih bernama jagang, dilengkapi pagar bata dan barisan pohon gayam di sepanjang jalan yang melingkarinya.
Dulu, Jokteng ada empat, tersebar di keempat penjuru mata angin. Tapi sekarang cuma tersisa tiga: Pojok Beteng Wetan (timur), Pojok Beteng Kulon (barat), dan Pojok Beteng Lor (utara). Satu sudut yang hilang, di sebelah utara-timur, hancur akibat serangan pasukan Inggris dalam peristiwa Geger Sepehi 1812.
