Perkuat Pendidikan Berbasis Kearifan Lokal, Disdikpora dan DPRD Kota Yogyakarta Dorong Pelajar Gunakan Bahasa Jawa Krama Inggil

5 Min Read
Two scouts sit on the floor playing a colorful tile game about Javanese script; a poster reads 'AYO SINAU AKSARA JAWA' nearby.
Guna memperkuat pendidikan berbasis kearifan lokal di lingkungan sekolah, salah satu gagasan yang tengah didorong ialah membiasakan pelajar menggunakan bahasa Jawa Krama Inggil selama satu hari dalam sepekan. (Ilustrasi Foto: Istimewa)

Mabur.co – Guna memperkuat pendidikan berbasis kearifan lokal di lingkungan sekolah, salah satu gagasan yang tengah didorong ialah membiasakan pelajar menggunakan bahasa Jawa Krama Inggil selama satu hari dalam sepekan.  

Pemerintah Kota Yogyakarta, melalui Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta bersama DPRD Kota Yogyakarta, menyebut kebijakan tersebut menyasar pelajar jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Yogyakarta.

Diintegrasikan ke PKJ

Penerapannya akan diintegrasikan ke dalam Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ), sehingga tidak menjadi mata pelajaran tambahan bagi siswa.

Plt Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta, Agus Trimadi, menilai keberhasilan pendidikan tidak seharusnya hanya dilihat dari pencapaian akademik siswa.

“Pembentukan karakter merupakan bagian penting dalam proses pendidikan. Karena itu, Pendidikan Khas Kejogjaan diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat karakter sekaligus mempertahankan identitas budaya pelajar di Kota Yogyakarta,” ucapnya, Jumat (14/8/2026).

Agus mengatakan, keberhasilan pendidikan itu tidak hanya dinilai dari angka akademik, tetapi karakter juga menjadi bagian utama. Ciri khas pelajar Kota Yogyakarta harus berbeda dengan daerah lain melalui Pendidikan Khas Kejogjaan.

“Jika benar-benar diterapkan, pembiasaan berbahasa Jawa Krama Inggil satu hari dalam sepekan nantinya bukan hanya menjadi agenda penggunaan bahasa daerah di sekolah. Kebijakan ini juga diharapkan menjadi ruang untuk mengenalkan kembali nilai unggah-ungguh sekaligus membangun kebiasaan berkomunikasi yang lebih santun di kalangan generasi muda Yogyakarta,” ucapnya.

Ketua Dewan Pendidikan Kota Yogyakarta, Khamim Zarkasih Putro, memberikan dukungan dan apresiasi penuh kepada Pemerintah Kota Yogyakarta dan Dinas Pendidikan atas inisiatif penerapan “Satu Hari Berbahasa Jawa Krama Inggil” di satuan pendidikan SD hingga SMP.

“Dewan Pendidikan memandang program ini sebagai langkah strategis dan sangat relevan. Yogyakarta adalah Barometer Budaya Bangsa. Jika di rumahnya sendiri bahasa halusnya punah, maka kita kehilangan salah satu pilar utama jati diri bangsa,” ucapnya.

Khamim mengatakan, bahasa Jawa Krama Inggil bukan sekadar kosa kata. Di dalamnya terkandung nilai unggah-ungguh, tepo seliro, andhap asor, dan etika.

“Ini adalah substansi dari Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) yang selama ini kita perjuangkan,” katanya.

Khamim menilai dalam program ini, bertujuan untuk memperkuat karakter lewat Krama Inggil, anak belajar menghormati guru, orang tua, dan sesama. Ini jawaban atas tantangan degradasi moral dan perundungan di sekolah.

Jangkar Budaya

Menurut Khamim pula, di tengah arus globalisasi, anak-anak harus punya jangkar budaya yakni menguasai 3 bahasa: Indonesia, Inggris, dan Jawa Krama. Sebagai bentuk anak yang berkarakter kosmopolitan namun berakar.

“Program ini memberi ruang bagi sekolah untuk berinovasi. Tidak kaku, bisa dikemas lewat lagu dolanan, drama, konten digital, agar anak tidak merasa dipaksa,” katanya.

Khamim mengatakan pula, agar program berjalan efektif dan tidak menjadi seremonial, Dewan Pendidikan merekomendasikan yakni Guru,Kepala Sekolah, hingga penjaga sekolah harus jadi contoh karena anak belajar dari yang ia lihat.

“Kita sebagai orang tua harus bisa membuat kamus mini krama di rumah, agar pembiasaan berlanjut di luar sekolah,” katanya.

Oleh sebab itu, perlu diberikan apresiasi kepada sekolah, guru, dan siswa yang paling kreatif menerapkan PKJ melalui bahasa.

”Para guru harus melakukan monitoring setiap 6 bulan untuk melihat dampaknya terhadap sikap dan karakter siswa,” katanya.

Memperkuat Identitas Budaya

Sementara itu, Sekretaris Komisi D DPRD Kota Yogyakarta, Solihul Hadi, mengatakan kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X untuk semakin memperkuat identitas budaya di wilayah Yogyakarta

“Kami di Kota Yogyakarta menindaklanjuti dawuh Ngarsa Dalem untuk menerapkan satu hari dalam satu minggu di sekolah menggunakan bahasa Jawa Krama Inggil. Ini bagian dari penguatan Pendidikan Khas Kejogjaan,” ujarnya. 

Solihul menegaskan, penggunaan bahasa Jawa Krama Inggil nantinya tidak akan mengubah bahasa pengantar pembelajaran di sekolah. Buku pelajaran dan penyampaian materi tetap menggunakan bahasa Indonesia.

“Bahasa Jawa Krama Inggil lebih diarahkan untuk digunakan dalam komunikasi dan interaksi sehari-hari di lingkungan sekolah. Misalnya, ketika siswa berbicara dengan guru maupun saat berkomunikasi dengan sesama siswa,” katanya.

Solihul menuturkan, rencananya, pembiasaan tersebut juga akan berjalan beriringan dengan penggunaan pakaian adat gagrak Ngayogyakarta yang selama ini diterapkan setiap Kamis Pon.

Penggunaan berbahasa Jawa secara halus bukan sekadar upaya melestarikan bahasa daerah. Lebih jauh, kebijakan tersebut diharapkan dapat membentuk unggah-ungguh, etika, dan perilaku siswa sejak usia dini.

“Penggunaan bahasa Jawa Krama Inggil itu otomatis mengatur strata berbahasa dan membentuk pola perilaku,” jelasnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar