Pemugaran Candi Plaosan Dikebut, Fadli Zon Dorong Pemanfaatan Teknologi 3D dan AI

4 Min Read
Group of officials and locals walk among a pile of large rocks beside a building with a green roof, inspecting the area.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, saat meninjau Candi Plaosan. (Foto: Dok Pemkab Klaten)

Mabur.co – Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan terus melakukan upaya pemugaran berbagai situs candi.

Salah satunya Candi Plaosan di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Melalui kerja sama kemitraan dengan Djarum Foundation, Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya (BLU MCB), telah memugar lima candi perwara di Kompleks Candi Plaosan.

Kelima candi tersebut adalah Candi Perwara Deret 1 Nomor 1, 2, 3, 10, dan 50.

Pemugaran ini tidak hanya bertujuan mengembalikan bentuk bangunan yang rusak, tetapi juga menjaga keaslian peninggalan kuno tersebut. 

Salah satu bagian yakni Candi Perwara Deret 1 Nomor 2 yang dimulai sejak 5 Januari 2025 lalu kini bahkan telah memasuki tahap peletakan batu penutup cungkup.

Prosesi peletakan batu penutup cungkup ini dilakukan pada 9 September 2026 oleh Kementerian Kebudayaan melalui Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya (BLU MCB).

Dilansir rilis Kemenbud yang diterima mabur.co, Jumat (11/9/2026), pemugaran Candi Plaosan berjalan lebih cepat dari target awal. Penyelesaian keseluruhan pekerjaan bahkan diproyeksikan selesai pada November 2026 mendatang.

Sesuaikan Struktur Bangunan Candi

Seperti proses pemugaran pada umumnya, tantangan pemugaran Candi Plaosan adalah menyesuaikan struktur bangunan candi agar tetap sesuai dengan bentuk dan karakter bangunan aslinya.

Terlebih kompleks Candi Plaosan memiliki ratusan struktur candi terdiri dari sekitar 72 candi perwara atau candi pendamping dan sebanyak 268 stupa.

Kondisi material yang telah berusia ratusan tahun juga membuat proses pemugaran membutuhkan ketelitian tinggi.

Mengatasi tantangan tersebut, Kementerian Kebudayaan pun mendorong pemanfaatan teknologi terbaru dalam proses pemugaran. 

Yakni dengan memanfaatkan rekonstruksi visual tiga dimensi serta AI atau kecerdasan buatan agar mempermudah proses pengidentifikasian dan penentuan posisi material secara lebih presisi.

Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu proses pemugaran tanpa mengorbankan prinsip autentisitas arkeologi.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mengaku senang dengan keterlibatan pihak swasta dalam proses rekonstruksi ini.

Ia menilai keberadaan candi sebagai bagian dari kebudayaan merupakan aset yang harus dilindungi dan dikembangkan. 

“Kebudayaan ini bukan beban anggaran. Justru kebudayaan adalah mesin baru pertumbuhan ekonomi. Situs bersejarah tidak hanya harus kita lindungi untuk merawat memori kolektif dan jati diri bangsa, tetapi juga harus kita kembangkan dan daya gunakan menjadi destinasi wisata edukatif serta ekonomi budaya yang mensejahterakan masyarakat di kawasan sekitar,” ungkapnya. 

‘Taj Mahal’ di Indonesia

Fadli Zon sendiri secara khusus mengibaratkan Candi Plaosan sebagai ‘Taj Mahal-nya Indonesia’. Monumen mahakarya abad ke-8 hingga ke-9 Masehi itu menjadi saksi kisah persembahan cinta antara Sri Maharaja Rakai Pikatan yang beragama Hindu kepada permaisurinya, Sri Kahulunan Pramodawardhani yang memeluk agama Buddha.

Keunikan ini tercermin nyata dari arsitektur dua candi induk kembar di Candi Plaosan. Sehingga candi ini kerap menjadi simbol autentik akulturasi, kerukunan, dan toleransi peradaban Nusantara yang usianya ratusan tahun lebih tua dibandingkan Taj Mahal di India.

Sementara itu, Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estianty Nurjadin, mengatakan pengelolaan Candi Plaosan nantinya akan diarahkan tidak hanya pada pelestarian bangunan, tetapi juga pada pengembangan nilai budaya kawasan.

Menurutnya, tata kelola Candi Plaosan akan dijalankan dengan berpijak pada konsep Harmony in Diversity. Konsep tersebut membawa pesan kebijaksanaan, pengetahuan, etos kerja, serta keselarasan dengan lingkungan.

Pemugaran juga tidak berhenti pada struktur bangunan. Kawasan Candi Plaosan juga akan dikembangkan secara terintegrasi dengan gugusan percandian di sekitarnya, seperti Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Bubrah, dan Candi Lumbung.

Sejumlah penataan kawasan itu nantinya akan mencakup gerbang utama, pagar pembatas, fasilitas penerimaan pengunjung, sentra cinderamata, hingga ruang kuliner lokal.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar