Pengalaman Personal Jadi Pesan Kuat di Balik Pembuatan Antologi Puisi

3 Min Read
Three people seated on a panel: a hijab-wearing woman on the left speaks into a microphone, a woman in a patterned top sits center with a notebook, and a man in a light vest sits on the right in front of glass doors and shelves.
Isaura Erina Rahma Putri (kiri) menjelaskan proses di balik layar dalam pembuatan antologi puisi "Cara Paling Sendu untuk Merindu" dalam acara Selasa Sastra edisi Agustus 2026. (Foto: kanal YouTube Bang Tedi Way)

Mabur.co – Menghasilkan karya sastra seperti puisi bisa terinspirasi dari mana saja, termasuk pengalaman personal.

Bagi Isaura Erina Rahma Putri, salah satu lulusan program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” Yogyakarta periode 2024, sosok mendiang “ayah” (bukan kandung) menjadi pemantik bagi dirinya untuk menelurkan karya antologi puisi, yang diberi judul “Cara Paling Sendu, untuk Merindu”.

Dalam acara Selasa Sastra edisi Agustus 2026 bertema “Sajak-sajak Meraih Putih”, Isa, panggilan akrabnya, menceritakan bagaimana sosok “ayah” yang pernah singgah di hidupnya, benar-benar menjadi figur yang sangat dicintai dan dirindukan, khususnya setelah kepergiannya pada 2021 lalu.

“Karena aku kehilangan sosok yang jadi ‘ayah’ aku, bukan ayah (kandung) tapi sosok yang berperan jadi ‘ayah’ aku. Dia meninggalnya tahun 2021, tapi sampai sekarang aku masih belum ikhlas. rasanya berat banget untuk ngikhlasin kepergian dia.

Terus terlintas di pikiran aku, kalau kita sayang sama seseorang, cinta sama seseorang, itu bukan berarti kita harus mengikhlaskan dia pergi, tapi kita bisa mengabadikan dia dalam karya (sastra), agar selamanya bisa dibaca sama orang terdekat,” ucap Isa, dalam rangkaian acara Selasa Sastra edisi Agustus 2026 bertajuk “Sajak-sajak Meraih Putih”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, belum lama ini.

Menulis Puisi di Samping Makam “Ayah”

Demi benar-benar menghayati seluruh puisi yang ia buat, Isa pun rela menuliskan puisi-puisi tersebut tepat di samping makam sang “ayah”. Semua itu demi mengenang sosok yang benar-benar dicintainya, sekaligus menjadi kenangan yang tak akan pernah dilupakan bagi dirinya, dan orang-orang di sekitarnya.

“Aku waktu nulis puisi itu persis di sebelah makamnya ‘ayah’, sekitar jam 4 sore. Karena dia selama nemanin aku hidup itu nggak pernah yang namanya ngebentak aku sama sekali. Dia orangnya nggak pernah marah, dan selalu lindungin aku dalam situasi apa pun,” tambah Isa.

Selain diskusi buku “Cara Paling Sendu, untuk Merindu” karya Isaura Erina Rahma Putri, kegiatan Selasa Sastra edisi Agustus kali ini juga menghadirkan diskusi karya sastra lainnya, yakni antologi cerpen berjudul “Matahari 1/4 Lingkar” karya Irfanda Azka Muzaki.

Selain itu, acara ini juga menghadirkan sejumlah penampilan sastra menarik lainnya, seperti pembacaan puisi dari sastrawan Tedi Kusyairi, Sri Wijayati, Sunawi, Fathia Jayanti, penampilan spesial dari grup “Duo Ordo”, dan masih banyak lagi. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar