Bagaimana Masa Depan Pelestarian Sastra Jawa bagi Generasi Muda?

3 Min Read
Male performer in a green batik shirt and patterned sarong speaks into a microphone on stage at a Bahasa dan Sastra event.Backdrop features logos and event text, purple gradient with decorative designs.
Kegiatan mendongeng berbahasa Jawa dalam kompetisi Bahasa dan Sastra (Basas) tahun 2024, yang menjadi salah satu upaya pelestarian bahasa Jawa di kalangan generasi muda (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Dunia penulisan sastra, khususnya sastra berbahasa daerah (Jawa, Sunda, Bali, dan seterusnya), terus menghadapi tantangan yang semakin sulit dalam beberapa dekade terakhir, khususnya di tengah kemajuan teknologi yang semakin masif dan tak terkendali.

Untuk saat ini pun, peminat sastra berbahasa daerah kebanyakan hanya digeluti oleh segelintir orang saja, yang usianya pun sudah tergolong sepuh.

Menurut pemerhati sastra yang juga kurator karya sastra Jawa, Margaret Widhy Pratiwi, pelestarian sastra Jawa memang menghadapi tantangan serius dalam beberapa dekade terakhir, termasuk dengan hadirnya teknologi AI (Artificial Intelligence) seperti saat ini.

Meskipun zaman sudah berbeda jauh dan selalu berubah dari waktu ke waktu, namun Widhy menganggap, sastra Jawa masih memiliki areanya sendiri di benak masyarakat.

Karena ia meyakini, penulisan sastra (termasuk dalam bahasa daerah) adalah potret dari keberlangsungan setiap zaman. Di mana setiap zaman akan selalu melahirkan karya beserta pelakunya masing-masing.

“Ini menjadi tanggung jawab kita (untuk melestarikan sastra Jawa di kalangan generasi muda), sebagai pengarang senior, untuk melanjutkan tradisi penulisan (karya sastra Jawa) ini, tradisi literasi kepada anak-anak muda. Saya akui zamannya memang sudah berbeda, karena kembali lagi, yang namanya karya (termasuk sastra Jawa) itu adalah potret dari suatu zaman. Jadi, zaman akan melahirkan karya beserta orang-orangnya, (sastrawan),” ungkap Widhy, panggilan akrabnya, dalam acara Selasa Sastra yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Bang Tedi Way, beberapa waktu lalu.

Menyisipkan Pesan Moral

Salah satu kurator dari antologi cerkak berjudul “Hotel Indah” karya Bambang Nugroho ini menambahkan, setiap karya sastra Jawa hendaknya selalu memiliki pesan moral dan sosial di dalamnya. Karena sastra Jawa juga berfungsi sebagai pembawa pesan-pesan kebaikan (pendidikan), di samping menghibur atau membuat orang tertawa, dan seterusnya.

Itu artinya, di setiap zaman apa pun, karya sastra Jawa maupun bahasa daerah lainnya harus mampu menyisipkan pesan moral tertentu, yang mengandung nilai-nilai kebaikan, dan layak dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya melihat bahwa pengarang (karya sastra Jawa) itu memiliki fungsi sosial. Setiap konflik yang dibuat di dalam setiap cerita (dalam karya sastra Jawa berupa cerkak), pengarang atau sastrawan perlu menyampaikan kebenaran, nilai-nilai kebaikan. Jadi ada pesan moral yang harus diberikan dalam setiap karya sastra yang dibuat,” lanjut Widhy.

Dengan kontemplasi semacam itu, Widhy meyakini bahwa masa depan sastra Jawa, maupun karya sastra dalam bahasa daerah lainnya, akan tetap lestari dan bertahan mengikuti zaman secanggih apa pun di masa depan.

Karena lagi-lagi, sastra adalah sesuatu yang menjadi potret suatu zaman. Sehingga ia (sastra) tidak akan pernah lekang oleh zaman apa pun, apalagi ikut hanyut bersama zaman itu sendiri. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar