Pekan Budaya Difabel, Pentingnya Memahami Bahasa Isyarat sebagai Jembatan Komunikasi

4 Min Read
Group of people standing and raising hands under colorful fabric canopies in a courtyard.
Peserta sedang mengikuti workshop bahasa isyarat di Pekan Budaya Difabel. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co- Isu kesetaraan disabilitas kian hari kian terdengar. Masyarakat diajak untuk lebih “melek” tentang kebutuhan para difabel (sebutan untuk para penyandang disabilitas) dan bagaimana mereka seharusnya layak mendapatkan fasilitas yang sama dengan orang lain.

Walaupun memiliki keterbatasan, banyak difabel yang sebenarnya tetap bisa berkarya bahkan berprestasi melebihi orang lain pada umumnya.

Arief Wicaksana, difabel tuli menuturkan, bahasa isyarat merupakan jenis bahasa yang menggunakan komunikasi manual dengan gerak tubuh dan gerak bibir. Bahasa isyarat biasanya digunakan oleh komunitas tuna rungu untuk melakukan komunikasi.

“Bahasa isyarat pada umumnya memiliki perbedaan di setiap negara. Meski akan butuh waktu lama untuk mempelajari bahasa ini, namun cukup penting dan menarik untuk bisa menguasai,” ujarnya, saat mengisi workshop bahasa isyarat, Pekan Budaya Difabel di Yogyakarta, Selasa (28/7/2026).

Person in a black shirt standing outdoors on a brick-paved path, with a green fence and parked motorcycles in the background.
Arief Wicaksana, difabel tuli. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Menurut Arief, bahasa Isyarat adalah bahasa yang mengutamakan bahasa tubuh dan non-verbal, kadang-kadang mengeluarkan suara untuk berkomunikasi.

“Bahasa ini bukan dengan kata-kata verbal, melainkan gabungan ekspresi sandi atau reaksi,” katanya.

Dua Bahasa Isyarat

Menurut Arief pula, ada dua bahasa isyarat yang digunakan kelompok tuli di Indonesia, yaitu Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Meski sama-sama bahasa isyarat, keduanya memiliki perbedaan.

“Perbedaan SIBI dan BISINDO yang cukup terlihat adalah gerakan tangan dan ekspresi. Setiap gerakan bibir dan bahasa tubuh menyimpan pesan untuk berbicara tanpa adanya perbedaan sesama manusia. Setiap ekspresi wajah, pandangan mata serta gerak tubuh mempunyai interpretasi yang sama,” ucapnya.

Bagi anak dengan keterlambatan bicara (speech delay), penggunaan bahasa isyarat dapat mempercepat kemampuan komunikasi karena otak tetap dilatih untuk memahami simbol dan makna. Dengan begitu, meskipun anak belum bisa berbicara secara verbal, mereka tetap bisa berinteraksi dan mengurangi frustrasi akibat ketidakmampuan menyampaikan keinginan.

“Dalam jangka panjang, metode ini membantu memperkuat fondasi bahasa yang akan mendukung kemampuan berbicara ketika fungsi verbal mulai berkembang,” katanya.

Pentingnya Memahami Bahasa Isyarat

Sementara itu, salah satu peserta workshop bahasa isyarat, Rahayu Nurtiyam, menuturkan, betapa pentingnya memahami bahasa isyarat di seluruh kalangan agar dapat menjadikan dunia lebih inklusif.

Hakikatnya seluruh kalangan dapat belajar bahasa isyarat sehingga masyarakat sekitar juga dapat mendampingi penyandang tuli.

“Sebenarnya semua orang mampu belajar bahasa isyarat, tidak hanya orang-orang tertentu yang mendampingi tuli melainkan masyarakat sekitar juga ikut mendampingi,” ucapnya.

Smiling woman in a black hijab and blue patterned dress takes a selfie, hands raised in rock-on gestures, outdoors with people in the background.
Salah satu peserta workshop bahasa isyarat, Rahayu Nurtiyam. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Menurut Rahayu, perbedaan tidak akan menjadi masalah pelaksanakan pendidikan, karena pendidikan sesungguhnya untuk semuanya tanpa terkecuali. Termasuk yang berkebutuhan khusus sehingga dapat tercipta pendidikan inklusi. Mengenal bahasa isyarat sebagai salah satu cara untuk memahami eksistensi manusia dan segala perbedaan yang ada.

“Eksistensi manusia tidak dilihat dari fisik namun dilihat dari jasmani dan rohani, maka dari itu dalam melakukan pendidikan harus menerapkan pendidikan inklusi. Sehingga kita perlu memahami bahasa isyarat sebagai bentuk memahami perbedaan yang ada,” ungkapnya.

Kebutuhan Linguistik dan Budaya Tuli

Menurut Rahayu pula, penyandang tuli membutuhkan gaya yang mempertimbangkan kebutuhan linguistik dan budaya tuli. Mengamati hal tersebut, sangat penting bagi semua, khususnya calon guru, untuk mengenal budaya tuli dan bahasa linguistik tuli (bahasa isyarat).

“Mengenal bahasa isyarat merupakan hal yang sangat penting. Hal ini dapat sebagai bentuk sarana untuk memahami budaya tuli dan bahasa linguistik tuli,” tegasnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar