Mabur.co –Buku Tahta, Darma, dan Karsa: Pemikiran, Karya, dan Keteladanan Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengku Buwono IX baru saja diluncurkan di momen peringatan Hari Pramuka.
Buku ini menyimpan rangkuman semua pemikiran dan keteladanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam membangun Gerakan Pramuka di Indonesia.
Diluncurkan di Auditorium Sukarman, Perpustakaan Nasional RI, Jakarta Pusat, Kamis (13/8/2026), buku yang ditulis Harto Juwono dan Anis Ilahi Wahdati ini tidak sekadar menghadirkan biografi Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Menelusuri Sejarah Membangun Pramuka
Namun juga secara khusus menelusuri sejarah pemikiran dan kiprah HB IX dalam perjuangan membangun Gerakan Pramuka Indonesia selama dua dekade, mulai 1941 hingga 1961.
Dilansir laman resmi Pemda DIY, Sabtu (15/8/2026), Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan, buku tersebut menjadi upaya untuk menerjemahkan perjalanan hidup HB IX menjadi sebuah kurikulum moral yang dapat dipelajari generasi saat ini.
Menurutnya, generasi yang tidak sempat bertemu langsung dengan HB IX tetap dapat mengenal cara berpikir dan sikap yang ditunjukkan tokoh yang dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia tersebut.
“Buku ini menjadi jangkar bagi anggota Gerakan Pramuka di seluruh Indonesia. Bukan untuk mengagumi masa lalu, melainkan untuk menghidupkan nilainya di masa kini,” kata Sultan.
Ia menilai, keteladanan HB IX masih relevan dengan tantangan Gerakan Pramuka saat ini. Salah satunya adalah kemampuan membaca situasi secara utuh sebelum mengambil keputusan.
Sri Sultan mencontohkan prinsip yang pernah ditunjukkan HB IX ketika menyampaikan pidato bertajuk The Trend in Scouting di hadapan Kongres Kepanduan Dunia di Tokyo, Jepang, pada 1971.
Kepanduan Indonesia Dibangun Tanpa Pamrih
Dalam pidato tersebut, HB IX menegaskan bahwa kepanduan Indonesia dibangun atas semangat pengabdian tanpa pamrih.
Menurut Sri Sultan, semangat tersebut menggambarkan karakter kepemimpinan HB IX yang tidak hanya mengandalkan pengetahuan, tetapi juga kepekaan dalam memahami keadaan.
Kepekaan tersebut, kata dia, harus tetap disertai kehati-hatian dan analisis yang jernih sebelum mengambil tindakan.
“Kecepatan tanpa kejernihan adalah kecerobohan yang dipercepat,” ujarnya.
Bagi Sri Sultan, nilai tersebut menjadi salah satu pesan penting yang dapat diwariskan melalui buku Tahta, Darma, dan Karsa. Buku tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai dokumentasi sejarah, tetapi menjadi bahan refleksi bagi anggota Pramuka dan generasi muda.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, mengatakan peluncuran buku tersebut penting di tengah tantangan generasi muda yang menghadapi penurunan penghayatan terhadap nilai-nilai kehidupan.
Ia menilai, pemikiran para tokoh pendiri bangsa perlu kembali diperkenalkan kepada generasi muda. Gerakan Pramuka dapat menjadi salah satu sarana untuk menanamkan nilai kebangsaan, nasionalisme, dan kecintaan terhadap tanah air.
“Melalui buku ini, saya antusias untuk kita semua bersama-sama membangunkan kembali semangat kebangsaan, nasionalisme, cinta tanah air, dengan Pramuka sebagai sarananya,” kata Abdul Mu’ti.
Dasa Darma Pramuka Penting untuk Generasi Muda
Ia menyebut, Kemendikdasmen telah menetapkan Pramuka sebagai ekstrakurikuler wajib di seluruh jenjang pendidikan. Menurutnya, nilai dalam Dasa Darma Pramuka yang berlandaskan Pancasila penting untuk terus ditanamkan kepada generasi muda.
Peluncuran buku Tahta, Darma, dan Karsa juga menjadi momentum untuk kembali melihat perjalanan panjang Gerakan Pramuka dari sisi pemikiran tokoh yang memiliki peran penting dalam perkembangannya.
Buku ini diharapkan menjadi jembatan bagi generasi sekarang untuk memahami apa saja yang telah dilakukan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, sekaligus juga nilai, pertimbangan, dan cara berpikir yang melandasi pengabdiannya.
