Mabur.co – Gedung Bank Indonesia dikenal memiliki bentuk arsitektur unik bergaya Indo-Eropa khas peninggalan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.
Sebelum bernama Bank Indonesia, dulu bank ini bernama De Javasche Bank yang merupakan salah satu bank terkemuka pada masa kolonial Belanda.
Bank ini pertama kali didirikan di Batavia pada 24 Januari 1828. Selain berkantor pusat di Batavia, De Javasche Bank juga memiliki banyak cabang di berbagai kota.
20 Cabang
Total ada 20 cabang De Javasche Bank berdiri di berbagai wilayah Hindia Belanda saat itu, baik pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, hingga sulawesi
Dilansir dari buku “Merangkum Manikam, Gedung-gedung Bersejarah Bank Indonesia” yang diterbitkan Bank Indonesia tahun 2023, gedung-gedung De Javasche Bank yang dibangun pada awal abad ke-20 dirancang dengan gaya arsitektur berbeda, menyesuaikan karakter kota dan lingkungan tempatnya berdiri.
Arsitek asal Belanda Ed. Cuypers merupakan sosok penting di balik pembangunan gedung De Javasche Bank di berbagai daerah.
Tidak Terpaku Satu Gaya Arsitektur
Cuypers dikenal menggunakan pendekatan eklektik sehingga tidak terpaku pada satu gaya arsitektur saja.
Dalam rancangan gedung De Javasche Bank, Cuypers menggunakan struktur sederhana berbahan beton bertulang.
Denah bangunan umumnya simetris dan dipengaruhi langgam Beaux-Arts.

Salah satu ciri yang menonjol adalah penggunaan kolom-kolom besar pada bagian depan bangunan.
Di mana jendela ditempatkan di antara kolom dan dibuat lebih masuk ke dalam dinding untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung ke ruang dalam.
Berdasarkan Karakter Kota
Namun, tampilan luar gedung tidak dibuat seragam. Cuypers membaginya ke dalam beberapa pendekatan berdasarkan karakter kota.
Untuk kota-kota dagang seperti Medan, Makassar dan Bandung, Cuypers menggunakan pendekatan Neoklasik Inggris.
Gaya ini menonjolkan kesan kokoh dan formal yang sesuai dengan fungsi gedung sebagai lembaga keuangan.
Kolom besar dan komposisi bangunan yang simetris menjadi bagian penting dari tampilannya.
Kawasan Kerajaan Bergaya Imperial
Berbeda dengan kota dagang, gedung De Javasche Bank di kawasan kerajaan atau vorstenlanden seperti Surakarta, Yogyakarta, Banda Aceh dan Cirebon menggunakan pendekatan bergaya imperial atau empire style.
Gaya tersebut memberikan kesan monumental sekaligus menunjukkan posisi penting bangunan.
Unsur dekorasi klasik tetap digunakan, tetapi dipadukan dengan kekayaan budaya setempat.
Sementara itu, gedung De Javasche Bank di Jakarta dan Surabaya menggunakan pendekatan Beaux-Arts.
Ciri utamanya terlihat pada penggunaan tiang bergaya Yunani dan tympanum, yaitu bidang segitiga pada bagian atas fasad yang biasanya dihiasi ornamen klasik.
Meski membawa pengaruh Eropa, desain bangunan tetap dapat memasukkan unsur dekorasi yang diselaraskan dengan kebudayaan lokal.

Pendekatan berbeda di setiap daerah menunjukkan bahwa Cuypers tidak menerapkan satu desain yang sama untuk seluruh gedung De Javasche Bank.
Ia menggunakan prinsip dasar yang serupa, tetapi memberikan karakter berbeda sesuai konteks kota. Karena itu, gedung-gedung DJB memiliki identitas arsitektur masing-masing.
Dari sekitar 20 gedung yang pernah dibangun Cuypers dan bironya, sejumlah bangunan kini sudah hilang atau berubah kepemilikan.
Dua gedung di Makassar dan Palembang telah lenyap, sedangkan tiga lainnya di Manado, Banjarmasin dan Pontianak telah mengalami perubahan besar.
Sebagian lainnya juga berpindah kepemilikan, termasuk gedung DJB Semarang Kota Lama dan Semarang Bojong.
Hingga saat ini hanya tinggal 11 gedung masih bertahan dalam kondisi utuh dan berada dalam kepemilikan Bank Indonesia.
