Influenza A, Infeksi Virus Jauh Lebih Berbahaya

6 Min Read
Woman wrapped in a green blanket on a couch, blowing her nose with a tissue. Table with tea, fruit, and tissues nearby; sick at home.
Kasus Influenza A saat ini tengah menjadi pembicaraan sekaligus kekhawatiran tersendiri bagi orang tua yang memiliki balita maupun anak-anak. (Ilustrasi Foto: Istimewa)

Mabur.co –   Hampir semua orang pernah mengalami flu. Demam tiba-tiba, badan pegal, tenggorokan sakit, hidung tersumbat, lalu sembuh dalam beberapa hari.

Karena sering dianggap ringan, flu kerap tidak mendapat perhatian serius, bahkan sering ditangani sendiri tanpa pemeriksaan ke dokter.

Padahal, di balik kata “flu” yang sederhana itu, ada jenis infeksi virus yang jauh lebih berbahaya: Influenza A. Berbeda dari flu biasa yang cenderung ringan dan sembuh sendiri, Influenza A dapat berkembang menjadi komplikasi serius seperti pneumonia, gagal napas, bahkan kematian, terutama pada kelompok rentan.

Klasifikasi Virus

Dilansir dari Kemenkes, Minggu (20/9/2026), virus influenza diklasifikasikan menjadi empat tipe utama berdasarkan karakteristik protein internalnya: A, B, C, dan D.

Di antara keempatnya, influenza A dan B bertanggung jawab atas epidemi musiman, dengan influenza A memiliki potensi menyebabkan pandemi karena kemampuannya mengalami antigenic shift dan drift.

Inilah yang membuat Influenza A secara khusus mendapat perhatian lebih dari para ahli kesehatan dunia. Sementara Influenza B lebih stabil dan cenderung hanya menyebabkan wabah lokal, Influenza A terus berevolusi secara agresif dan memiliki kemampuan untuk menyeberang dari hewan ke manusia.

Influenza A diberi nama berdasarkan dua protein kunci di permukaannya: Hemagglutinin (H) dan Neuraminidase (N).

Kedua protein ini menentukan bagaimana virus menginfeksi sel tubuh dan bagaimana ia dilepaskan untuk menginfeksi sel berikutnya. Kombinasi dari 18 subtipe H dan 11 subtipe N menghasilkan banyak kemungkinan varian virus.

Subtipe influenza A yang saat ini bersirkulasi secara rutin pada manusia adalah A(H1N1) dan A(H3N2). Namun selain keduanya, ada subtipe yang berasal dari hewan dan sesekali menginfeksi manusia, seperti H5N1 yang dikenal sebagai flu burung dengan tingkat kematian yang sangat tinggi.

Dua mekanisme inilah yang menjadi kunci mengapa Influenza A begitu sulit dikendalikan secara permanen.

Evolusi Virus

Dua mekanisme utama yang mendorong evolusi virus influenza A adalah antigenic drift dan antigenic shift. Antigenic drift terjadi akibat mutasi titik yang terakumulasi secara bertahap dalam genom virus, khususnya pada situs antigenik dari glikoprotein permukaan hemagglutinin (HA) dan neuraminidase (NA).

Proses ini terjadi perlahan namun terus-menerus, sehingga bahkan orang yang pernah terinfeksi atau divaksin bisa terinfeksi kembali oleh varian yang sedikit berbeda.

Sementara itu, antigenic shift adalah perubahan mendadak yang besar pada virus influenza A, menghasilkan virus flu baru atau “novel” yang menginfeksi manusia.

Ini bisa terjadi ketika materi genetik dari dua virus flu bergabung membentuk virus dengan subtipe baru atau campuran gen dari hewan.

Antigenic shift inilah yang memicu pandemi, seperti yang terjadi pada pandemi flu 1918 (H1N1) dan pandemi flu babi 2009 (H1N1pdm09).

Virus influenza dapat ditularkan dari mulut atau hidung orang yang terinfeksi melalui droplet ketika mereka berbicara, batuk, dan bersin.

Virus juga dapat menular ketika seseorang menyentuh benda yang terkontaminasi virus flu kemudian menyentuh mulut, hidung, atau matanya.

Gejala mulai muncul 1 hingga 4 hari setelah infeksi dan biasanya berlangsung sekitar satu minggu. Namun yang perlu diwaspadai adalah seseorang sudah bisa menularkan virus bahkan sebelum gejala muncul, sekitar satu hari sebelum sakit, dan tetap menular hingga 5 hingga 7 hari setelah gejala pertama.

Ini membuat pencegahan penularan menjadi lebih sulit karena orang yang tampak sehat pun bisa menjadi sumber infeksi.

Serupa Infeksi Saluran Napas Biasa

Salah satu tantangan terbesar dalam mengenali Influenza A adalah gejalanya yang di awal sangat menyerupai infeksi saluran pernapasan biasa. Namun ada perbedaan kunci yang perlu diperhatikan.

Flu biasa umumnya berkembang secara bertahap dalam satu hingga dua hari, dimulai dari hidung tersumbat atau berair, bersin-bersin, sedikit nyeri tenggorokan, dengan demam yang biasanya ringan atau bahkan tidak ada.

Influenza A, di sisi lain, ditandai dengan onset akut demam, batuk, nyeri tenggorokan, nyeri tubuh, dan kelelahan. Onset yang mendadak dan intens ini adalah ciri khas yang membedakannya. Penderita Influenza A sering menggambarkan kondisinya seperti “tiba-tiba tertabrak truk”.

Sementara itu, Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. DR. Dr. Anggraini Alam menjelaskan bahwa proses infeksi influenza dimulai ketika virus berhasil menembus pertahanan awal saluran pernapasan manusia.

Begitu memasuki tubuh, virus influenza bertindak bagaikan peretas genetik.

Prof. Anggraini mengatakan, infiltrasi virus dan reaksi peradangan itulah yang mendasari munculnya serangkaian gejala khas influenza.

Berbeda dari selesma yang umumnya hanya menimbulkan pilek ringan, gejala influenza menyerang secara sistemik atau menyeluruh ke seluruh organ tubuh.

Perjalanan penyakit ini dimulai dari fase inkubasi yang sangat singkat. Seseorang yang terinfeksi akan segera merasakan demam tinggi, dilanjutkan dengan rasa nyeri hebat di sekujur tubuh akibat respons imun di pembuluh darah.

“Jadi tanda dan gejalanya itu mulai dengan adanya, mulai dari inkubasi, masuk si virusnya, mulailah ada demam. Kemudian diikuti dengan nyeri-nyeri tubuh, ini karena dia sudah sistemik ke badan kita. Kemudian ini bisa ada nyeri tenggorokan juga,” jelasnya. ***

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar