Koran Cetak Kian Ditinggalkan Karena Kurangnya Regenerasi Pembaca?

6 Min Read
Woman in a red shirt reads a newspaper at a library table, with tall bookshelves behind her.
Ilustrasi. Generasi muda sedang membaca koran cetak di perpustakaan. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Di tengah kemajuan zaman dan teknologi seperti sekarang, eksistensi media konvensional seperti koran semakin berada di ujung tanduk.

Media cetak yang satu ini dianggap tidak lagi mampu bersaing dengan media-media lainnya, yang kebanyakan beroperasi secara digital (online), dan mampu menerbitkan konten-konten baru yang lebih banyak serta beragam (dalam bentuk audiovisual), ketimbang media cetak yang kebanyakan monoton dan sebagainya.

Belum lagi soal biaya produksi, di mana media cetak cenderung mahal, mulai dari harga kertas, impro tinta, serta biaya ongkos kirim ke berbagai tempat (penjual koran), yang tentu saja memerlukan waktu cukup lama.

Padahal, perkembangan informasi terus datang silih berganti, dan tidak menoleransi waktu cetak yang dilakukan media seperti koran.

Pada akhirnya, media koran seolah mundur teratur secara perlahan, serta beradaptasi dengan polarisasi baru di dunia digital, yakni dengan ikut mendirikan media online.

Putusnya Regenerasi Pembaca Koran Cetak

Banyak yang mengira bahwa kemunduran media cetak seperti koran disebabkan karena hadirnya platfom digital seperti media online maupun media sosial. Namun anggapan itu tidak sepenuhnya benar.

Dilansir dari laman Consumeri, Kamis (30/7/2026), penyebab sebenarnya dari kemunduran media cetak seperti koran adalah putusnya regenerasi pembaca, alias konsumen, yang menjadi nyawa dari kehidupan koran cetak selama ini.

Seperti diketahui bahwa koran cetak memang sudah menjadi teman setia pembaca di Indonesia sejak ratusan tahun silam, tepatnya sejak abad ke-18.

Artinya, koran memang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak masa kolonial, yang menjadi pemandu dari berbagai peristiwa yang terjadi pada saat itu.

Sampai akhirnya di awal tahun 2000-an, atau saat memasuki abad ke-21, kemunculan teknologi seperti internet perlahan mulai ikut mengubah pemetaan pembaca (konsumen), antara pembaca yang lebih senang membaca informasi dari kertas (cetak), maupun pembaca di era modern yang merasa lebih nyaman membaca di layar ponsel atau di komputer.

Ketika pembaca generasi lama mulai digantikan oleh pembaca generasi baru (yang lebih menyukai informasi dalam tampilan layar ponsel), maka di situlah yang menjadi penanda dari berakhirnya era media cetak, yang memang lebih digandrungi oleh pembaca generasi tua.

Meskipun cara kerja media cetak juga telah diperbaharui sedemikian rupa, seperti dengan mempercepat proses produksinya (memperbarui alat-alat yang digunakan), serta menambah jadwal tayang yang biasanya satu kali sehari menjadi dua kali sehari (untuk periode atau hari tertentu), namun tetap saja, koran cetak akan kembali dikalahkan dengan mudah oleh media berbasis digital, karena kecepatan adalah segalanya.

Kebiasaan Lama yang Gagal Diwariskan

Umumnya ketika membaca koran, pembaca-pembaca dari generasi lama akan membacanya secara berurutan dari halaman depan, lalu membalik-balikkan halaman secara berurutan hingga halaman terakhir, lalu kembali ke halaman tertentu yang hendak dibaca lebih lanjut, dan seterusnya.

Ada juga salah satu “senjata rahasia” dari koran, yakni menempatkan lanjutan informasi utama ke halaman paling belakang, agar pembaca masih terus membolak-balikkan koran sampai selesai, untuk dapat membaca informasi yang diinginkannya.

Namun bagi generasi muda saat ini, kebiasaan semacam itu terkesan rumit, alias tidak praktis. Karena anak-anak muda cenderung menyukai informasi dengan visual yang menarik, teks yang ringkas, serta tidak perlu bolak-balik (untuk mencari halaman tertentu), dan sebagainya.

Selain itu, anak-anak zaman sekarang juga tidak begitu mengenal urgensi membaca segala sesuatu hanya dari satu tempat, harus menunggu waktu tertentu (misalnya pagi) untuk mendapatkan informasi yang diinginkan, serta cenderung lebih bebas mencari informasi yang mereka suka/ingin baca.

Karena konsep koran itu hampir mirip seperti news bulletin dalam stasiun televisi (konvensional), yang di awal segmen memuat berita-berita penting, lalu berangsur-angsur semakin ringan menjelang akhir segmen, yang mana urgensinya tidaklah terlalu mendesak (untuk segera diberitakan), dan seterusnya.

Jika kebetulan pembaca (atau pemirsa) ingin menyaksikan berita dengan topik tertentu, misalnya topik pendidikan, maka menunggu satu jenis koran tidak akan efektif. Karena di internet sudah tersedia ribuan informasi khusus dunia pendidikan, yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja.

Kebetulan, media televisi konvensional juga mengalami nasib yang hampir serupa seperti media cetak, yang kini juga mulai ditinggalkan oleh para pemirsa dari kalangan generasi muda.

***

Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah, koran cetak bukan hilang karena kehilangan pembaca, melainkan tidak pernah diambil alih oleh generasi baru.

Ketika pembaca setia koran cetak mulai menua, dan akhirnya gugur (meninggal), generasi penerusnya tidak lantas mengambil alih peran tersebut, karena mereka sudah terbiasa dengan kecanggihan teknologi yang menawarkan kemudahan dalam berbagai aspek.

Koran cetak bukanlah sesuatu yang buruk atau ketinggalan zaman, namun karakteristiknya memang tidak sesuai dengan generasi baru saat ini, yang lebih mengutamakan kecepatan dan juga daya tarik visual, Sehingga ada ketidakcocokan yang membuat koran cetak nampak selalu terpinggirkan.

Ketika sebuah produk atau industri tidak lagi terasa relevan dengan kebutuhan hidup generasi tertentu, mereka pun dengan sendirinya akan meninggalkan produk tersebut, apalagi jika sudah ada penggantinya yang lebih relevan dengan keseharian mereka.

Dalam sebuah industri, tidak ada sesuatu yang benar-benar abadi. Manakala industri tersebut tidak mampu menemukan relevansi dengan konsumen baru, sementara pilihan lain di luar sana sudah tersedia dengan mudah, banyak, dan juga gratis, maka pilihan untuk terus bertahan akan sulit dilakukan.

Apalagi jika kemudian kertas koran tersebut hanya dijadikan sebagai bungkus makanan atau taplak meja, yang membuat nilainya setara dengan “sampah” ketika sudah tidak digunakan lagi. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar