Mabur.co- Memperingati Hari Kebaya Nasional ke-3, Sanggar Tari Wanita Tama bersama Sanggar Budaya Ambar Rukma mempersembahkan Gelar Karya Tari Kebaya Anggun Serumpun, Kamis (30/7/2026) di Plaza Barat Museum Benteng Vredeburg, Kota Yogyakarta.
Ketua Sanggar Tari Wanita Tama, RM Condroyono, menuturkan, berawal dari pengalaman menari bersama pada peringatan Hari Kebaya di Borobudur 2024, lahirlah keyakinan bahwa kebaya tidak hanya indah untuk dikenakan. Tetapi memiliki makna yang lebih dalam ketika didalami melalui gerak.
“Melalui Tari Kebaya Anggun Serumpun, kami mengajak masyarakat mengalami kebaya, bukan sekadar memakai. Ketika kebaya dikenakan untuk menari, ia menghadirkan rasa bagi yang memakai, anggun, percaya diri, fleksibel, sekaligus kedekatan dengan identitas budaya yang dimiliki,” ujarnya.
Kebaya Tumbuh Melalui Perjalanan Panjang
Menurut RM Condroyono, kebaya juga merupakan hasil perwujudan budaya, jadi wajib dilestarikan. Kebaya tumbuh melalui perjalanan panjang di kawasan Asia Tenggara.
“Di antara negara-negara yang mengakui kebaya sebagai warisan budaya bersama, Indonesia memiliki kekayaan ragam kebaya. Tercermin dalam bentuk material dan Wastra Nusantara dari berbagai daerah,” urainya.
Sementara itu, Kepala Unit Museum Benteng Vredeburg, Vincentius Agus Sulistya, menuturkan, Kota Yogyakarta sangat istimewa karena berada di kawasan 0 kilometer.
Menjadi pusat peradaban Kota Yogyakarta, Karena di sebelah selatan ada keraton, kemudian di depannya ada alun-alun, di barat ada Masjid Agung. Lalu sebelah utara ada Benteng Vredeburg. Seberangnya ada Gedung Agung. Ke utara ada kompleks Malioboro, ada pula Pasar Beringharjo.
“Ketika para wisatawan berkunjung ke Yogyakarta, mereka bisa saja juga berkunjung ke museum. Di situ ada tata pamer yang luar biasa. Sebuah tata pamer yang mencerminkan peradaban kota kita,” katanya.
Menurut Agus pula, ia merasa sangat berbahagia karena Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta menjadi pusat perhelatan yang luar biasa dengan diadakannya Gelar Karya Tari Kebaya Anggun Serumpun. Terkait pula dengan rangkaian Hari Kebaya Nasional.
“Sejarah Hari Kebaya tidak lepas dari peristiwa diselenggarakannya Kongres KOWANI tahun 1964 yang merupakan kongres ke-10. Saat itu kebaya dapat menjadi ciri khas, identitas nasional dan juga penanda kehadiran figur wanita dalam perjuangan,” katanya.
Di Museum Benteng Vredeburg pula, dikhususkan berisi sejarah perjuangan. Di dalamnya tersimpan narasi-narasi kesejarahan yang dapat dijadikan lentera pembelajaran masa lalu. Bisa diterapkan untuk masa depan.
“Maju mundurnya negara juga tergantung dari kualitas wanita bangsa kita. Oleh karena itu, kalau ingin maju negara tersebut, majulah wanitanya. Kalau ingin rusak negara tersebut, rusaklah wanitanya. Tentu saja wanita atau perempuan menempati tempat yang sungguh istimewa dan mulia,” katanya.
Di sisi lain, penggagas dan Ketua Berkebaya, Wiendu Nuryanti, menuturkan, adanya semangat Kongres Wanita Indonesia pertama.
Waktu itu dipelopori oleh para penggerak perempuan untuk perjuangan terhadap persatuan dan kemerdekaan.
“Kita merasakan gelora semangat itu kembali sebagai kecintaan terhadap budaya, terhadap identitas, terhadap jati diri yang kita miliki. Salah satunya adalah melalui bangga berkebaya,” katanya.
Menurut Windu, kebaya sebagaimana diketahui, hidup di Indonesia sejak tahun 1500-an pada zaman Majapahit. Menggelora di seluruh kehidupan masyarakat Indonesia, Jawa khususnya. Mulai dari mbok-mbok gendong sampai dengan jamu gendong. Juga dengan ibu-ibu para pejuang kemerdekaan.
“Saya kira kebaya sudah bukan lagi sekadar pakaian, simbol dari pakaian perempuan. Namun kebaya memang merupakan jati diri bangsa. Merupakan satu identitas kebudayaan Indonesia yang harus dijaga kelestariannya,” katanya.
Diakui UNESCO
Menurut Windu pula, pada Desember 2024, kebaya telah di-inscribe atau diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda.
Ada lima negara yang diketahui dan diverifikasi memiliki budaya berkebaya sebagai identitas dan jati diri. Yaitu Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand.
“Jadi, lima negara ini bersama-sama turut serta memiliki tanggung jawab untuk terus melestarikan kebaya sebagai jati diri bangsa masing-masing. Oleh karena itu, pada saat di Prambanan lalu ada acara dihadiri lebih dari 2.000 perempuan berkebaya. Hadir pula teman-teman sejawat dari beberapa negara tersebut,” katanya.
Windu berharap, tahun depan bisa menyelenggarakan acara di Borobudur. Bisa dihadiri pula oleh lima negara dengan identitas kebaya tersebut. Masing-masing negara tersebut bisa menampilkan masing-masing ciri khas, masing-masing kekhususan, keunikan dari kebaya yang dimiliki oleh masing-masing, negara.
Sementara itu, perwakilan dari Sanggar Tari Wanita Tama bersama Sanggar Budaya Ambar Rukma, Sayuri Faraswa, mengatakan, karya yang ditampilkan menjadi ruang perjumpaan berbagai komunitas perempuan. Selain menampilkan unsur seni dan budaya juga pendidikan, anak muda, dan masyarakat.
Dalam merayakan Hari Kebaya Nasional, di antaranya ada acara bangga berkebaya, forum pemberdayaan perempuan Indonesia (FPPI), komunitas cinta kain Nusantara, dan Jogja Woman Cyclist. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa pelestarian kebaya tumbuh melalui kolaborasi dan partisipasi bersama.
“Sebagai tari komunal yang inklusif, tari Kebaya Anggun Serumpun diharapkan terus berkembang melalui kolaborasi dengan museum, instansi pendidikan, komunitas, dan dunia usaha. Semakin banyak masyarakat dapat mengalami kebaya sebagai pengalaman budaya yang hidup dan relevan lintas generasi. Ketika kebaya dikenakan untuk menari yang bergerak bukan hanya tubuh. Tetapi juga sejarah, identitas, dan ingatan sebuah bangsa. Sebab kebaya bukan sekadar pakaian. Kebaya adalah pengalaman budaya yang terus hidup bersama kita,” katanya. ***
