Digelar di Alun-alun, Festival Ketoprak DIY Hidupkan Semangat Ketoprak Tobong 

3 Min Read
Actors in traditional costumes perform a forest-scene on a dark stage; two women stand center while others sit or pose around them.
Festival Ketoprak DIY yang digelar di Alun-alun Sewadanan, Pura Pakualaman, Yogyakarta. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Suasana berbeda terasa dalam Festival Ketoprak DIY pada 7-8 Agustus 2026 ini. Ajang kompetisi seni tradisi yang biasanya berlangsung di dalam gedung itu, kali ini tampil di ruang terbuka tepatnya di kawasan Alun-alun Sewandanan, Pura Pakualaman, Yogyakarta.

Meski tidak berlangsung di gedung auditorium pertunjukan seni yang megah, namun panggung pertunjukan festival ketoprak ini nampak tetap memakau. Background panggung, penataan cahaya, gamelan, hingga kostum dan adegan para pemain membuat suasana festival ketoprak nampak semarak.

Dengan digelar di kawasan alun-alun yang terbuka, pertunjukan pun bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat tanpa terbatas pada sekat tembok atau kursi penonton. Di sini para penonton nampak bisa menyaksikan ketoprak dari berbagai sudut yang ada.

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY sendiri memang sengaja mengubah lokasi festival ketoprak di tahun ini. Jika sebelumnya pertunjukan digelar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, maka tahun ini panggung dipindahkan ke Alun-alun Sewandanan.

Ruang Publik sebagai Ruang Kebudayaan

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Pemeliharaan dan Pengembangan Adat, Tradisi, Lembaga Budaya, dan Seni Dinas Kebudayaan DIY, Rully Andriadi, mengatakan, perpindahan lokasi tersebut merupakan bagian dari strategi membawa seni tradisi lebih dekat kepada masyarakat.

“Ini merupakan strategi Dinas Kebudayaan DIY untuk membawa seni pertunjukan tradisi lebih dekat kepada masyarakat melalui pemanfaatan ruang publik sebagai ruang kebudayaan,” ujar Rully, Sabtu (8/8/2026).

Pemilihan alun-alun juga bukan tanpa alasan. Ruang terbuka dianggap memiliki karakter yang lebih dekat dengan sejarah perkembangan pertunjukan rakyat, termasuk ketoprak tobong yang dahulu digelar di lapangan dan menjadi hiburan masyarakat.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, mengatakan konsep tersebut dilakukan untuk membawa festival langsung ke tengah-tengah masyarakat. Konsep “jemput bola” ini dilakukan agar masyarakat tidak harus datang ke gedung kesenian untuk menikmati pertunjukan, tetapi ketoprak yang hadir langsung di tengah ruang kehidupan mereka.

“Baru kali ini kami mengusung Festival Ketoprak di ruang publik, di ruang yang penuh historis. Kami ingin menjemput bola menghadirkan ketoprak langsung di tengah masyarakat,” katanya.

Di lokasi yang memiliki nilai sejarah tersebut, pertunjukan ketoprak juga menjadi cara untuk mempertemukan seni, sejarah dan masyarakat.

Apalagi tema Festival Ketoprak DIY 2026 mengangkat Mataram Pasca-Perjanjian Giyanti, sehingga suasana kawasan Pura Pakualaman turut memperkuat konteks sejarah yang dibawa ke atas panggung.

Dian berharap, penggunaan ruang terbuka semacam ini tidak hanya berhenti pada penyelenggaraan tahun ini saja.

Ke depan, Festival Ketoprak juga diharapkan tetap melibatkan masyarakat dan berbagai sektor sehingga tidak hanya menjadi kompetisi antarkelompok seni.

“Harapannya, ke depan semakin banyak pihak yang terlibat sehingga Festival Ketoprak tidak hanya menjadi perayaan seni pertunjukan, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi budaya yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat,” ujarnya.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar