Belajar Bersama Maestro: Dorong Transfer Pengetahuan Tradisi Bambu kepada Generasi Muda

5 Min Read
Assorted bamboo sticks laid out in parallel on a tiled floor, with one long bamboo pole crossing them diagonally.
Pletokan adalah permainan tradisional yang terbuat dari bambu, dimainkan dengan peluru dari kertas basah layaknya senapan yang digunakan untuk menembak. (Ilustrasi Foto: Istimewa)

Mabur.co – Wujudkan upaya merawat ekosistem seni dan pengembangan talenta budaya, Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi selenggarakan “Pagelaran & Syukuran Belajar Bersama Maestro Bambu dan Senam Kebudayaan Indonesia” dengan tema Serumpun Bambu, Sejuta Karya.

Dalam rilis yang diterima mabur.co, Sabtu (15/8/2026) sore dijelaskan, berlangsung di Yayasan Bambu Indonesia, Cibinong, kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian penutup proses pembelajaran peserta bersama Maestro Kriya Bambu Jatnika Nanggamiharja selama 30 hari.

Group of diverse Indonesian people posing for a photo at an outdoor cultural event, standing in front of a banner that reads 'Pagelaran & Syukuran', with many placing a hand on the chest in a ceremonial gesture.
Suasana pagelaran dan syukuran ‘Belajar Bersama Maestro’ yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan. Foto: Dok. Kemenkebud

“Pagelaran & Syukuran Belajar Bersama Maestro Bambu dan Senam Kebudayaan Indonesia” turut menjadi ruang untuk memperkenalkan hasil pembelajaran lima peserta program Belajar Bersama Maestro (BBM) Kriya Bambu 2026 bersama Maestro Jatnika Nanggamiharja, yakni persembahan karya berupa rumah panggung dari bambu atau Saung Ranggon.

Hasil karya tersebut diresmikan secara langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, disaksikan oleh Maestro Jatnika Nanggamiharja dan Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara dengan keragaman budaya yang sangat kaya.

Peradaban Bambu

Menurut Menbud, ragam ekspresi budaya tersebut perlu digali untuk menumbuhkan rasa penghargaan terhadap akar budaya sendiri, termasuk budaya seni kriya yang menggunakan bahan bambu.

“Bambu ini sangat akrab dengan peradaban kita, mulai dari rumah bambu hingga manuskrip bambu. Karena kita hidup dengan alam, jadi bambu adalah salah satu peradaban yang sudah menjadi medium hidup bersama sejak lama. Selain itu, bambu juga digunakan untuk kehidupan sehari-hari, misalnya untuk perkakas rumah tangga, bahkan untuk perjuangan pun kita menggunakan bambu, yaitu bambu runcing,” jelas Menteri Fadli.

Menteri Kebudayaan turut menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai varietas bambu paling banyak di dunia.

Melalui program Belajar Bersama Maestro, generasi muda dapat mempelajari cara melakukan perawatan, pengawetan dan pengolahan bambu dari ahlinya langsung, sebab bambu merupakan bahasa kebudayaan dan berfungsi sebagai penggerak nilai ekonomi.

“Kita harapkan para maestro dan senior-senior, pengalamannya, pengetahuannya, wisdomnya, perlu disalurkan, dibagi, di-share kepada generasi muda. Karena memang bambu ini memerlukan perawatan, memerlukan pengawetan yang luar biasa, dan adik-adik peserta dari Belajar Bersama Maestro di tempat ini belajar soal kriya bambu,” papar Menbud Fadli.

Menguatkan pernyataan Menteri Kebudayaan, Maestro Jatnika Nanggamiharja menjelaskan bahwa bambu merupakan bahan seni kriya yang sarat akan sejarah dan budaya.

“Indonesia adalah negara budaya dan ekonomi kreatif bambu terbanyak di dunia. Banyak karya yang dibuat dari bambu, mulai dari angklung, anyaman, peralatan, mebel, obat-obatan, makanan, hingga konstruksi,” tegas Maestro Jatnika.

“Pagelaran & Syukuran Belajar Bersama Maestro Bambu dan Senam Kebudayaan Indonesia” turut menghadirkan pentas budaya seperti angklung, pencak silat, Senam Kebudayaan Indonesia, serta pentas kacapi suling dan mantra Sunda atau pituduh kahirupan yang dibawakan oleh peserta BBM bersama Jatnika Nanggamiharja.

Program Belajar Bersama Maestro (BBM) merupakan program di bawah Direktorat Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual, Kementerian Kebudayaan RI, yang memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk belajar secara langsung bersama para maestro melalui proses residensi selama 30 hari.

Maestro Rekanan Kemenkebud

Pada tahun ini, peserta dapat memilih untuk belajar bersama enam maestro dari berbagai bidang seni dan budaya, yaitu Ahmad Tohari (Sastra), Sulistyo Tirtokusumo (Tari Bedhaya), Jatnika Nanggamiharja (Kriya Bambu), Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto (Randai), I Gusti Nengah Nurata (Lukis), serta Jaja Miharja yang berkolaborasi dengan Sanggar Sinar Jaya (Lenong Betawi).

Selama program berlangsung, peserta menjalani residensi di daerah tempat maestro berkarya, yaitu Banyumas, Jakarta, Bogor, Padang Panjang, dan Karanganyar.

Turut hadir dalam kesempatan ini Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi; Ajudan Presiden RI, Brigjen TNI Angkatan Udara Anton Palaguna; Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Negeri Saint Petersburg, Connie Rahakundini Bakrie; Ketua Komisi Pengawasan Persaingan Usaha, Nasrullah; Anggota DPRD Povinsi Jawa Barat, Ricky Kurniawan; Maestro Kriya Bambu, Jatnika Nanggamiharja; Maestro Tari Bedhaya, Sulistyo Tirtokusumo; Maestro Lenong Betawi, Jaja Miharja; budayawan Adi Bing Slamet, peserta program BBM Kriya Bambu, pegiat budaya, seniman, dan komunitas bambu Cibinong dan Cimande. ***

Share This Article
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar